Tampilkan postingan dengan label Sumber Daya Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumber Daya Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juni 2025

Biodiesel dari Limbah Minyak Jelantah: Solusi Energi dan Lingkungan

Pendahuluan

Minyak goreng bekas atau minyak jelantah seringkali dianggap limbah yang tidak berguna. Padahal, jika dikelola dengan benar, minyak jelantah bisa diubah menjadi biodiesel, sebuah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan dapat digunakan untuk menggantikan solar berbasis fosil. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi biodiesel bukan hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga berkontribusi besar terhadap pengurangan limbah rumah tangga dan pencemaran lingkungan.


Apa Itu Biodiesel dari Jelantah?

Biodiesel dari jelantah adalah bahan bakar nabati yang diproduksi melalui proses transesterifikasi dari minyak goreng bekas. Proses ini mengubah trigliserida dalam minyak jelantah menjadi metil ester asam lemak (FAME) yang bisa digunakan langsung atau dicampur dengan solar pada mesin diesel.


Mengapa Menggunakan Minyak Jelantah?

Manfaat Ganda: Energi dan Lingkungan

  • Mengurangi pencemaran air dan tanah akibat pembuangan minyak jelantah sembarangan.
  • Mengubah limbah menjadi sumber energi yang bernilai.
  • Menurunkan emisi karbon dan polusi udara dibandingkan dengan solar fosil.

Ketersediaan Melimpah

  • Di rumah tangga, restoran, hotel, hingga industri makanan, minyak jelantah merupakan limbah harian yang melimpah.

Proses Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah

  1. Pengumpulan
    Minyak jelantah dikumpulkan dari rumah tangga, restoran, hotel, dan industri.
  2. Penyaringan dan Pemurnian
    Minyak disaring dari kotoran padat dan diproses untuk menghilangkan air serta asam lemak bebas berlebih.
  3. Reaksi Transesterifikasi
    • Minyak jelantah dicampur dengan metanol dan katalis (biasanya NaOH atau KOH).
    • Reaksi kimia menghasilkan FAME (biodiesel) dan gliserol sebagai produk samping.
  4. Pemisahan dan Pencucian
    • Biodiesel dipisahkan dari gliserol, lalu dicuci untuk menghilangkan sisa katalis dan kontaminan.
  5. Pengeringan dan Uji Mutu
    • Biodiesel dikeringkan dari sisa-sisa air dan diuji kualitasnya sesuai standar, seperti SNI 7182:2015.

Keunggulan Biodiesel dari Jelantah

Keunggulan

Penjelasan

♻️ Ramah Lingkungan

Mengurangi limbah dan emisi GRK

💰 Biaya Rendah

Bahan baku (jelantah) murah dan mudah didapat

🚛 Kompatibel

Bisa digunakan pada mesin diesel konvensional

🔬 Inovatif

Mendorong ekonomi sirkular dan teknologi hijau

👥 Pemberdayaan Komunitas

Cocok untuk usaha kecil menengah dan koperasi desa


Tantangan dalam Produksi

1. Kualitas Jelantah yang Bervariasi

  • Kandungan air, kotoran, dan asam lemak bebas dapat memengaruhi kualitas dan rendemen biodiesel.

2. Skala Produksi

  • Masih banyak dilakukan dalam skala kecil atau industri rumahan; perlu teknologi murah dan efisien untuk produksi massal.

3. Regulasi dan Sertifikasi

  • Standarisasi dan sertifikasi kualitas perlu ditegakkan agar biodiesel aman dan stabil digunakan.

4. Sosialisasi dan Edukasi

  • Banyak masyarakat belum tahu bahwa minyak jelantah bisa dimanfaatkan sebagai biodiesel dan masih membuangnya sembarangan.

Peran Pemerintah dan Komunitas

  • Program bank jelantah: Mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga untuk didaur ulang.
  • Edukasi publik: Mengenalkan manfaat ekonomi dan lingkungan dari pengolahan biodiesel.
  • Inkubasi usaha kecil: Pemerintah dan NGO bisa membantu mendirikan unit produksi biodiesel skala komunitas.

Dampak Positif Sosial dan Ekonomi

  • Pemberdayaan ekonomi lokal: Masyarakat dapat menjual jelantah dan menghasilkan biodiesel sendiri.
  • Lapangan kerja baru: Dibutuhkan tenaga kerja untuk pengumpulan, penyaringan, produksi, dan distribusi biodiesel.
  • Ketahanan energi desa: Desa atau wilayah terpencil bisa menghasilkan bahan bakar sendiri tanpa ketergantungan dari solar impor.

Studi Kasus: Bank Jelantah di Jakarta

Di beberapa tempat di Provinsi DKI Jakarta, telah dibentuk Bank Jelantah yang mengumpulkan minyak bekas dari warga, lalu mengolahnya menjadi biodiesel. Biodiesel ini tentunya dapat digunakan untuk kendaraan operasional pemerintah dan dinas kebersihan. Program ini tentunya dapat mengurangi limbah minyak dan menciptakan pendapatan tambahan bagi masyarakat.


Bank Jelantah Cilangkap, Jakarta Timur WA: 085694924971


Kesimpulan

Biodiesel dari limbah minyak jelantah merupakan solusi berkelanjutan yang menjawab dua tantangan sekaligus: krisis energi dan pencemaran lingkungan. Potensinya besar, terutama di negara seperti Indonesia yang konsumsi minyak gorengnya tinggi. Dengan edukasi, teknologi tepat guna, serta dukungan pemerintah dan masyarakat, jelantah bisa menjadi emas cair baru dalam transisi menuju energi bersih dan berkeadilan.


Infografis Ringkas: Jelantah Jadi Biodiesel

Aspek

Penjelasan

Bahan Baku

Minyak goreng bekas (jelantah)

Proses

Transesterifikasi

Hasil

Biodiesel (FAME) + Gliserol

Dampak Lingkungan

Mengurangi limbah dan emisi karbon

Potensi

Bisa diproduksi skala rumahan dan komunitas

Standar Mutu

SNI 7182:2015

Penggunaan

Mesin diesel, genset, kendaraan

Biodiesel: Energi Alternatif dari Minyak Nabati Kelapa Sawit

Pendahuluan

Krisis energi dan perubahan iklim telah mendorong dunia untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu alternatif yang semakin banyak dikembangkan adalah biodiesel, bahan bakar terbarukan yang dapat menggantikan solar dari fosil. Di Indonesia, kelapa sawit (Elaeis guineensis) menjadi sumber utama dalam produksi biodiesel karena ketersediaannya yang melimpah dan produktivitasnya yang tinggi.


Apa Itu Biodiesel?

Biodiesel adalah bahan bakar yang dihasilkan dari reaksi transesterifikasi antara minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol (biasanya metanol), menggunakan katalis seperti natrium hidroksida (NaOH). Hasilnya adalah metil ester asam lemak (FAME - Fatty Acid Methyl Ester), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel.


Kelapa Sawit sebagai Bahan Baku Utama

Mengapa Kelapa Sawit?

Kelapa sawit menjadi pilihan utama dalam produksi biodiesel karena beberapa alasan:

  • Produktivitas tinggi: Produksi minyak sawit per hektar lebih tinggi dibandingkan tanaman lain seperti kedelai atau rapa.
  • Ketersediaan luas: Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
  • Stabilitas harga: Harga minyak sawit relatif lebih stabil dibandingkan minyak nabati lain.

Proses Produksi Biodiesel dari Kelapa Sawit

  1. Ekstraksi minyak sawit mentah (CPO) dari buah kelapa sawit.
  2. Pemurnian untuk menghilangkan kotoran dan asam lemak bebas.
  3. Transesterifikasi: Reaksi antara minyak sawit, metanol, dan katalis (biasanya NaOH).
  4. Pemisahan: Memisahkan biodiesel (metil ester) dari gliserol.
  5. Pemurnian akhir agar biodiesel memenuhi standar mutu (misalnya SNI 7182:2015).

Kelebihan dan Keunggulan Biodiesel Kelapa Sawit

1. Ramah Lingkungan

  • Mengurangi emisi karbon hingga 60–80% dibanding solar fosil.
  • Lebih mudah terurai (biodegradable) di alam.

2. Sumber Energi Terbarukan

  • Dapat diperbarui secara berkelanjutan melalui penanaman ulang kelapa sawit.

3. Mengurangi Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil

  • Diversifikasi energi nasional dan meningkatkan ketahanan energi.

4. Mendukung Ekonomi Lokal

  • Memberikan nilai tambah pada industri kelapa sawit.
  • Meningkatkan lapangan pekerjaan di sektor agrikultur dan energi.

Tantangan Produksi Biodiesel dari Kelapa Sawit

1. Isu Lingkungan

  • Pembukaan lahan kelapa sawit dapat menyebabkan deforestasi dan hilangnya keanekaragaman hayati.
  • Pengelolaan limbah dari pabrik biodiesel perlu diawasi ketat.

2. Kompetisi dengan Pangan

  • Penggunaan minyak sawit untuk biodiesel dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga minyak goreng di pasar domestik.

3. Biaya Produksi

  • Biaya bahan baku dan bahan kimia cukup tinggi jika tidak diimbangi dengan subsidi atau efisiensi proses.

Kebijakan dan Dukungan Pemerintah

Indonesia telah menerapkan program mandatori biodiesel B35, yaitu pencampuran 35% biodiesel ke dalam solar (B0). Pemerintah menargetkan pencampuran yang lebih tinggi (B40, B50) dalam beberapa tahun ke depan untuk menekan impor BBM dan mendorong transisi energi nasional.

Beberapa kebijakan pendukung lainnya:

  • Insentif fiskal untuk produsen biodiesel.
  • Dana Sawit (BPDPKS) untuk mendukung stabilisasi harga dan riset biodiesel.
  • Penelitian dan pengembangan (R&D) untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Dampak Ekonomi dan Sosial

  • Ekspor biodiesel menjadi sumber devisa penting.
  • Petani kelapa sawit rakyat dapat memperoleh keuntungan lebih dari diversifikasi produk.
  • Pengurangan subsidi BBM karena meningkatnya energi alternatif.

Kesimpulan

Biodiesel dari kelapa sawit merupakan solusi energi terbarukan yang potensial di Indonesia. Selain ramah lingkungan dan dapat diperbarui, biodiesel juga mendukung kemandirian energi nasional. Namun, keberhasilan pemanfaatannya memerlukan pengelolaan yang bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial, serta sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat.


Infografis Singkat

Biodiesel Kelapa Sawit di Indonesia

Aspek

Penjelasan

Bahan Baku

Minyak sawit mentah (CPO)

Proses Utama

Transesterifikasi

Produk

Fatty Acid Methyl Ester (FAME)

Emisi CO₂

Lebih rendah 60–80% dibanding solar

Program Nasional

Mandatori B35 (dan ke arah B40)

Produsen Terbesar

Indonesia

Manfaat

Energi bersih, ekspor, pendapatan petani

Potensi dan Persebaran Sumber Daya untuk Penyediaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan sumber daya alam sangat melimpah, termasuk dalam hal energi baru dan terbarukan (EBT). Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari proses alam yang berkelanjutan, seperti cahaya matahari, angin, air, panas bumi, dan biomassa. Sumber-sumber energi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena kondisi geografis, astronomis, dan geologisnya yang sangat mendukung.

Potensi Energi Air

Indonesia memiliki curah hujan tinggi dan topografi yang bervariasi, menghasilkan banyak aliran sungai yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Selain PLTA skala besar, terdapat juga potensi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang dapat digunakan di daerah terpencil. Selain menghasilkan energi bersih, pembangunan PLTA dan PLTMH juga dapat dikombinasikan dengan fungsi irigasi dan perikanan.

Potensi Energi Panas Bumi (Geothermal)

Indonesia berada di jalur cincin api (Ring of Fire), tempat pertemuan tiga lempeng tektonik besar. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas vulkanik dan keberadaan gunung berapi aktif, yang menjadi sumber energi panas bumi. Panas dari magma di dalam bumi dapat digunakan untuk memanaskan air dan menghasilkan uap yang digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Energi panas bumi pertama kali dikembangkan di Kawah Kamojang pada tahun 1918, dan saat ini terdapat 276 titik potensi panas bumi di seluruh Indonesia.

Potensi Energi Laut

Sebagai negara maritim, 75% wilayah Indonesia terdiri atas perairan. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi laut, seperti energi arus laut, pasang surut, gelombang laut, dan panas laut (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC). Beberapa lokasi dengan potensi arus laut tinggi antara lain Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Larantuka. Energi pasang surut potensial di Bagan Siapi-api, Teluk Palu, dan Teluk Bima. Energi gelombang laut potensial di sepanjang pantai selatan Jawa dan barat Sumatra. Potensi OTEC dimungkinkan oleh perbedaan suhu antara permukaan dan laut dalam.

Potensi Energi Surya

Letak Indonesia di sekitar khatulistiwa menjadikannya memiliki intensitas penyinaran matahari yang tinggi dan stabil sepanjang tahun. Radiasi sinar matahari harian rata-rata berkisar 4-5 kWh/m2. Pemanfaatan energi surya dapat dilakukan melalui dua sistem: sistem termal untuk pemanasan dan pengeringan, serta sistem fotovoltaik untuk menghasilkan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah dikembangkan di berbagai wilayah, seperti Karangasem dan Bangli di Bali.

Potensi Energi Angin

Iklim monsun di Indonesia menyebabkan adanya pola angin musiman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi angin atau bayu. Beberapa daerah dengan potensi angin tinggi berada di Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Pemerintah telah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) seperti PLTB Sidrap (70 MW) dan PLTB Jeneponto (65 MW). Energi angin juga dapat dikombinasikan dengan energi surya dalam sistem hibrid.

Potensi Bioenergi

Indonesia memiliki lahan luas dan iklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan tanaman penghasil bioenergi. Bioenergi berasal dari biomassa, yaitu bahan organik seperti tanaman, limbah pertanian, dan kotoran ternak. Jenis bioenergi antara lain:

  • Biomassa Padat: digunakan sebagai briket atau bahan bakar langsung.

  • Biodiesel: dihasilkan dari minyak nabati seperti kelapa sawit, jarak pagar, dan alga.

  • Bioetanol: dihasilkan dari fermentasi bahan kaya karbohidrat seperti jagung, tebu, ubi kayu, dan sagu.

  • Biogas: dihasilkan dari penguraian limbah organik secara anaerobik, menghasilkan gas metana untuk memasak atau pembangkit listrik.

PLT biomassa banyak dikembangkan di Sumatera dan Kalimantan, memanfaatkan limbah pertanian seperti limbah sawit dan sabut kelapa.

Energi Baru: Teknologi dan Inovasi

Selain energi terbarukan, terdapat pula sumber energi baru yang berasal dari teknologi pengolahan bahan tak terbarukan atau inovasi baru. Contohnya antara lain:

  • Batu bara tercairkan (liquified coal)

  • Batu bara tergaskan (gasified coal)

  • Gas metana batubara (coal bed methane)

  • Hidrogen

  • Energi nuklir

Energi-energi ini masih dalam tahap pengembangan teknologi dan kebijakan, namun berpotensi menjadi bagian dari bauran energi nasional di masa depan.

Kesimpulan

Dengan kekayaan alam dan kondisi geografis yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi baru dan terbarukan. Pengembangan EBT tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional dan pengurangan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan yang mendukung sangat diperlukan agar potensi EBT dapat dimanfaatkan secara maksimal dan berkelanjutan.

Bioetanol: Energi Alternatif Ramah Lingkungan dari Bumi Tropis

Pendahuluan

Permasalahan energi dan lingkungan menjadi isu global yang tak kunjung usai. Ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil seperti bensin dan solar mengakibatkan berbagai dampak negatif, mulai dari polusi udara hingga perubahan iklim. Di tengah krisis energi yang semakin mendesak, bioenergi muncul sebagai alternatif yang potensial. Salah satu bentuk energi terbarukan tersebut adalah bioetanol, bahan bakar nabati yang dihasilkan dari sumber daya hayati, terutama yang kaya akan karbohidrat.


Apa Itu Bioetanol?

Bioetanol adalah jenis bahan bakar alternatif berbasis alkohol (etanol) yang diperoleh melalui proses fermentasi bahan organik kaya karbohidrat, seperti pati dan gula. Dalam penggunaannya, bioetanol sering dicampurkan dengan bensin untuk menghasilkan campuran yang dikenal sebagai gasohol (gasoline + alcohol). Campuran ini dapat digunakan dalam kendaraan bermotor tanpa memerlukan modifikasi mesin yang besar.

Bioetanol memiliki sifat yang mirip dengan bahan bakar bensin (premium), baik dari segi titik nyala maupun kemudahan dalam pembakaran, menjadikannya bahan bakar alternatif yang efisien dan lebih ramah lingkungan.


Perbedaan Bioetanol dan Biodiesel

Meski sama-sama merupakan bahan bakar hayati (biofuel), bioetanol berbeda dengan biodiesel dalam hal bahan baku dan proses pembuatannya:

Aspek

Bioetanol

Biodiesel

Bahan baku utama

Karbohidrat (pati dan gula)

Lemak dan minyak nabati

Contoh bahan

Jagung, tebu, singkong, ubi jalar, sagu

Kelapa sawit, minyak kedelai, minyak jelantah

Proses utama

Fermentasi alkohol

Transesterifikasi

Produk akhir

Etanol (alkohol)

Ester metil dari asam lemak

 

Sumber Bahan Baku Bioetanol

Indonesia sebagai negara tropis yang subur memiliki kekayaan sumber daya hayati yang melimpah. Beberapa tanaman penghasil karbohidrat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol antara lain:

  1. Jagung (Zea mays)
    Jagung merupakan bahan baku unggulan dalam produksi bioetanol. Kandungan pati yang tinggi menjadikan jagung sangat efisien dalam menghasilkan etanol. Selain itu, proses produksinya sudah mapan di banyak negara. Di Indonesia, jagung juga banyak dibudidayakan di wilayah seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.
  2. Tebu (Saccharum officinarum)
    Tebu mengandung sukrosa yang tinggi dan sangat cocok untuk produksi etanol melalui fermentasi langsung. Daerah-daerah penghasil tebu utama di Indonesia adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung.
  3. Umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar, dan sagu)
    Umbi-umbian seperti singkong (ubi kayu) dan ubi jalar merupakan sumber pati yang murah dan mudah tumbuh. Sedangkan sagu, yang banyak tumbuh di Papua dan Maluku, merupakan sumber pati tradisional yang sangat potensial jika dikembangkan secara industri.

Proses Produksi Bioetanol

Proses produksi bioetanol dari bahan karbohidrat terdiri atas beberapa tahap utama:

  1. Pencacahan dan Pengolahan Awal
    Bahan baku seperti jagung atau singkong dihancurkan menjadi bubur untuk memudahkan konversi pati.
  2. Hidrolisis
    Pati diubah menjadi gula sederhana (glukosa) dengan bantuan enzim atau asam.
  3. Fermentasi
    Gula yang dihasilkan difermentasi oleh mikroorganisme (biasanya ragi Saccharomyces cerevisiae) untuk menghasilkan etanol dan karbon dioksida.
  4. Distilasi
    Etanol yang dihasilkan dipisahkan dan dimurnikan melalui penyulingan hingga mencapai kemurnian yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.

Keunggulan Bioetanol Sebagai Energi Alternatif

  • 🌱 Ramah lingkungan: Menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibanding bensin.
  • 🔄 Dapat diperbarui: Dibuat dari sumber hayati yang dapat dibudidayakan kembali.
  • 🇮🇩 Mendukung ketahanan energi nasional: Mengurangi ketergantungan pada impor BBM.
  • 👨‍🌾 Meningkatkan ekonomi lokal: Membuka peluang industri energi berbasis pertanian.

Tantangan dan Potensi di Indonesia

Meski memiliki potensi besar, pengembangan bioetanol di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan:

  • Kompetisi penggunaan lahan antara pangan dan energi.
  • Keterbatasan infrastruktur produksi dan distribusi biofuel.
  • Harga produksi yang kadang belum bersaing dengan bensin subsidi.

Namun, dengan dukungan kebijakan energi terbarukan, riset berkelanjutan, dan pengembangan skala industri berbasis lokal (seperti koperasi tani bioenergi), Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemain besar dalam produksi bioetanol tropis dunia.


Kesimpulan

Bioetanol adalah solusi energi masa depan yang berakar pada potensi lokal. Dengan memanfaatkan tanaman kaya karbohidrat seperti jagung, tebu, dan umbi-umbian, bioetanol tidak hanya menawarkan bahan bakar alternatif yang bersih dan dapat diperbarui, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi pembangunan ekonomi hijau di pedesaan. Dalam konteks geografi, pengembangan bioetanol mencerminkan pentingnya integrasi antara sumber daya alam, pola pemanfaatan lahan, dan kebijakan energi nasional.

Senin, 15 Februari 2021

Penghasil Bijih Besi Terbesar di Indonesia

Hampir semua kegiatan pembangunan tidak terlepas dari kebutuhan akan besi. Besi memiliki pengaruh yang amat penting bagi kegiatan manusia, di samping kebutuhan akan minyak bumi dan batu bara. Penggunaan besi bisa kita lihat penggunaannya dalam konstruksi bangunan, rangka kendaraan, pipa, jalur kereta api dan masih banyak lagi kegunaannya. 

Di rumah kita bisa menemukan barang – barang yang berbahan dasar besi. Tahukah Anda jika benda – benda tersebut awal mulanya berasal dari bijih besi. Bijih besi yang diperoleh dari hasil tambang selanjutnya diolah untuk kemudian dicetak membentuk plat, batang ataupun kawat yang nantinya diolah kembali sesuai dengan kebutuhan. Perusahaan pengolahan bijih besi terbesar di Asia Tenggara dan termasuk perusahaan milik negara atau BUMN yaitu PT. Krakatau Steel yang berada di kota Cilegon, Banten. 

Ternyata biji besi sendiri terbagi menjadi 3 jenis antara lain, bijih besi magnetik hematit (Kalimantan Tengah), bijih besi lateritik (Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah), dan bijih besi titan (Pantai Cilacap, Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Aceh, Pelabuhan Ratu, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat). Untuk mendapatkan besi yang bisa kita ketahui, bijih besi yang masih mengandung atom oksigen dan besi yang terikat dalam molekul perlu direduksi untuk menghilangkan kandungan oksigen di dalamnya dengan cara dilebur.

Besi yang diperoleh biasanya dalam bentuk magnetit (Fe3O4), limonit atau siderit, hemafit (Fe2O3), dan goethit. Sedangkan untuk bijih besi yang didapat masih banyak dengan besi oksida sehingga mempunyai warna yang cukup banyak seperti ungu tua, kelabu tua, kuning muda dan merah karat. Hingga saat ini persediaan bijih besi masih cukup banyak, akan tetapi seiring bertambahnya kebutuhan akan bahan baku bijih besi tidak menutup kemungkinan ketersediaannya akan berkurang.

Di Indonesia persebaran tambang bijih besi hampir bisa ditemukan di seluruh kepulauan. Namun, sebagian besar pengolahan bijih besi masih dilakukan di luar daerah penambangan, sebut saja perusahaan spengolahan bijih besi yang nantinya diubah menjadi baja bisa ditemukan di Cilegon, Banten. Sedangkan daerah penghasil bijih besi terbesar di Indonesia antara lain: 

1. Sumatera

Menurut Dudi Nasrudin, pulau Sumatera mempunyai deposit atau cadangan bahan tambang bijih besi sekitar 158 juta ton dan juga 62.800 meter kubik terutama di Provinsi Sumatera Barat per tahun 2007. Daerah di Sumatera Barat tersebut bisa ditemukan di Tanah Datar, Pasaman, Pasaman Barat, Solok, Padang Pariaman, Sijunjung, Agam, dan Katiangan Pasaman. Selain di Sumatera Barat, Provinsi Lampung juga terdapat penambangan bijih besi yang bisa ditemukan di Kabupaten Tanggamus dan juga Gunung Tegak. 

2. Jawa

Di Pulau Jawa banyak ditemukan berbagai macam bahan tambang dan salah satunya yaitu bijih besi dan pasir besi. Di sepanjang pantai selatan pulau Jawa banyak ditemukan pasir besi. Di Jawa Barat tempat penambangan pasir besi berada di Cipatujuh, Tasikmalaya yang mempunyai kandungan besi mencapai 30% – 40%. Di tempat lain, tempat penambangan pasir besi dan bijih besi terbesar berada di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya berada di Cilacap. Pada tahun 1960 – 1972, eksploitasi pasir besi dilakukan oleh PT. Aneka Tambang dan dilakukan di sepanjang panti selatan di Kabupaten Cilacap.

Dari hasil eksploitasi didapatkan hasil berupa pasir besi sebanyak 2.655.236 ton dengan kandungan rata – rata 51,7% Fe. Sedangkan pada tahun 1971 – 1978 telah diproduksi sebanyak 300.000 ton konsentrat biji besi per tahun dalam memenuhi target ekspor ke Jepang. Namun, sejak tanggal 1 Oktober 2003 kegiatan oprasional penambangan dihentikan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara – Badan Penelitian dan Pengembangan DESDM. 

3. Kalimantan

Sumber daya alam di Kalimantan tidak perlu diragukan lagi. Dari sektor pertanian, banyak ditemukan perkebunan kelapa sawit dan beberapa perusahaan minyak goreng di samping terdapat hutan produksi. Tidak hanya pertanian, Kalimantan terkenal juga akan hasil tambangnya. Selain batu bara dan minyak bumi, Kalimantan juga terdapat penambangan bijih besi. Beberapa daerah penambangan bijih besi tersebut berada di Kotabaru, Tanah Laut, Tapin, Tanah Bumbu dan Balangan. Sejak dibuat Undang – Undang Mineral dan Batu Bara, sudah banyak smelter yang dibangun. Undang – undang tersebut dibuat untuk melarang kegiatan ekspor mineral sebelum dilakukan pengolahan. Pembangnan fasilitas pengolahan hasil tambang atau smelter tersebut untuk meningkatkan kandungan logam pada mineral. 

4. Sulawesi

Tahukah kalian jika nama Sulawesi berasal dari kata sula yang artinya pulau dan mesi yang berarti logam. Sehingga jika diartikan menjadi pulau yang mempunyai sumber logam di dalamnya. Salah satu logam tersebut yaitu bijih besi yang bisa ditemukan di Kabupaten Bone, Kabupaten Toli – Toli, Dusun Pake, Luwu Timur, Lengkabana dan Pegunungan Verbeek. Di Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di Toli – Toli berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Hary Utoyo, kandungan bijih besi di kabupaten tersebut mencapai 61,98%, sedangkan kandungan bijih besi di Pake mencapai 52,35%. Di Palu, tepatnya di Desa Uekuli, Kabupaten Tojo Una – Una, bijih besi bisa diperoleh sebanyak 50 ribu MT dalam tiga bulan pertama. 

5. Papua

Sudah dari dahulu jika Papua menyimpan kekayaan bahan tambang yang melimpah. Jumlahnya sangat banyak jika dibandingkan dengan cadangan bahan tambang di pulau – pulau lain di Indonesia. Bijih besi dan pasir besi dapat ditemukan di Tembagapura, Sarmi, dan Jayapura. Akan tetapi untuk pasir besi yang terdapat di Papua masih bercampung dengan tanah disekitar sehingga perlu pengolahan khusus untuk memperoleh bijih besi yang berkualitas.

 

Demikian informasi persebaran daerah penghasil bijih besi terbesar di Indonesia. Semoga bermanfaat.

Rabu, 06 November 2019

Gas Metana : Pengertian, Pemanfaatan, dan Dampak yang Ditimbulkannya

Gas metana merupakan bagian dari senyawa hidrokarbon dan merupakan komponen utama gas alam. Gas ini adalah jenis gas yang tidak memiliki warna dan bau. Tetapi, karena alasan keamanan, maka metana ditambahkan bau belerang. Hal ini agar mudah untuk diketahui jika terjadi kebocoran pada gas. Sebagai zat gas, metana tidak mudah terbakar. Tetapi, bila konsentrasinya sebesar 5 sampai 15% di udara, maka gak ini dapat terbakar. Adapun metana yang berbentuk cair tidak mudah terbakar, kecuali juga diberi tekanan yang tinggi sebesar 4 sampai 5 atmosfer.

Gas metana merupakan gas yang mudah ditemui karena berada di sekitar kita. Adapun beberapa tempat dimana kita bisa menemukan gas tersebut, diantaranya adalah :
  • Gas elpiji yang kita gunakan untuk memasak sehari-hari merupakan gas yang mengandung metana.
  • Metana juga dapat ditemukan pada hewan, tepatnya pada kotorannya. Hewan-hewan yang kotorannya mengandung metana, antara lain adalah sapi, kambing, domba, babi, dan unggas.
  • Selain kotoran hewan, kotoran manusia juga mengandung metana.
  • Metana bisa juga ditemukan pada sampah-sampah organik setelah terjadi perombakan oleh bakteri-bakteri.
  • Metana bisa muncul dari proses pembakaran yang dilakukan pada rawa-rawa.

Terdapat dampak gas metana pada kehidupan manusia, baik itu dampak baik maupun dampak buruk. Adapun dampak baik dari gas ini, yaitu sebagai bahan bakar pengganti dari bahan bakar fosil. Hal ini karena bahan bakar fosil telah memiliki jumlah yang semakin sedikit di muka bumi. Dampak baik atau positif dari gas ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Sebagai bahan bakar untuk kompor
Salah satu cara untuk dapat menghasilkan metana dengan mudah adalah dengan melakukan rekayasa pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Hal tersebut dilakukan di tempat-tempat tertutup yang memiliki sedikit oksigen atau tidak ada sama sekali. Proses ini biasa disebut dengan fermentasi anaerobik. Fermentasi anaerobik merupakan proses pengolahan makanan oleh bakteri tanpa oksigen dan menghasilkan gas metana. Gas ini nantinya bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif, seperti generator. Generator bisa dimanfaatkan sebagai penghasil daya listrik dan bisa juga sebagai bahan bakar kompor gas.

2. Sebagai bahan bakar kendaraan
Gas metana mampu menghasilkan panas yang sangat banyak sehingga bisa digunakan sebagai bahan bakar. Gas ini merupakan sumber bahan bakar yang lebih baik dibandingkan dengan bensin dan solar. Hal tersebut karena bahan bakar dari metana tersebut lebih ramah lingkungan.

3. Sebagai bahan pembuat pupuk
Karena salah satu sumber dari gas metana adalah kotoran hewan. Dari hal ini maka kotoran yang telah hilang gasnya bisa digunakan sebagai pupuk organik. Adapun keunggulan dari pupuk yang terbuat dari kotoran tersebut adalah pupuk ini baik bagi tumbuhan. Hal ini karena mengandung protein, selulose, dan lainnya yang tidak termasuk pupuk kimia.

4. Sebagai bahan pembuat ban
Terdapat unsur karbon hasil dari pembakaran yang tidak sempurna pada gas metana yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat ban.

5. Sebagai pembangkit tenaga listrik
Dalam proses mikrobiologi, sampah organik bisa menghasilkan metana. Gas ini selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai sumber energi seperti untuk penerangan, penggerak mesin, dan juga daya listrik. Metana akan dialirkan melalui inlet generator untuk menghasilkan sumber-sumber tersebut.

Namun, ada pula dampak negatif dari gas ini, yaitu sebagai penyebab terjadinya perubahan iklim yang berupa pemanasan bumi. Hal ini terjadi karena metana mengandung emisi gas rumah kaca 23 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan karbondioksida. Dampak dari perubahan iklim yang sebagian besar disebabkan oleh metana adalah semakin panasnya suhu di kutub utara dan selatan. Selain hal-hal tersebut, dampak lain metana bisa terjadi pada orang yang terkena paparan gas ini. Dampak tersebut yaitu orang yang terkena paparan gas ini akan merasa mual, sakit kepala, dan detak jantung lebih cepat. Selanjutnya juga akan merasakan masalah kognitif yaitu mudah lupa atau hilangnya memori, pusing, penglihatan kabur, gelisah, lesu, dan lainnya. Paparan gas ini bisa terjadi dengan cara inhalasi yaitu ketika memasuki sebuah gedung yang dekat dengan saluran pembuangan sampah. Selain itu, paparan gas metana juga bisa terjadi melalui sentuhan gas dari kotoran atau tempat-tempat semacam lubang sampah.

Adanya dampak bahaya dari gas ini membuat banyak orang berpikir untuk menguranginya. Tapi, sayangnya gas ini tidak dapat dikurangi karena terbentuk secara alami oleh alam. Meski tidak bisa dikurangi keberadaannya, namun produksi metana bisa dikurangi. Adapun langkah pengurangan produksi metana yaitu dengan mengubahnya menjadi biogas. Terlebih pada kotoran hewan yang 16% mengeluarkan gas ke atmosfer. Maka dari itu, langkah yang bisa dilakukan untuk pengurangan produksi gas metana salah satunya adalah mengubah kotoran hewan menjadi biogas.

Rabu, 06 Februari 2019

Persebaran Barang Tambang di Indonesia

Ada peribahasa yang mengatakan "Gemah ripah Loh Jinawi" yang artinya kekayaan hasil bumi yang melimpah. Itulah negara Indonesia, negeri timur seberang yang sejak abad ke 16 diserbu oleh negara-negara barat dalam rangka merkantilisme, kolonialisme dan imperialisme. Tentu saja yang mereka incar adalah kekayaan negeri timur tersebut. Sudah berjuta-juta ton rempah-rempah dan barang tambang diangkut ke Eropa. Dan inilah bukti kekayaan barang tambang ada di Indonesia. Barang tambang dan persebarannya itu meliputi :

(1.) Minyak bumi
Ada banyak tambang minyak bumi di Indonesia. Daerah-daerah penghasil tambang minyak sebagai berikut :
1. Tambang minyak di pulau Sumatera terdapat di Aceh (Lhoksumawe dan Peureula); Sumatera Utara (Tanjung Pura); Riau (Sungaipakning, Dumai); dan Sumatera Selatan (Plaju, Sungai Gerong, Muara Enim).
2. Tambang minyak di pulau Jawa terdapat di Wonokromo, Delta (Jawa Timur); Cepu, Cilacap di (Jawa Tengah); dan Majalengka, Jatibarang (Jawa Barat).
3. Tambang minyak di pulau Kalimantan terdapat di Balikpapan, Pulau Tarakan, Pulau Bunyu dan Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) serta Amuntai, Tanjung, dan Rantau (Kalimantan Selatan)
4. Maluku (Pulau Seram dan Tenggara), serta
5. Irian Jaya (Klamono, Sorong, dan Babo).

(2.) Bauksit (bijih aluminium)
Penambangan bauksit berada di daerah Riau (Pulau Bintan) dan Kalimantan Barat (Singkawang).

(3.) Batu bara
Penambangan batu bara terdapat di Sumatera Barat (Ombilin, Sawahlunto), Sumatera Selatan (Bukit Asam, Tanjungenim), Kalimantan Timur (Lembah Sungai Berau, Samarinda), Kalimantan Selatan (Kotabaru/Pulau Laut), Kalimantan tengah (Purukcahu), Sulawesi Selatan (Makassar), dan Papua (Klamono). 

(4.) Besi
Penambangan besi terdapat di daerah Lampung (Gunung Tegak), Kalimantan Selatan (Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan (Pegunungan Verbeek), dan Jawa Tengah (Cilacap).

(5.) Timah
Penambangan timah terdapat di daerah Pulau Bangka (Sungai Liat), Pulau Belitung (Manggara), dan Pulau Singkep (Dabo).

(6.) Emas
Penambangan emas terdapat di daerah Nangroe Aceh Darussalam (Meulaboh), Riau (Logos), Bengkulu (Rejang Lebong), Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow, Minahasa), Kalimantan Barat (Sambas), Jawa Barat (Cikotok, Pongkor), dan Freeport (Timika, Papua).

(7.) Tembaga
Penambangan tembaga terdapat di daerah Irian Jaya (Tembagapura).

(8.) Nikel
Ditambang dari daerah Sulawesi Tenggara (Soroako).

(9.) Marmer
Ditambang dari daerah Jawa Timur (Tulungagung), Lampung, Makassar, Timor.

(10.) Mangan
Ditambang dari daerah Yogyakarta (Kliripan), Jawa Barat (Tasikmalaya), dan Kalimantan Selatan (Martapura).

(11.) Aspal
Ditambang dari daerah Sulawesi Tenggara (Pulau Buton).

(12.) Belerang
Ditambang dari daerah Jawa Barat (Gunung Patuha), Jawa Timur (Gunung Welirang).

(13.) Yodium
Ditambang dari daerah Jawa Tengah (Semarang), Jawa Timur (Mojokerto).




Persebaran bahan Tambang di Indonesia

A. Minyak Bumi
Menurut perkiraan para ilmuwan, minyak bumi mulai terbentuk selama jutaan tahun. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi. Kualitas minyak bumi Indonesia cukup baik. Kadar sulfur (belerang) minyak bumi Indonesia sangat rendah, sehingga mengurangi kadar pencemaran udara.

Daerah-daerah penghasil minyak bumi di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Sumatera, terdapat di Aceh (Lhoksumawe dan Peureula); SumUt (Tanjung Pura); Riau (Sungaipakning, Dumai); SumSel (Plaju, Sungai Gerong, Muara Enim)
  • Jawa, terdapat di Wonokromo, Delta (JaTim); Cepu, Cilacap (JaTeng); Majalengka, Jatibarang (JaBar).
  • Kalimantan, terdapat di Balikpapan, Pulau Tarakan, Pulau Bunyu dan Sungai Mahakam (KalTim) serta Amuntai, Tanjung, dan Rantau (KalSel)Maluku (Pulau Seram dan Tenggara)Irian Jaya (Klamono, Sorong, Babo).


Minyak bumi diambil dalam bentuk minyak mentah, sebelum dapat digunakan, minyak mentah tersebut harus diolah. Pengolahan minyak bumi menghasilkan avgas, avtur, premium, minyak tanah, solar dll. Manfaat dari produk-produk tersebut adalah sebagai berikut:

  • Avtur untuk bahan bakar pesawat terbang;
  • Bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor;
  • Minyak Tanah untuk bahan baku lampu minyak;
  • Solar untuk bahan bakar kendaraan diesel;
  • LNG (Liquid Natural Gas) untuk bahan bakar kompor gas;
  • Oli ialah bahan untuk pelumas mesin;
  • Vaselin ialah salep untuk bahan obat;
  • Parafin untuk bahan pembuat lilin; dan
  • Aspal untuk bahan pembuat jalan (dihasilkan di Pulau Buton)

Sebagai salah satu negara penghasil utama minyak bumi, Indonesia menjadi anggota Organization Petroleum Exportir Countries (OPEC), yang bergerak dalam bidang ekspor minyak bumi.

B. Gas Alam
Di Indonesia terdapat banyak sumber gas alam. Gas alam dapat digunakan sebagai bahan bakar. Ada 2 macam gas alam cair yang diperdagangkan, yaitu LNG dan LPG. Apa bedanya? LNG (Liquified Natural Gas) atau Gas alam cair dibuat dari gas alam yang terbentuk secara alami. LNG terdiri atas gas metan dan gas etan. LNG membutuhkan suhu sangat dingin supaya dapat disimpan sebagai cairan. Gas alam cair diproduksi di Arun dan Badak, selanjutnya diekspor antara lain di Jepang. 
LPG (Liquified Petrolium Gas) atau gas hasil olahan minyak bumi yang dicairkan.  Elpiji inilah yang digunakan sebagai bahan bakar kompor gas di rumah kita.

C. Batu Bara
Sebagian besar batu bara terjadi dari tumbuh-tumbuhan yang hidup berjuta-juta tahun yang lalu. Tubuh-tumbuhan tersebut termasuk jenis paku-pakuan. Tumbuhan itu tertimbun hingga berada dalam lapisan-lapisan batuan sedimen yang lain. Proses pembentukan batu bara disebut juga inkolen (proses pengarangan).
Daerah tambang batu bara di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Ombilin dekat sawahlunto (sumatera Barat) menghasilkan batu bara muda yang sifatnya mudah hancur.
  • Bukit asam dekat Tanjung Enim (palembang) enghasilkan batu bara muda yang sudah menjadi antrasit karena pengaruh magma.
  • Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan (Pulau laut/Sebuku)
  • Jambi, Riau, Aceh, Papua (Irian Jaya)

Batu bara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia. Penggunan yang paling penting adalah untuk :

  • bahan bakar pembangkit  listrik
  • produksi besi dan baja
  • bahan bakar pembuatan semen
  • bahan bakar cair.

Penggunaan batu bara yang penting lainnya mencakup pusat pengolahan alumina, pabrik kertas, dan industri kimia serta farmasi. Beberapa produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Ter batu bara yang dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak kreosot, naftalen, fenol dan benzene. Gas amoniak yang diambil dari tungku kokas digunakan untuk membuat garam amoniak, asam nitrat dan pupuk tanaman. Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau hasil sampingan batu bara:sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti rayon dan nylon.

Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu, seperti : 

  • Karbon teraktivasi  (digunakan pada saringan air dan pembersih udara serta mesin pencuci darah).
  • Serat karbon (bahan pengeras yang sangat kuat namun ringan yang digunakan pada konstruksi, sepeda gunung dan raket tenis).
  • Metal silikon – digunakan untuk memproduksi silikon dan silan, yang pada gilirannya digunakan untuk membuat pelumas, bahan kedap air, resin, kosmetik, shampo dan pasta gigi.

Dewasa ini penggunaan batu bara sebagai bahan bakar mulai berkurang, salah satu penyebabnya adalah karena karena bahan bakar yangsatu ini menimbulkan pencemaran udara yang cukup banyak.

D. Tanah Liat
Tanah Liat adalah tanah yang mengandung lempung (65%), butir-butirnya sangat halus, sehingga rapat dan sulit menyerap air. Tanah liat banyak terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa dan sumatera.
Tanah liat dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan gerabah.

E. Kaolin
Kaolin terbentuk dari pelapukan batuan granit. Batuan ini banyak terdapat di daerah sekitar pegunungan di sumatera. Kaolin banyak dipakai sebagai bahan pengisi (filler), pelapis (coater), barang-barang tahan api dan isolator. Kaolin juga dipakai pada proses pembuatan keramik, obat, melapisi kertas, sebagai bahan tambahan makanan, odol, sebagai bahan menyebarkan sinar di bola lampu pijar agar berwarna  putih, serta sebagai bahan kosmetik.

F. Gamping (Batu Kapur)
Batu kapur terbentuk dari pelapukan sarang binatang karang. Potensi batu kapur di Indonesia sangat besar dan tersebar hampir merata di seluruh kepulauan Indonesia. Sebagian besar cadangan batu kapur Indonesia terdapat di Sumatera Barat. Beberapa daerah lain yang merupakan penghasil utama batu kapur adalah Jawa Timur. Berbagai wilayah di daerah ini antara lain Pacitan, Trenggalek, Tulungagug, Ponorogo, ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Nganjuk, Jember, Bondowoso,Banyuwangi, Bangkalan, Sampang, pamekasan, Sumenep dan Gresik. Bahkan di wilayah provinsi Jawa Timur sendiri, potensi yang saat ini masih tersedia adalah sebesar ±1.259.438.298 M³. Selanjutnya di wilayah Kalimantan, potensi batuan gamping atau batuan kapur ini yang terbesar adalah di provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Beberapa contoh penggunaan batugamping antara lain :
 Fondasi rumah/pengeras jalan dan bangunan fisik lainnya
 Pembuatan kapur tohor dan kapur padam
 Bahan bangunan
 Bahan penstabil jalan raya
 Bahan baku pembuatan semen Portland
 Bahan pembuatan karbid
 Bahan tambahan dalam proses peleburan dan pemurnian baja
 Bahan pemutih
 Bahan pembuatan senyawa alkali
 Bahan pupuk dan insektisida dalam pertanian
 Bahan keramik, Glasir, industri kaca, bata silica, bahan tahan api
 Penjernihan air

G. Pasir Kuarsa
Pasir Kuarsa terbentuk dari pelapukan batu-batuan yang hanyut lalu mengendap di daerah sekitar sungai, pantai, dan danau. Pasir kuarsa banyak terdapat di Banda Aceh, Bangka, Belitung dan Bengkulu. Cadangan pasir kuarsa terbesar terdapat di Sumatera Barat, potensi lain terdapat di Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Pulau Bangka dan Belitung

Manfaat pasir kuarsa atau biasa disebut Pasir Silika (SiO2) antara lain adalah 
untuk menghilangkan kandungan lumpur atau tanah dan sedimen pada air minum atau air tanah atau air PDAM atau air gunung pada industri pengolahan air. Sebagai bahan baku utama dalam industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting).  Sebagai bahan ikutan dalam industri cor, industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain sebagainya ( http://www.purewatercare.com ). 

H. Pasir Besi
Pasir Besi adalah batuan pasir yang banyak mengandung zat besinya. Pasir besi banyak terdapat di Pantai Cilacap, Jawa Tengah. Pasir besi selain digunakan untuk industri logam besi, juga telah banyak dimanfaatkan pada industri semen dan bahan dasar tinta kering (toner) pada mesin fotokopi dan tinta laser, bahan utama untuk pita kaset, pewarna serta campuran (filter) untuk cat, bahan dasar untuk industri magnet permanent.

I. Marmer/Batu Pualam
Marmer/batu pualam adalah batu kapur yang telah berubah bentuk dan rupanya sehingga merupakan batuan yang sangat indah setelah digosok dan dilicinkan. Marmer banyak terdapat di Trenggalek, JawaTimur dan daerah Bayat Jawa Tengah.

J. Batu Aji/Batu Akik
Batu aji/batu akik adalah batuan atau mineral yang cukup keras. Warna batu akik bermacam-macam, antara lain merah, hijau,biru,ungu,putih,kuning, dan hitam. Batu ini digunakan untuk perhiasan dan banyak terdapat di daerah pegunungan dan di sekitar aliran sungai.

K. Bauksit
Bauksit di Indonesia banyak terdapat di Pulau Bintan dan Riau.Bauksit dari Bintan diolah di Sumatera utara di Proyek Asahan.Proyek Asahan juga merupakan pusat tenaga air terjun di sungai Asahan.

L. Timah
Daerah-daerah penghasil timah di Indonesia adalah Pulau Bangka, Belitung,dan Singkep yang menghasilkan lebih dari 20% produksi timah putih dunia. Di Muntok terdapat pabrik peleburan timah.Ada dua macam timah yaitu timah primer dan timah sekunder (aluvial). Timah primer adalah timah yang mengendap pertama kali pada batuan granit. Timah sekunder (aluvial) adalah endapan timah yang sudah berpindah dari tempat asalnya akibat proses pelapukandan erosi.

M. Nikel
Nikel terdapat di sekitar Danau Matana, Danau Towuti, dan di Kolaka (Sulawesi Selatan).

N. Tembaga
Tembaga terdapat di Tirtomoyo dan wonogiri (Jawa Tengah), Muara Sipeng (Sulawesi) dan Tembagapura (Papua/Irian Jaya)

O. Emas dan perak
Emas dan Perak merupakan logam mulia. Pusat tambang emas dan perak terdapat di daerah-daerah berikut:

  • Tembagapura di Papua (Irian Jaya)
  • Batu hijau di Nusa Tenggara Barat
  • Tasikmalaya dan Jampang di Jawa Barat
  • Simao di Bengkulu
  • Logos di Riau
  • Meulaboh di Naggroe Aceh Darusalam

P. Belerang
Belerang terdapat di kawasan Gunung Talaga Bodas (Garut) dan di kawah gunung berapi, seperti di Dieng (Jawa Tengah)

Q. Mangaan
Belerang terdapat di Kliripan (Daerah Istimewa Yogyakarta), Pulau Doi (Halmahera), dan Karang nunggal (sebelah selatan Tasikmalaya)

R. Fosfat
Fosfat terdapat di cirebon, Gunung Ijen dan Banyumas (fosfat hijau.

S. Besi
Di dalam temperatur tinggi,bijih besi dicampur dengan kokas dan besi tua. Percampuran diatur sedemikian rupa, sehingga proses pembakarannya merata. Kotoran dalam bijih besi dapat di hilangkan dengan jalan reduksi (mengambil unsur oksigen dari biji besa). Prases pembakaran dalam suhu tinggi menghasilkan cairan. Kemudian cairan tersebut dicetak dalambentuk tertentu. Besi baja adalahbesi yang kandungan / campuran karbonya rendah.

T. Mika
Mika terdapat di Pulau Peleng, Kepulauan Banggai di Sulawesi Tengah

U. Tras
Tras terdapat di pegunungan Muria,Jawa tengah.

V. Intan
Intan terdapat di Martapura, Kalimantan Selatan

GEOGRAFI POPULER

Memahami Bumi, Membaca Dunia "Geografi bukan sekadar tentang peta atau nama-nama tempat. Geografi adalah cara memahami bagaimana Bumi b...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan