Tampilkan postingan dengan label Teknik Dasar Pemetaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Dasar Pemetaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Agustus 2018

Proyeksi Peta

Proyeksi peta adalah pemindahan sistem paralel dan meridian yang ditetapkan dalam bidang globe yang lengkung ke atas bidang datar. Bidang lengkung tidak dapat dibentangkan menjadi bidang datar tanpa mengalami perubahan/kerusakan (distrosi)

A. Jenis Bidang Proyeksi
Proyeksi peta menurut jenis bidang proyeksi dibedakan :

1. Proyeksi bidang datar/Azimuthal/Zenithal
Proyeksi Zenithal (Azimuthal), adalah proyeksi yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik. Proyeksi ini menggambarkan daerah kutub dengan menempatkan titik kutub pada titik pusat proyeksi. Proyeksi Azimuthal dibedakan 3 macam, yaitu:
  • Proyeksi Azimut Normal yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub.
  • Proyeksi Azimut Transversal yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
  • Proyeksi Azimut Oblique yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.

2. Proyeksi Kerucut
Proyeksi Kerucut yaitu pemindahan garis-garis meridian dan paralel dari suatu globe ke sebuah kerucut. Untuk proyeksi normalnya cocok untuk memproyeksikan daerah lintang tengah (miring). Proyeksi ini memiliki paralel melingkar dengan meridian berbentuk jari-jari. Paralel berwujud garis lingkaran sedangkan bujur berupa jari-jari. Proyeksi kerucut diperoleh dengan memproyeksikan globe pada kerucut yang menyinggung atau memotong globe kemudian di buka, sehingga bentangnya ditentukan oleh sudut puncaknya. Proyeksi ini paling tepat untuk menggambar daerah daerah di lintang 45°. Proyeksi kerucut dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
  • Proyeksi kerucut normal atau standar. Jika garis singgung bidang kerucut pada bola bumi terletak pada suatu paralel (Paralel Standar).
  • Proyeksi Kerucut Transversal. Jika kedudukan sumbu kerucut terhadap sumbu bumi tegak lurus.
  • Proyeksi Kerucut Oblique (Miring). jika sumbu kerucut terhadap sumbu bumi terbentuk miring.

3. Proyeksi Silinder
Proyeksi Silinder adalah suatu proyeksi permukaan bola bumi yang bidang proyeksinya berbentuk silinder dan menyinggung bola bumi. Apabila pada proyeksi ini bidang silinder menyinggung khatulistiwa, maka semua garis paralel merupakan garis horizontal dan semua garis meridian merupakan garis lurus vertikal. Penggunaan proyeksi silinder mempunyai beberapa keuntungan yaitu:

  • Dapat menggambarkan daerah yang luas.
  • Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa.
  • Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus.
  • Makin mendekati kutub, makin luas wilayahnya.

Jadi keuntungan proyeksi ini yaitu cocok untuk menggambarkan daerah ekuator, karena ke arah kutub terjadi pemekaran garis lintang.

B. Menurut Kedudukan Bidang Proyeksi
Proyeksi peta menurut kedudukan bidang proyeksi dibedakan :
  • Proyeksi normal
  • Proyeksi miring
  • Proyeksi transversal


C. Menurut Jenis Unsur Yang Bebas (Distorsi)

Proyeksi peta menurut jenis unsur yang bebas distorsi dibedakan :

  • Proyeksi conform, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya sudut
  • Proyeksi equidistant, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya panjang jarak
  • Proyeksi equivalent, merupakan jenis proyeksi yang mempertahankan besarnya luas suatu daerah pada bidang lengkung

D. Menurut Modifikasi
Proyeksi peta menurut modifikasi (gubahan) dibedakan :

Proyeksi Bonne (Equal Area)
Sifat-sifatnya sama luas. Sudut dan jarak benar pada meridian tengah dan pada paralel standar. Semakin jauh dari meridian tengah, bentuk menjadi sangat terganggu. Baik untuk menggambarkan Asia yang letaknya di sekitar khatulistiwa.

Proyeksi Sinusoidal
Pada proyeksi ini menghasilkan sudut dan jarak sesuai pada meridian tengah dan daerah khatulistiwa sama luas. Jarak antara meridian sesuai, begitu pula jarak antar paralel. Baik untuk menggambar daerah-daerah yang kecil dimana saja. Juga untuk daerah-daerah yang luas yang letaknya jauh dari khatulistiwa. Proyeksi ini sering dipakai untuk Amerika Selatan, Australia dan Afrika.

Proyeksi Mercator
Proyeksi Mercator merupakan proyeksi silinder normal konform, dimana seluruh muka bumi dilukiskan pada bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola bumi, kemudian silindernya dibuka menjadi bidang datar. Sifat-sifat proyeksi Mercatar yaitu:

  • Hasil proyeksi adalah baik dan betul untuk daerah dekat ekuator, tetapi distorsi makin membesar bila makin dekat dengan kutub.
  • Interval jarak antara meridian adalah sama dan pada ekuator pembagian vertikal benar menurut skala.
  • Interval jarak antara paralel tidak sama, makin menjauh dari ekuator, interval jarak makin membesar.
  • Proyeksinya adalah konform.
  • Kutub-kutub tidak dapat digambarkan karena terletak di posisi tak terhingga.

Proyeksi Mollweide
Pada proyeksi ini sama luas untuk berubah di pinggir peta.

Proyeksi Gall
Sifatnya sama luas, bentuk sangat berbeda pada lintang-lintang yang mendekati kutub.

Proyeksi Homolografik (Goode)
Sifatnya sama luas. Merupakan usaha untuk membetulkan kesalahan yang terjadi pada proyeksi Mollweide. Baik untuk menggambarkan penyebaran.

Rabu, 08 Agustus 2018

Menghitung Kontur Interval (CI) dan Kemiringan Lereng

A. Mencari kontur interval/beda tinggi (CI)


Contoh soal:
Diketahui skala peta topografi adalah 1 : 100.000. Berapa beda tinggi antar kontur dalam peta tersebut?
A. 5 meter
B. 50 meter
C. 55 meter
D. 500 meter
E. 555 meter

Jawab:
CI = 1/2000 x skala
    = 1/2000 x 100.000
    = 50

Jadi, beda tinggi antar kontur dalam peta tersebut adalah 50 meter

B. Mencari tinggi kontur pada titik tertentu

Rumus:
d1/d2 x CI + tc atau
BC/AC x CI + tc

keterangan:
d1 =jarak B-C pada peta
d2 =jarak A-C pada peta
CI =kontur interval/beda tinggi
tc =angka kontur 

Contoh 1
Jarak antara kontur A ke kontur B pada peta adalah 5 cm, sedangkan jarak antara kontur B ke kontur C adalah 3 cm. Titik kontur A berketinggian 50 meter dan titik kontur C berketinggian 25 meter. Skala peta adalah 1:50.000. Berapa ketinggian kontur B pada peta tersebut?
A. 34,4 meter
B. 35,4 meter
C. 36,4 meter
D. 37,4 meter
E. 38,4 meter

Jawab:
Cari dahulu kontur intervalnya (CI)
CI = 1/2000 x skala
    = 1/2000 x 50.000
    =  25 meter

d1= B-C = 3 cm
d2 = A-C = (B-C) + (A-B) = 3 + 5 = 8  cm

Kx = d1/d2 x CI + tc
     = 3/8 x 25 meter + 25 meter
     =75/8 x 25 meter
     = 34,375 meter

Jadi, ketinggian titik B pada peta tersebut adalah 34,4 meter 



Contoh 2
Dalam soal UN biasanya muncul soal mengenai pemahaman peta topografi dan siswa diminta untuk menentukan nilai kontur nya seperti pada gambar berikut ini:

Jika jarak A - B = 3 cm, dan A – C = 5 cm kemudian A berada pada ketinggian 915 m sedangkan C pada ketinggian  965 m. Maka ketinggian B dengan jenis vegetasi budidaya sesuai dengan ilustrasi gambar di bawah adalah ?

Jawab: 
Selisih kontur A - C = 965 - 915 = 50 m (jadi Ci = 50 m)
50 (Ci A-C) : 5 (jarak di peta) = 10, jadi jarak tiap cm di peta adalah 10 m

Karena A - B = 3 cm maka nilai ketinggiannya 10 x 3 = 30 m
Berarti, nilai B = 915 +30 = 945 m (karena A ke C relatif naik konturnya)

C. Mencari Beda Tinggi Dalam Satuan Persen (%)

Rumus:
Kemiringan lereng = Beda tinggi/jarak sebenarnya x 100 %

Contoh

Soal 1
Diketahui titik kontur X berketinggian 225 meter dan titik Y berketinggiann 125 meter. Jarak antara X-Y pada peta dengan skala 1:50.000 adalah 4 cm. Berapa persen kemiringan lereng X - Y ?
A. 25 %
B. 20 %
C. 15 %
D. 10 %
E. 5 %

Jawab:

Rumus: Beda Tinggi/jarak x 100 %

Beda tinggi X-Y = 225 - 125 meter
                         = 100 meter
                         = 10.000 cm 

Jarak X-Y pada peta 4 cm
Jarak sebenarnya= jarak x skala
                         = 4 x 50.000
                         = 200.000 cm

Kemiringan Lereng X-Y adalah
= Beda tinggi / jarak x 100 %
= 10.000/200.000 x 100 %
=  5 %

Jadi, kemiringan lereng X-Y adalah 5 %


Soal 2


Hitunglah kemiringan lereng titik A ke titik B

Jawab:
  • Cari dahulu kontur interval nya. CI = 125
  • Kemudian cari jarak sebenarnya. Js = Jp x skala = 4 x 250.000 = 10.000
Mencari kemeringan lereng dengan rumus:

Kontur tertinggi - kontur terendah / jarak sebenarnya x 100 %

400 - 25 / 10.000 x 100 %
375 / 100 %
3,75 %
Kemiringan lereng A ke B adalah 3,75 %
Baca: Pembagian Kemiringan Lereng

D. Mencari Beda Tinggi Dalam Satuan Derajat 

Rumus:
Kemiringan lereng = Beda tinggi/jarak x 1 derajat

Contoh soal sama seperti di atas. Hanya saja satuan persen (%) diganti dengan satuan derajat.

E. Mencari Gradien Ketinggian 
Titik A berada pada ketinggian 200 meter dan titik B berada pada ketinggian 600 meter. Panjang A ke B adalah 2 cm dengan skala peta kontur 1 : 100.000. Berapa gradien ketinggian AB ?

Rumus gradien ketinggian :
Tangen a = y / x

Jawab:
y = tinggi kontur AB
AB = 600 - 200 = 400 meter

x = panjang AB
PAB = 2 cm x skala
PAB = 2 cm x 100.000 cm
PAB = 200.000 cm = 2000 meter

Tangen a = y / x
Tangen a = 400 / 2000 = 0,2

Memperbesar dan Memperkecil Peta

Selain mencari cara menghitung skala peta, biasanya kita juga diminta untuk memperbesar maupun memperkecil suatu peta. Gambaran pada peta bisa diperbesar maupun diperkecil sesuai dengan kebutuhan. Setidaknya ada 3 cara untuk memperbesar maupun memperkecil peta. Berikut penjelasan selengkapnya yang bisa Anda simak.

Menggunakan Grid
Cara memperkecil atau memperbesar peta pertama adalah dengan bantuan grid atau garis-garis koordinat. Garis koordinat adalah garis khayal pada peta yang terdiri atas garis lintang dan garis bujur.

Bila gambar suatu daerah diperbesar, maka bentuk daerahnya tetap, namun ukuran panjang dan lebar diperbesar. Di samping itu bilangan pembagi skala menjadi lebih kecil dan detail gambar menjadi lebih banyak.

Begitu juga bila peta diperkecil. Maka bentuk daerah tetap, namun ukuran panjang dan lebar diperkecil, bilangan pembagi skala menjadi lebih besar dan detail gambar menjadi lebih sedikit.

Menggunakan Fotokopi
Cara kedua yang bisa dimanfaatkan adalah dengan memakai fotokopi. Jika ingin memperbesar peta, maka harus memakai fotocopy yang bisa memperbesar peta. Akan tetapi sebelumnya usahakan skala peta yang akan diperbesar sudah diubah dalam bentuk skala garis atau batang.

Dengan begitu perubahan hasil peta yang diperbesar sesuai dengan perubahan skalanya. Akan tetapi bila masih dalam bentuk skala angka maka cara menyesuaikannya sedikit rumit.



Memakai Pantograf
Cara terakhir adalah dengan memanfaatkan alat bernama pantograf. Alat pantograf merupakan alat yang digunakan untuk memperbesar maupun memperkecil skala peta.\Alat ini dapat mengubah ukuran peta sesuai dengan yang diinginkan.

Alat ini mempunyai beberapa sisi jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaran genjang mempunyai skala faktor yang sama. Skala pada ketiga sisi ini bisa diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.

Demikian adalah informasi seputar cara menghitung skala peta. Semoga informasi rumus mencari jarak sebenarnya dan cara menghitung jarak pada peta di atas bisa memberikan manfaat untuk Anda
.

Menghitung Skala Peta

Mari kita bahas tentang cara menghitung dengan skala angka. Skala digunakan untuk menghitung jarak wilayah sesungguhnya dengan memanfaatkan peta. Rumus skala untuk menghitung jarak sebenarnya adalah:

Jarak Sesungguhnya = Jarak pada Peta / Skala

Selain itu pada suatu perkara atau pada sebuah soal kita diminta untuk mencari skala suatu peta. Rumus yang kita gunakan adalah:

Skala = Jarak pada Peta / Jarak sesungguhnya

Apabila ingin mencari jarak pada peta, maka rumus yang kita gunakan adalah sebagai berikut:

Jarak pada Peta = Skala x Jarak Sebenarnya


Perhitungan Skala Batang
Untuk cara menghitung skala peta jenis batang, kita memakai ukuran pada batang grafis atau garis lurus yang ada di bawah gambar peta. Pada batang grafis atau garis, jarak suatu ruas atau kolom adalah sama dan masing-masing ruas mewakili jarak tertentu.

Ada perbedaan mendasar antara skala batang dengan skala angka, jika suatu peta diperkecil, kita tetap bisa menggunakan skala batang tersebut sebagai perhitungan tanpa perlu melakukan konversi.

Umumnya skala batang masing-masing mempunyai ruas sepanjang 1 cm yang mewakili jarak sebenarnya. Contohnya pada suatu peta mempunyai jarak 1 : 100.000, maka skala batang mempunyai panjang masing-masing ruas 1 cm.


Contoh Soal Menghitung Skala Peta

A. Cara Mencari Jarak Sebenarnya
Pada sebuah peta dengan skala 1:10.000.000, jarak antara kota A dan kota B adalah 5 cm. Berapakah jarak sebenarnya kota A dengan kota B?

Jawab:

Jarak sesungguhnya = 5 cm / 1 : 10.000.000

= 5 cm × 10.000.000 / 1

= 50.000.000 cm

Jadi, jarak sebenarnya antara kota A dan B adalah 50.000.000 cm atau juga bisa diubah menjadi 500 km.

B. Menghitung Skala Angka
Jarak antara kota A dan kota D pada sebuah peta adalah 8 cm. Sementara jarak sebenarnya antara kota A dan kota D adalah 160 km. Berapakah skala peta tersebut berdasarkan satuan cm?
Jawab:

160 km = 160.000.000 cm

Skala = Jarak pada Peta  : Jarak Sesungguhnya

= 8 cm : 160.000.000 cm

= 1 : 2.000.000

Jadi, skala peta tersebut adalah 1 : 2.000.000.

C. Menghitung Skala Batang
Jarak antara Desa Nangka dengan Desa Jeruk pada peta dengan skala batang adalah 4 ruas. Satu ruas pada peta tersebut mewakili 1 km. Berapa jarak sesungguhnya dari kedua desa tersebut?

Karena setiap ruas pada peta tersebut dianggap mewakili 1 km, maka jarak kedua desa tersebut adalah: 4 × 1 km = 4 km.

D. Menghitung Jarak dengan Selisih Derajat Lintang-Bujur
Cara mencari skala dengan rumus jarak di atas sudah lazim ditemui. Akan tetapi juga ada yang menggunakan selisih derajat lintang dan bujur untuk menghitung skala.

Seperti yang diketahui, bumi berbentuk bulat dengan sedikit pepat di kutub dan menggelembung di bagian ekuator. Dalam kartografi orang-orang sering menghitung jarak di lapangan dengan memakai selisih perbedaan garis bujur atau lintang.

Garis lintang atau latitude adalah garis yang melintang dari atas ke bawah atau vertikal yang menghubungkan kutub utara dengan kutub selatan. Sedangkan garis bujur atau longitude adalah garis mendatar atau horizontal yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Lalu bagaimana menghitung jarak dengan lintang dan bujur?

Karea bumi berbentuk seperti bola, maka ketentuan yang mengatur koordinat bujur-lintang mirip dengan ketentuan operasi matematika yang berkaitan dengan lingkaran. Dengan begitu, cara menentukan koordinat lintang-bujur sama dengan perhitungan lingkaran, yakni derajat, menit dan detik.

Contohnya ada bilangan 5° 42’, 30” LS. Cara membacanya adalah 5 derajat 42 menit 30 detik Lintang Selatan.

Sedangkan untuk membaca jarak setiap garis tersebut, ketentuannya adalah sebagai berikut:
  • 1 derajat bujur/lintang = 111,322 km (diambil garis terpanjang yaitu equator)
  • 1 derajat bujur/lintang = 60′ (menit) = 3600″ (detik)
  • 1 menit bujur/lintang = 60″ (detik)
  • 1 menit bujur/lintang = 1.8885,37 meter
  • 1 detik bujut/lintang = 30, 9227 meter

Contoh Soal
Berapakah selisih antara 6⁰ 10′, 45″ LU sampai 7⁰ 11′, 48″ LU?

Jawab:
Selisih kedua jarak lintang tersebut adalah 1 derajat 1 menit dan 3 detik. Langkah selanjutnya adalah dengan menggunakan rumus mencari jarak di atas, yakni:

1° x 111,322 km = 111,322 km

1 menit x 1.885,37 m  = 1.885,37 m = 1,885 km

3 detik x 30, 9227 m = 927, 681 m = 0,926 km

Jadi 111,322 km  + 1.885,37 m + 927, 681 m = 114,134 km

E. Membandingkan Dengan Peta Lain Yang Sama Memiliki Skala Yang Berbeda


Contoh soal:


Jawab:
P2 = 5/10 x 100.000
P2 = 1/2 x 100.000
P2 = 50.000
maka skala peta B adalah 1 : 50.000

F. Menghitung skala dengan melihat garis kontur
Kontur adalah garis yang menunjukkan ketinggian yang sama, Kontur interval adalah jarak di antara dua garis kontur. Garis kontur menggunakan satuan meter. Garis kontur biasanya terdapat pada peta topografi.

Ciri-ciri kontur:
  • tidak berpotongan
  • satu garis menunjjukan satu ketinggian
  • garis kontur rapat = lereng terjal/curam
  • garis kontur renggang = lereng landai
  • angak kontur menunjukkan interval (CI)
  • angka kontur dalam satuan meter
  • lereng terjal cocok untuk wilayah konservasi/hutan dan PLTA
  • lereng landai cocok untuk wilayah pemukiman, pertanian, dan jalur pendakian

Mencari skala peta dari garis kontur


CI adalah kontur interval / beda tinggi yang didapat dari pengurangan angka ketinggian kontur di garis atas dikurangi angka ketinggian kontur di garis yang bawahnya.

Contoh:
Soal 1
Diketahui dari sebuah peta, selisih garis antar kontur adalah 100 meter. Berapa skala peta tersebut?
a. 1 : 100.000
b. 1 : 150.000
c. 1 : 200.000
d. 1 : 250.000
e. 1 : 300.000

Jawab:
CI = 100 meter
Skala = CI x 2000 m
         = 100 m x 2000 m
         = 200.000

Jadi skala peta tersebut adalah 1:200.000

Soal 2
Hitung skala peta pada gambar kontur di atas !
Ci = 40 meter

40 x 2000 = 80.000

jadi skala peta di atas adalah 1 : 80.000

Senin, 06 Agustus 2018

Komponen-Komponen Peta

Peta memiliki kelengkapan penting agar mudah dibaca dan dipahami. Kelengkapan tersebut dinamakan komponen peta. Komponen-komponen peta antara lain sebagai berikut:

1. Judul peta
Judul peta merupakan identitas atau nama untuk menjelaskan isi atau gambar peta. Judul peta biasanya terletak di bagian atas peta. Judul peta merupakan komponen yang penting. Biasanya sebelum memperhatikan isi peta, pasti seseorang terlebih dahulu membaca judulnya.

2. Legenda
Legenda merupakan keterangan yang berisi gambar-gambar atau simbol-simbol beserta artiny. Legenda biasanya terletak di bagian pojok kiri bawah peta.



3. Skala
Skala merupakan perbandingan jarak antara dua titik pada peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Misalnya skala 1 : 200.000. Skala ini artinya 1 cm jarak pada peta sama dengan 200.000 cm atau 2 km jarak sebenarnya.

4. Simbol
Simbol merupakan lambang-lambang atau gambar yang menunjukkan obyek alam atau buatan. Simbol peta harus memenuhi tiga syarat yakni sederhana, mudah dimengerti, dan bersifat umum. Berikut ini adalah simbol-simbol yang biasa digunakan pada peta.

* Berdasarkan bentuknya, simbol peta terdiri dari: 
  • simbol titik, digunakan untuk mewakili tempat seperti simbol kota, kecamatan, bandara, stasiun, terminal.

  • simbol garis, digunakan untuk mewakili kenampakan sungai, jalan, rel, batas propinsi, batas negara.

  • simbol area (wilayah), digunakan untuk menunjukkan kenampakan area (memiliki volume) seperti rawa, hutan, pesawahan dll.

  • simbol aliran, digunakan untuk menunjukkan alur atau gerak suatu barang/komoditas.

* Berdasarkan sifatnya, simbol terdiri atas:
  • simbol kuantitas, digunakan untuk menyatakan kenampakan dalam bentuk jumlah
  • simbol kualitatif, digunakan untuk menunjukkan perbedaan fenomena.

5. Mata angin
Mata angin merupakan pedoman atau petunjuk arah mata angin. Mata angin pada peta biasanya berupa tanda panah yang menunjuk ke arah utara. Mata angin sangat penting keberadaanya supaya tidak terjadi kekeliruan arah.

6. Garis astronomis
Garis astronomis merupakan garis khayal di atas permukaan bumi. Garis astronomis terdiri dari dari garis lintang dan garis bujur. 
  • Garis lintang merupakan garis dari timur ke barat sedangkan 
  • garis bujur merupakan garis dari utara ke selatan.
7. Garis tepi
Garis tepi merupakan garis yang dibuat mengelilingi gambar peta untuk menunjukkan batas peta tersebut.

8. Tahun pembuatan peta
Tahun pembuatan peta menunjukkan kapan peta tersebut dibuat. Dari tahun pembuatan kita dapat mengetahui peta tersebut masih sesuai atau tidak untuk digunakan saat ini.

9. Inset peta
Inset peta merupakan gambar peta yang ingin diperjelas atau karena letaknya di luar garis batas peta. Inset peta digambar bila diperlukan. Inset peta disebut juga peta sisipan.

10. Tata warna
Tata warna merupakan pewarnaan pada peta untuk membedakan obyek satu dengan yang lainnya. Misalnya warna coklat menunjukkan dataran tinggi, hijau menunjukkan dataran rendah dan biru untuk menunjukkan wilayah perairan. 

Minggu, 05 Agustus 2018

Peta dan Jenisnya

Permukaan bumi dengan segala isinya merupakan sesuatu yang terlalu luas untuk dapat dijelajahi. Manusia beserta makhluk hidup lainnya, sungai, laut, daratan, gunung, lembah, kota, negara, adalah berbagai fenomena alam dan budaya yang tersebar mengisi permukaan bumi ini. Semua hasil ciptaanNya tersebut adalah semata-mata untuk manusia, sehingga manusia penting mengetahuinya. Walau demikian, kita memiliki keterbatasan untuk dapat mengetahui semua informasi yang tersebar di berbagai belahan bumi ini. Kita hanya dapat mengenal keadaan dan rupa dari permukaan bumi sejauh batas pandangannya mengizinkan. Karena itu, agar pola dari seluruh atau sebagian permukaaan bumi dapat ditangkap dalam sekali pandangan maka dibuatlah bumi yang diproyeksikan dalam bentuk peta.

Kapan peta mulai ada dan digunakan manusia? Peta mulai ada dan digunakan manusia, sejak manusia melakukan penjelajahan dan penelitian. Walaupun masih dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu dalam bentuk sketsa mengenai lokasi suatu tempat. Pada awal abad ke 2 (87 M – 150 M), Claudius Ptolomaeus mengemukakan mengenai pentingnya peta. Kumpulan dari peta-peta karya Claudius Ptolomaeus dibukukan dan diberi nama “Atlas Ptolomaeus”. 

Istilah peta diambil dari bahasa Inggris yaitu map. Kata itu berasal dari bahasa Yunani mappa yang berarti taplak atau kain penutup meja. Menurut ICA (International Cartographic Association), peta adalah suatu gambaran atau representasi unsur-unsur kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi, yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa. Dengan demikian, peta adalah gambar, akan tetapi tidak semua gambar adalah peta. Penggunaan skala pada peta merupakan perbandingan antara bidang gambar dengan permukaan bumi sebenarnya. Permukaan bumi tidak mungkin digambar sesuai ukuran aslinya, sehingga harus diperkecil dengan perbandingan tertentu. Karena peta sebagai gambaran permukaan bumi pada sebuah bidang datar, sedangkan bumi merupakan benda berbentuk bola maka untuk membuat peta, baik sebagian maupun seluruh permukaan bumi harus menggunakan teknik proyeksi tertentu. Ilmu yang mempelajari tentang pengetahuan dan teknik pembuatan peta disebut kartografi, sedangkan orang yang ahli membuat peta disebut kartografer. 

Pada awalnya, pembuatan peta hanya untuk menggambarkan permukaan bumi yang bersifat umum. Setelah itu, peta berkembang sehingga menggambarkan hal-hal khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pembuat dan pengguna peta. Dengan demikian, peta yang biasa kamu temukan sangat benyak jenisnya. Banyaknya jenis peta tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya
tujuan pembuatan peta, jenis simbol dan skala yang digunakan, atau kecenderungan penonjolan bentuk fenomena yang akan digambarkan. 

Dari sekian banyak jenis peta, pada dasarnya dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok besar yaitu berdasarkan isi peta, skala peta, Objeknya

Menurut isi peta, dibedakan atas peta umum dan peta khusus

1. Peta umum, adalah peta yang menggambarkan seluruh penampakan yang ada di permukaan bumi, baik bersifat alamiah (misalnya sungai, danau, gunung, laut, hutan, dan lain-lain) maupun budaya atau buatan manusia (misalnya: batas wilayah, jalan raya, kota, pelabuhan udara, perkebunan, dan lain-lain). Contoh peta umum antara lain: peta dunia, peta korografi, peta rupa bumi dan peta topografi. 

2. Peta khusus disebut pula peta tematik, adalah peta yang menggambarkan atau menyajikan informasi penampakan tertentu (spesifik) di permukaan bumi. Pada peta ini, penggunaan simbol merupakan ciri yang ditonjolkan sesuai tema yang dinyatakan pada judul peta. Beberapa contoh peta tematik antara lain: peta iklim, peta geologi, peta penggunaan lahan, peta persebaran penduduk, dan lain-lain.

*Menurut skala yang dibuat, peta dapat dikelompokkan sebagai berikut:


  • Peta kadaster, yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 100 sampai dengan 1 : 5.000. Contoh: Peta hak milik tanah (peta sertipikat tanah).
  • Peta skala besar, yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 5.000 sampai dengan 1: 250.000. Contoh: Peta topografi.
  • Peta skala sedang, yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 250.000 sampai dengan 1 : 500.000. Contoh: Peta kabupaten per provinsi.
  • Peta skala kecil, yaitu peta yang memiliki skala antara 1 : 500.000 sampai dengan 1 : 1.000.000. Contoh: Peta Provinsi di Indonesia.
  • Peta geografi, yaitu peta yang memiliki skala lebih kecil dari 1 : 1.000.000. Contoh: Peta Indonesia dan peta dunia.
* Berdasarkan Objek Peta
Berdasarkan sifat objek yang disajikan, peta dapat dibedakan menjadi peta dinamis dan peta stasioner (tetap). Peta yang menggambarkan objek yang tidak tetap atau selalu berubah dikatakan sebagai peta dinamis. Peta yang menggambarkan objek yang tetap dikatakan sebagai peta stasioner, seperti peta negara, peta geologi, peta tanah.

Perhatikan gambar peta di bawah ini!









  
Fungsi dan Tujuan Pembuatan Peta

Fungsi :
  • Menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat.
  • Mengetahui arah, jarak dan luas suatu tempat.
  • Mengetahui penampakan di permukaan bumi.
  • Menyajikan data potensi suatu daerah.

Tujuan :
  • Komunikasi informasi antar ruang.
  • Penyimpan informasi
  • Alat suatu pekerjaan
  • Analisis data spasial 

Lanjut Baca:

GEOGRAFI POPULER

Memahami Bumi, Membaca Dunia "Geografi bukan sekadar tentang peta atau nama-nama tempat. Geografi adalah cara memahami bagaimana Bumi b...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan