Tampilkan postingan dengan label Dinamika Penduduk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dinamika Penduduk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2018

Menghitung Penduduk Suatu Wilayah

Sebelum kita bahas pertumbuhan penduduk, kita harus mengetahui dinamika penduduk terlebih dahulu. 

1. Dinamika Penduduk 
Dinamika penduduk ialah perubahan jumlah penduduk yang disebabkan oleh faktor-faktor kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk atau migrasi. 

2. Pertumbuhan Penduduk
 Pertumbuhan penduduk ialah perkembangan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Pertumbuhan penduduk ini dinyatakan dengan persen (%). Untuk menghitung dalam berapa tahun penduduk suatu negara berlipat dua, maka digunakan rumus:
Misalnya: Tingkat pertumbuhan penduduk 3½ % per tahun. Maka: 70 : 3½ = 20 tahun. Jadi, penduduk akan berlipat 2 dalam waktu 20 tahun. 

Hal yang perlu diperhatikan tentang pertumbuhan penduduk adalah sebagai berikut.
a. Tingkat Kelahiran (Fertilitas atau Natalitas) 
Tingkat kelahiran, yaitu banyaknya bayi yang lahir dari setiap 1.000 penduduk tiap tahun. Misalnya, tingkat kelahiran 25, artinya bagi setiap 1.000 orang penduduk setiap tahunnya terdapat kelahiran bayi 25 orang. Tingkat kelahiran ini disebut Tingkat Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate) karena tidak memperhatikan jenis kelamin dan golongan umur. Jika dalam perhitungan memperhatikan jenis kelamin dan golongan umur, disebut Tingkat Kelahiran Menurut Golongan Umur (Age Specific Fertility Rate) atau dapat disebut Age Specific Birth Rate.

b. Tingkat Kematian (Mortalitas) 
Tingkat kematian, yaitu jumlah kematian dari setiap 1.000 penduduk tiap tahun. Misalnya, tingkat kematian 25 artinya dari setiap 1.000 penduduk terdapat kematian sebanyak 25 orang. Tingkat kematian ini disebut Tingkat Kematian Kasar (Crude Death Rate) karena tidak memperhatikan jenis kelamin dan golongan umur. Jika dalam perhitungannya memperhatikan jenis kelamin dan golongan umur, disebut Tingkat Kematian Menurut Golongan Umur (Specific Death Rate). 

Apabila banyak kematian bayi maka disebut Tingkat Kematian Bayi (In Fant Mortality Rate). Tingkat kematian bayi dihitung dari berapa bayi yang meninggal dibagi dengan jumlah bayi yang lahir hidup dikalikan 1.000. Yang dimaksud dengan bayi adalah anak-anak yang berumur 0 – 1 tahun. Rumusnya sebagai berikut:


Angka kelahiran maupun angka kematian dinyatakan dengan promil (‰) setiap tahun, artinya per 1.000 penduduk tiap tahun. 

Pertumbuhan penduduk ada dua macam, yaitu sebagai berikut.
a. Pertumbuhan Penduduk Alami (Natural Increase)
Pertumbuhan penduduk alami, yaitu pertumbuhan penduduk yang terjadi karena jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian atau sebaliknya, jumlah kelahiran lebih kecil dari jumlah kematian. Rumusnya: 


X = pertumbuhan penduduk alami 
L = jumlah kelahiran 
M = jumlah kematian

b. Pertumbuhan Penduduk karena Migrasi 
Pertumbuhan penduduk karena migrasi, yaitu pertumbuhan penduduk yang terjadi karena jumlah orang yang datang (imigrasi) lebih besar daripada orang yang pergi (emigrasi) atau sebaliknya, jumlah orang yang datang lebih kecil daripada orang yang pergi. Cara perhitungan pertumbuhan penduduk karena migrasi. Rumusnya: 


X = pertumbuhan penduduk 
L = jumlah kelahiran 
M = jumlah kematian 
I = jumlah imigrasi 
E = jumlah emigrasi 

3. Harapan Hidup pada Waktu Lahir 

Kelahiran (natalitas) adalah kelahiran bayi hidup yang terjadi dalam lingkungan penduduk daerah tertentu, selama periode tertentu. Biasanya dihitung dalam satu tahun. 


  • Lahir hidup (life birth) ialah pada waktu bayi lahir menunjukkan tanda-tanda kehidupan, misalnya denyut nadi dan menangis.
  • Lahir mati tidak dicatat dalam kelahiran. 
Beberapa indikator yang dipergunakan untuk mengukur kualitas fisik penduduk, antara lain angka kematian bayi dan angka harapan hidup. Di Indonesia, angka kematian bayi laki-laki antara tahun 1985 – 1990 sebesar 78‰ (per seribu), sedangkan bayi perempuan 64‰ per tahun. 

Angka harapan hidup waktu lahir laki-laki sebesar 61,04 per tahun, sedangkan untuk perempuan 64,7 per tahun (BPS, 1988). Karena keberhasilan program KB, angka kematian bayi dari tahun ke tahun terus menurun, yaitu dari 71 (rata-rata kematian bayi) pada periode 1990 – 1995 sebesar 65. Angka harapan hidup diproyeksikan pada periode 1990 – 1995 sebesar 64,8 (laki-laki 62,92 dan perempuan 66,70). Dari tahun ke tahun, angka kematian bayi menurun lebih cepat daripada angka kelahiran. 



Apabila dibandingkan dengan besarnya tingkat kematian bayi di Swedia dan Sri Langka, Indonesia lebih besar. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Afganistan, tingkat kematian bayi Indonesia lebih kecil.

Kepadatan Penduduk 
Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk suatu wilayah dibandingkan dengan luas wilayah itu. Persebaran penduduk yang tidak merata dapat menyebabkan kepadatan penduduk yang berbeda-beda di tiap wilayah. Kepadatan penduduk ada dua jenis, yaitu sebagai berikut.



a. Kepadatan Penduduk Aritmatik 
Kepadatan penduduk aritmatik adalah jumlah rata-rata penduduk dalam setiap wilayah seluas satu kilometer persegi.

Misalnya: 

Pulau Jawa luas wilayahnya 132.187 km2, sedangkan jumlah penduduk tahun 1980 sebanyak 91.270.000 jiwa. Jadi, kepadatan penduduk Pulau Jawa tahun 1980 adalah: 91.270.000 : 132.187 = 690 jiwa/km2

b. Kepadatan Penduduk Agraris 
Kepadatan penduduk agraris adalah jumlah rata-rata penduduk dalam setiap wilayah seluas satu kilometer persegi lahan pertanian.

Misalnya: 
Pada tahun 1985 jumlah penduduk Pulau Jawa dan Madura sebanyak 99.502.369 orang. Luas lahan pertaniannya 67.687 km2. Jadi, kepadatan penduduk agraris Pulau Jawa tahun 1985 adalah 99.502.369 : 67.687 = 1.470 jiwa/km2 lahan pertanian.

5. Rasio Ketergantungan (Dependency-Ratio
Berdasarkan piramida penduduk, ada tiga golongan umur sebagai berikut: 
  • golongan umur muda (usia 0 – 14 tahun ke bawah); 
  • golongan umur dewasa (usia 15 – 64 tahun);
  • golongan umur tua (usia 65 tahun ke atas). 

Golongan umur muda dan golongan umur tua disebut kelompok tidak produktif. Golongan umur dewasa disebut kelompok usia ekonomis produktif. Kelompok usia muda dan kelompok usia tua menjadi beban tanggungan dari kelompok usia dewasa. Ukuran umum yang digunakan untuk menentukan beban tanggungan adalah Rasio Ketergantungan. Angkanya diperoleh dari hasil bagi antara jumlah yang tergantung dengan jumlah yang produktif.



Contoh: Angka ketergantungan di Indonesia tahun 1961: 

  • Kelompok umur muda (0 – 14 tahun) = 42,1% 
  • Kelompok umur dewasa (15 – 64 tahun) = 53,8% 
  • Kelompok umur tua (65 tahun ke atas) = 4,1% 


6. Proyeksi Penduduk 
Proyeksi penduduk perlu diketahui untuk memperoleh gambaran, apakah yang harus dilaksanakan suatu negara untuk mensejahterakan penduduknya berkenaan dengan jumlah penduduknya. Untuk membuat proyeksi penduduk pada suatu tahun tertentu digunakan rumus:
  • Pn = jumlah penduduk yang dicari pada tahun tertentu 
  • r = tingkat pertumbuhan penduduk dalam %
  • n = jumlah tahun dihitung, yaitu dari tahun yang akan dicari jumlahnya dikurangi dengan tahun permulaan yang sudah diketahui jumlah penduduknya (Pn – Po) 
  • Po = (Po bukan P nol) jumlah penduduk pada tahun yang diketahui 
Contoh: 
Pada tahun 1961, jumlah penduduk Indonesia 94.911.000 orang. Tingkat pertumbuhan penduduk 2,3%. Berapa jumlah penduduk tahun 1970? 


7. Angkatan Kerja 
a. Beberapa Pengertian dan Rumus 
  1. Angkatan kerja, yaitu bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat atau berusaha terlibat dalam kegiatan produktif. Dengan kata lain, angkatan kerja adalah jumlah orang yang bekerja dan pencari kerja.
  2. Tenaga kerja, yaitu jumlah seluruh penduduk yang dapat memproduksi barang dan jasa, jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan mereka mau berpartisipasi serta beraktivitas.
  3. Bekerja, yaitu penduduk usia 10 tahun ke atas yang selama satu minggu melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh penghasilan dan bekerja paling sedikit satu jam seminggu.
  4. Jenis pekerjaan, misalnya profesional, kepemimpinan, administrasi, penjualan, usaha jasa, usaha pertanian dan produksi, Polisi, serta TNI.
  5. Lapangan pekerjaan, misalnya pertanian, pertambangan, industri pengolahan, listrik, bangunan, perdagangan, angkutan, keuangan, dan jasa.
  6. Status pekerjaan, misalnya pengusaha dengan buruh dan pengusaha tanpa buruh.
  7. Proyeksi penduduk, yaitu perkiraan jumlah penduduk usia kerja di masa yang akan datang.
  8. Rumus untuk mengetahui angkatan kerja:
  9. Rumus kesempatan kerja Rumusnya:
  10. Rumus Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

b. Angkatan Kerja di Negara Berkembang 
Angkatan kerja di negara berkembang, keadaannya sebagai berikut.
  1. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja lebih tinggi dibanding negara maju.
  2. Tingginya persentase angkatan kerja tergantung pada sektor pertanian.
  3. Penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian yang tidak terampil hasilnya rendah.
  4. Kualitas angkatan kerja rendah, yaitu keterampilan, kesehatan, dan efisiensinya.
  5. Pengangguran dan setengah pengangguran banyak.
c. Pengangguran Ada dua macam pengangguran, yaitu sebagai berikut.
  1. Pengangguran terbuka ialah orang yang tidak bekerja sama sekali atau sedang mencari pekerjaan. Cara menghitung tingkat pengangguran adalah dengan memakai rumus berikut ini: Pengangguran terbuka, biasanya terbatas pada pekerja terdidik yang dapat menanti dan mengharapkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Hal itu terjadi karena mereka mempunyai latar belakang sosial ekonomi yang lebih kuat. Pengangguran ini umumnya di bawah 10% dari angkatan kerja, yaitu pada golongan penduduk usia muda (15 – 29 tahun). Biasanya angkatan kerja wanita.
  2. Setengah pengangguran ialah orang yang bekerja hanya beberapa jam tiap harinya atau kurang dari 25 jam per minggu. 
Faedah mengetahui rumus-rumus tersebut adalah agar siswa dapat menghitung dan mengetahui tentang berapa jumlah angkatan kerja, kesempatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja, tingkat pengangguran apabila ada data-datanya. Jadi, setelah siswa tamat sekolah memungkinkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, tidak hanya mengharapkan pekerjaan dari pemerintah. 

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketenagakerjaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketenagakerjaan ada dua, yaitu faktor yang menentukan permintaan tenaga kerja dan faktor yang mempengaruhi penawaran tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja berasal dari perusahaan, lembaga pemerintah, dan rumah tangga (keluarga). Keseluruhannya ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut.
  1. Struktur ekonomi, meliputi sektor pertanian, industri, dan jasa.
  2. Struktur produksi, meliputi sektor formal atau informal, intensif modal atau tenaga, dan skala besar atau kecil.
  3. Hubungan produksi, meliputi hubungan status pemilikan dan hubungan kerja antara buruh-majikan.
  4. Kebijaksanaan pemerintah, meliputi development (pengembangan) dan central planning (rencana pusat).
  5. Fluktuasi siklus ekonomi internasional, ditentukan oleh mekanisme pasar dunia.
e. Pengangguran dan Lapangan Kerja 
Laju pertumbuhan penduduk yang cepat mengakibatkan lebih pincangnya keseimbangan antara tenaga kerja dengan lapangan kerja yang tersedia.
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa di negara kita masih besar penganggurannya. 

Komposisi Penduduk (Susunan Penduduk)

Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk berdasarkan ciriciri tertentu, misalnya berdasarkan umur, jenis kelamin, mata pencarian, kebangsaan, suku bangsa, agama, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan tempat tinggal. 

Komposisi penduduk suatu daerah atau negara penting untuk diketahui, karena dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah suatu negara dalam melaksanakan kebijakan pembangunan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya. Komposisi penduduk dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan, contohnya sebagai berikut. 
  1. Dari komposisi penduduk menurut umur, diketahui bahwa penduduk suatu daerah sebagian besar termasuk usia sekolah. Berdasarkan hal tersebut maka pemerintah dapat menyediakan gedung sekolah maupun gurunya.
  2. Berdasarkan tingkat pendidikan, diketahui bahwa banyak lulusan SMA yang tidak dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan tingkat pendidikan tersebut.
  3. Berdasarkan keterangan mengenai tempat tinggal, diketahui banyak penduduk tidak memiliki rumah. Oleh karena itu, pemerintah membangun rumah-rumah sederhana untuk masyarakat dengan jalan mengangsur. 

Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin 
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin adalah penduduk yang dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelaminnya. Kegunaan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin untuk mengetahui: 
  1. jumlah penduduk laki-laki dan perempuan,
  2. perincian umur untuk setiap jenis kelamin,
  3. jumlah penduduk usia sekolah,
  4. jumlah usia kerja, serta
  5. jumlah usia tua.
Apabila diperhatikan kelompok umurnya, maka jumlah penduduk tahun 2000 yang paling banyak adalah dari golongan umur antara 0 – 4 tahun, 5 – 9 tahun, 10 – 14 tahun, dan 15 – 19 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, jumlah penduduk, baik jenis kelamin laki-laki maupun perempuan hampir seimbang. Dengan demikian, penduduk Indonesia pada tahun 2000 termasuk penduduk muda.

Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan adalah komposisi yang memberikan gambaran mengenai tingkat kepandaian dari hasil pendidikan formal.

Berdasarkan angka-angka pada tabel tersebut, disimpulkan bahwa kemajuan pendidikan di Indonesia harus dipercepat. Setiap anak harus bersekolah dan lulus (tamat). Sedapat mungkin, mereka bisa melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

Senin, 17 September 2018

Fenomena Antroposfer dan Aspek Kependudukan di indonesia

Hal yang dipelajari dalam antroposfer adalah manusia (penduduk). 
Antroposfer berasal dari kata anthropos yang berarti manusia, dan sphaira (sphere) yang berarti bola atau lingkungan. Jadi, antroposfer adalah manusia (penduduk) yang berdiam di muka bumi. 
Adapun fenomena antroposfer adalah peristiwa atau terjadinya sesuatu di muka bumi yang berkaitan dengan manusia (penduduk). Fenomena antroposfer atau masalah kependudukan di Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Tingkat Pertumbuhan Penduduk 
Jumlah penduduk Indonesia dalam dua dekade terakhir ini terus bertambah. Pada tahun 1971 jumlahnya 119,2 juta; tahun 1980 jumlahnya 147,5 juta; dan tahun 1990 jumlahnya 179,3 juta. Berarti dalam waktu sembilan tahun, yaitu dari tahun 1971 - 1980 penduduk bertambah sebanyak 28,3 juta orang. Berarti pula kecepatan pertambahan penduduk sebesar 2,32% per tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun berikutnya, yaitu dari tahun 1980 – 1990, penduduk bertambah sebanyak 31,8 juta orang. Berarti kecepatan pertambahan penduduk sebesar 1,98% per tahun. Penurunan laju pertumbuhan tersebut, terutama disebabkan oleh penurunan tingkat kelahiran. Hal ini sebagai dampak dari meningkatnya persentase wanita dalam usia subur yang ikut program Keluarga Berencana dan meningkatnya usia kawin wanita. Laju pertumbuhan penduduk dan perubahannya untuk setiap provinsi tidak sama. Akan tetapi, semuanya menunjukkan kecenderungan menurun, kecuali Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Papua. Wilayah provinsi penerima transmigran, seperti Kalimantan Timur, Bengkulu, dan Riau, laju pertumbuhan penduduknya dalam kurun waktu 1980 sampai dengan tahun 1990 sangat tinggi. Kalimantan Timur laju pertumbuhan penduduknya 4, 42%, Bengkulu 4, 378%, dan Riau 4, 30%. 

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia adalah 206,3 juta jiwa. Jumlah ini meliputi penduduk Indonesia yang bertempat tinggal tetap sebesar 205,8 juta dan yang tidak bertempat tinggal tetap sebesar 421,399 jiwa. 

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, didapatkan jumlah penduduk Indonesia sebagai 237.641.334 jiwa. Dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2000, yakni 206.264.595 orang, ini adalah sebuah peningkatan sebanyak 31.376.831 orang (15,37% dalam 10 tahun atau rata-rata 1,54% per tahun). Data sensus menghitung 236.728.379 warga negara Indonesia (baik menetap atau nomaden) serta 73.217 warga negara asing yang berada di Indonesia selama setidaknya enam bulan, dan 839.730 tidak diketahui keberadaannya.

Untuk tingkat dunia, jumlah penduduk Indonesia menduduki urutan keempat paling banyak setelah Cina (pertama), India (kedua), Amerika Serikat (ketiga).



2. Persebaran Penduduk di Indonesia 

a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persebaran Penduduk 
1) Faktor Lingkungan 
Yang termasuk faktor lingkungan adalah sebagai berikut: 
  • faktor alam, meliputi iklim, relief, kesuburan tanah, dan persediaan air 
  • lingkungan budaya, meliputi pendidikan, kesempatan kerja, pengangkutan, dan perhubungan.
2) Faktor Potensi Ekonomi 
Faktor potensi ekonomi, yaitu kemampuan suatu wilayah untuk menyediakan sumber penghidupan bagi penduduk dan tersedianya sumber daya di wilayah itu. 

3) Faktor Demografi 
Faktor ini meliputi kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk. 

4) Faktor Politik 
Dengan adanya pemberontakan dan peperangan maka banyak penduduk yang pindah, sehingga akan mempengaruhi persoalan penduduk. 

b. Persebaran Penduduk 
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, didapatkan jumlah penduduk Indonesia sebagai 237.641.334 jiwa. Dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2000, yakni 206.264.595 orang, ini adalah sebuah peningkatan sebanyak 31.376.831 orang (15,37% dalam 10 tahun atau rata-rata 1,54% per tahun). 


1) Rasio Jenis Kelamin
Telah ditemukan bahwa rasio jenis kelamin untuk Indonesia adalah 101, yang berarti bahwa untuk setiap 100 wanita, terdapat 101 laki-laki. Rasio terbesar adalah di Papua dengan 113, dan yang terkecil adalah di Nusa Tenggara Barat, dengan 95 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

2) Urbanisasi 
Statistik menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk Indonesia saat ini tinggal di daerah perkotaan, dan setengah lainnya hidup di daerah pedesaan. Klasifikasi didasarkan pada nilai yang dihitung dari kepadatan penduduk, persentase rumah tangga yang bekerja di bidang pertanian, dan ketersediaan fasilitas kota seperti sekolah, pasar, rumah sakit, jalan beraspal, dan listrik.

3) Pendidikan 
Statistik menunjukkan bahwa 5.22% penduduk Indonesia telah melanjutkan pendidikan sekolah tinggi, sedangkan 9,28% tidak melanjutkan. Sekitar 30% penduduk telah tamat SD sementara 2-% belum tamat. Sekitar 17% penduduk memiliki ijazah SMP, 17% memiliki ijazah SMA, dan 1,92% dari SMK. Dari penduduk Indonesia yang menempuh pendidikan lanjut, sebanyak 1,89% telah mendapatkan gelar diploma, 3,09% telah mendapatkan gelar sarjana, dan kurang dari 0,5% melanjutkan ke pascasarjana.

Agama

c. Persebaran Penduduk 
Berdasarkan Provinsi Provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Bali merupakan tempat persebaran penduduk yang besar karena mempunyai daya tarik. Misalnya, tempat tersedianya sarana pendidikan, pengembangan budaya, dan teknologi.


3. Mobilitas Penduduk 
a. Pengertian 
Mobilitas penduduk atau gerakan penduduk ialah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. 

b. Jenis-jenis Mobilitas Penduduk 
Ada dua macam mobilitas penduduk, yaitu sebagai berikut. 
  • Migrasi, yaitu mobilitas penduduk yang bertujuan untuk menetap di daerah baru. 
  • Mobilitas sirkuler (mobilitas sementara), yaitu mobilitas penduduk untuk sementara waktu, tidak untuk menetap. Contohnya, setelah panen dan tidak ada kegiatan, para petani pergi ke kota untuk mencari nafkah (migrasi musiman); atau para pekerja yang pada waktu pagi pergi ke kota, sorenya kembali ke tempat tinggalnya di pinggiran kota.

c. Migrasi 
Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain di dalam negeri maupun dari suatu negara ke negara lain untuk menetap, baik secara perorangan, keluarga maupun berkelompok. 

Pengertian menetap menurut Sensus Penduduk Indonesia adalah orang yang tinggal di daerah baru selama enam bulan atau lebih. 

1) Sebab-Sebab Terjadinya Migrasi.
Ada beberapa sebab terjadinya migrasi, yaitu sebagai berikut. 
  • Alasan ekonomi, karena kesukaran hidup di suatu daerah mendorong keinginan untuk mencari kehidupan yang lebih baik ke daerah lain.
  • Alasan politis, yaitu adanya pergolakan politik dalam suatu negara sehingga kaum politisi pindah ke negara lain untuk mencari perlindungan dan keamanan dirinya.
  • Alasan agama, karena kurang terjamin atau terkekang dalam kehidupan beragama penduduk pindah ke daerah lain yang sesuai dengan kehidupan agamanya.
  • Alasan lain, misalnya bencana alam, kekeringan yang panjang, peperangan, kelaparan, dan wabah penyakit.

2) Jenis-Jenis Migrasi 
Ada 2 jenis migrasi, yaitu sebagai berikut. 
  • Migrasi antar negara (internasional), yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Yang termasuk migrasi antarnegara adalah sebagai berikut.
    • Imigrasi, yaitu masuknya penduduk negara lain ke satu negara. Misalnya, masuknya orang Malaysia ke Indonesia. Orang Malaysia tersebut disebut sebagai imigran. Perpindahannya itu disebut imigrasi. Imigrasi dapat bersifat permanen, artinya tinggal menetap untuk selamanya. Sebaliknya, dapat pula bersifat sementara, misalnya TKI ke Arab Saudi berdasarkan kontrak selama dua tahun.
    • Emigrasi, yaitu keluarnya penduduk dari suatu negara ke negara lain. Misalnya, orang-orang Indonesia yang pindah ke New Caledonia dan Suriname. Mereka disebut emigran. Perpindahannya disebut emigrasi.
    • Remigrasi, yaitu kembalinya para emigran ke negara asalnya. Misalnya, orang-orang Ambon yang tadinya pindah ke Belanda sebagai emigran, kemudian kembali lagi pindah ke Indonesia.
  • Migrasi dalam negeri (nasional), yaitu perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain di wilayah negara itu. Misalnya, perpindahan penduduk antarprovinsi. Yang termasuk imigrasi dalam negeri adalah sebagai berikut.
    • Transmigrasi (migrasi intern), yaitu perpindahan penduduk dari suatu pulau atau provinsi yang berpenduduk padat ke suatu pulau atau provinsi lain yang berpenduduk jarang di negara sendiri. Macam-macam transmigrasi adalah sebagai berikut.
      • Transmigrasi umum, yaitu transmigrasi yang semua biayanya ditanggung pemerintah, baik biaya perjalanan maupun biaya hidup selama satu tahun di daerah transmigrasi. Tiap keluarga mendapat alat pertanian, rumah, bibit, dan tanah seluas dua hektar.
      • Transmigrasi swakarsa, yaitu transmigrasi yang pembiayaannya sebagian ditanggung sendiri dan sebagian ditanggung pemerintah. Pemerintah memberi tanah dua hektar dan membiayai perjalanannya.
      • Transmigrasi spontan, yaitu transmigrasi yang seluruh biaya ditanggung oleh transmigran itu sendiri. Pemerintah tidak memberikan bantuan apa pun.
      • Transmigrasi bedol desa, yaitu transmigrasi yang dilakukan oleh seluruh penduduk desa beserta pejabat pemerintah desa. Transmigrasi bedol desa dilaksanakan karena bencana alam, misalnya karena letusan Gunung Merapi, penduduk beserta pejabat desa yang bertempat tinggal di kaki gunung dipindahkan ke Sumatera. Penduduk Wonogiri dipindahkan ke Sitiung (Sumatera Barat), karena daerahnya dibuat PLTA Gajah Mungkur (bendungan).
      • Transmigrasi khusus, yaitu transmigrasi yang diselenggarakan oleh Departemen Transmigrasi bersama instansi pemerintah atau organisasi lain, misalnya KNPI, Pramuka, dan sebagainya. Penyelenggaraannya sama dengan transmigrasi umum, misalnya transmigrasi pemuda ke Sumatera Utara (daerah Labuhanbatu).
      • Transmigrasi bekas pejuang, yaitu transmigrasi yang diselenggarakan oleh bekas pejuang dan yang ditransmigrasikan adalah mantan ABRI yang sudah pensiun. Daerah transmigrasinya adalah Kalimantan Barat, dan Lampung.
    • Urbanisasi, ialah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau kotakota besar. Permasalahan yang berkaitan dengan urbanisasi adalah sebagai berikut.
      • Keadaan di desa Banyak penduduk tidak memiliki tanah, pendapatan penduduk rendah, dan sulit mencari pekerjaan di luar bidang pertanian.
      • Keadaan di kota Banyak daya tarik di kota, misalnya hiburan, rekreasi, adanya gedung-gedung, fasilitas pendidikan lengkap, dan luasnya kesempatan kerja di desa.
      • Akibat urbanisasi Kekurangan tenaga kerja di desa. Akibatnya, sulit mencari tenaga yang berpendidikan di desa dan sulit mencari tenaga penggerak pembangunan di desa.
      • Akibat urbanisasi di kota Timbul pengangguran karena tidak semua yang urbanisasi dapat bekerja; timbul tuna wisma, dan daerah slum (kumuh); meningkatnya kejahatan; dan angkutan umum tidak dapat mencukupi kebutuhan penumpang yang terus meningkat.
      • Usaha pemerintah mengurangi urbanisasi Pemerintah membatasi penduduk desa pindah ke kota; melaksanakan pembangunan sampai ke daerah-daerah; mengembangkan kota-kota kecil; serta menyediakan fasilitas yang dibutuhkan penduduk desa, misalnya fasilitas pendidikan, kesehatan, hiburan, rekreasi, dan penerangan.
4. Kualitas Penduduk 
Kualitas penduduk disebut juga mutu penduduk atau mutu sumber daya manusia. Kualitas penduduk dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
  • kualitas fisik penduduk, meliputi pemenuhan gizi, kesehatan, kematian, dan harapan hidup pada waktu lahir;
  • kualitas nonfisik penduduk, meliputi pendidikan, latihan kerja, dan sikap (keinginan atau dorongan). 
Makin tinggi pendidikan, makin tinggi pula keterampilan dan pengetahuannya, serta makin mudah menerima pembaruan. Apabila pendidikan dilengkapi dengan latihan kerja maka akan lebih baik. Pendidikan dan latihan kerja akan memberikan kemampuan dan sikap yang diperlukan untuk bekerja dengan baik. Hasilnya, produktivitas kerja menjadi tinggi. Dengan kualitas fisik dan nonfisik yang tinggi maka orang-orang dapat bekerja dengan hasil yang tinggi.

Apabila suatu negara memiliki kualitas penduduk yang tinggi maka penduduk atau sumber daya tersebut merupakan modal dan bukan menjadi beban pembangunan. Oleh sebab itu, peningkatan jumlah penduduk (kuantitas) perlu diikuti dengan peningkatan kualitas penduduk. Di Indonesia, kualitas penduduk relatif masih rendah sehingga perlu ditingkatkan.

5. Upaya Pengendalian Penduduk 
Beberapa masalah pokok di bidang kependudukan di Indonesia adalah sebagai berikut. 
  • Jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi (dijelaskan di pokok bahasan Tingkat Pertumbuhan Penduduk). 
  • Persebaran penduduk tidak merata. Lebih dari 60% penduduk Indonesia bermukim di Pulau Jawa dan Madura yang luasnya 6,9% dari luas wilayah Indonesia. Sementara itu, di luar Pulau Jawa dan Madura jumlah penduduknya lebih sedikit. Persebaran penduduk yang tidak seimbang membawa akibat kelebihan tenaga kerja di Pulau Jawa. Sementara itu, di luar Pulau Jawa kekurangan tenaga kerja. Akibatnya, terjadi pengangguran.
  • Komposisi penduduk tidak menguntungkan. Penduduk yang berusia di bawah 15 tahun sebanyak 44% dan yang berusia di atas 64 tahun sekitar 2% sehingga angka ketergantungannya tinggi sebab usia ini tidak produktif. 
  • Mobilitas penduduk rendah. Pada dasarnya, penduduk Indonesia tidak suka berpindah, walaupun mungkin akan memberikan kehidupan yang lebih baik. Penduduk yang bertempat tinggal di Pulau Jawa sulit sekali untuk bersedia pindah ke luar Pulau Jawa. 
Dengan adanya masalah-masalah penduduk di Indonesia yang demikian maka kebijakan pemerintah dalam upaya pengendalian penduduk adalah sebagai berikut. 
  • Menurunkan tingkat kelahiran, yaitu dengan meningkatkan kesejahteraan keluarga dan mengurangi kemiskinan, meningkatkan perkembangan fisik dan mental anak, serta meningkatkan kesehatan ibu. Oleh karena itu, program Keluarga Berencana yang dikaitkan dengan kesejahteraan ibu dan anak akan diteruskan.
  • Usaha untuk mempengaruhi persebaran penduduk, yaitu program transmigrasi dan pembangunan daerah. Hal ini dimaksudkan agar tenaga kerja, tanah, dan sumber-sumber alam dapat dimanfaatkan secara optimal.

GEOGRAFI POPULER

Memahami Bumi, Membaca Dunia "Geografi bukan sekadar tentang peta atau nama-nama tempat. Geografi adalah cara memahami bagaimana Bumi b...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan