Tampilkan postingan dengan label Angin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2025

Apa Itu Angin Geostropik? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Gaya-Gaya yang Terlibat

Contoh Soal OSN Kebumian:

Angin geostropik adalah angin yang terbentuk akibat kesetimbangan gaya-gaya ...

a. gradien tekanan dengan Coriolis

b. gradien tekanan, sentrifugal, Coriolis

c. gradien tekanan dengan sentrifugal

d. gradien tekanan dengan gravitasi

e. gradien tekanan dengan gaya gesek


🌬️ Pembahasan Lengkap

1. 📌 Pengertian Angin Geostropik

Angin geostropik adalah angin yang bergerak sejajar dengan isobar (garis tekanan sama) di atmosfer atas (free atmosphere), yaitu di atas lapisan gesekan (biasanya di atas 1000 meter dari permukaan tanah).

Angin ini terjadi karena adanya kesetimbangan antara dua gaya utama:

  • Gaya gradien tekanan (Pressure Gradient Force / PGF)
  • Gaya Coriolis (akibat rotasi bumi)

Disebut geostropik karena mengacu pada “geo” (Bumi) dan “stropik” yang menunjukkan kesetimbangan gaya.


2. ⚖️ Gaya-Gaya yang Terlibat

Gaya

Simbol

Arah

Fungsi

Gaya Gradien Tekanan (PGF)

FPF_PFP​

dari tekanan tinggi → rendah

mendorong massa udara

Gaya Coriolis

FCF_CFC​

tegak lurus arah angin

membelokkan arah gerak karena rotasi Bumi

Gaya Gesek (F_friction)

ke arah berlawanan

hanya berlaku di dekat permukaan

Gaya Sentrifugal

menjauhi pusat lengkung

hanya muncul pada gerak melingkar (siklon/antisiklon)

Gaya Gravitasi

ggg

ke bawah

menjaga keseimbangan hidrostatik vertikal, tidak terlibat dalam angin horizontal


3. ⚙️ Kesetimbangan Geostropik

Pada kondisi geostropik, berlaku:

Artinya, gaya gradien tekanan yang mendorong udara dari tekanan tinggi ke rendah akan diimbangi oleh gaya Coriolis yang membelokkan aliran udara. Akibatnya, angin tidak bergerak langsung dari tinggi ke rendah, tetapi sejajar dengan isobar.

Hemisper Utara: angin geostropik mengalir dengan tekanan rendah di kiri dan tinggi di kanan
Hemisper Selatan: berlaku sebaliknya


4. 💡 Analisis Pilihan Jawaban

a. Gradien tekanan dengan Coriolis
✔️ Benar. Ini definisi tepat dari angin geostropik.

b. Gradien tekanan, sentrifugal, Coriolis
Ini adalah gabungan gaya yang muncul dalam angin siklostropik, bukan geostropik.

c. Gradien tekanan dengan sentrifugal
Salah. Gaya sentrifugal tidak muncul dalam gerak lurus seperti geostropik.

d. Gradien tekanan dengan gravitasi
Salah. Gaya gravitasi tidak berperan dalam aliran angin horizontal.

e. Gradien tekanan dengan gaya gesek
Salah. Gaya gesek hanya memengaruhi angin permukaan, bukan angin geostropik.


Jawaban yang Tepat:

a. gradien tekanan dengan Coriolis


🧠 Catatan Tambahan: Kapan Angin Tidak Geostropik?

  • Di permukaan bumi (di bawah 1000 m), angin dipengaruhi oleh gesekan, sehingga tidak lagi geostropik.
  • Di sekitar pusaran siklon/tornado, berlaku angin siklostropik karena tambahan gaya sentrifugal.

Minggu, 22 Juni 2025

Memahami Tentang MJO (Madden-Julian Oscillation): Si Pengendali Cuaca Tropis dari Samudra Hindia

Di tengah kompleksitas sistem iklim Bumi, Madden-Julian Oscillation atau disingkat MJO adalah salah satu fenomena atmosfer tropis yang paling berpengaruh namun masih kurang dikenal masyarakat umum. Padahal, MJO berperan besar dalam membentuk pola cuaca ekstrem, hujan lebat, bahkan kekeringan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.


Apa Itu MJO?

Madden-Julian Oscillation adalah pola gelombang cuaca tropis besar yang berjalan perlahan dari barat ke timur, terutama di sepanjang wilayah ekuator. Fenomena ini dinamai dari dua ilmuwan Amerika, Roland Madden dan Paul Julian, yang menemukannya pada tahun 1971.

Secara sederhana, MJO adalah pergerakan sistem konveksi (awan hujan) besar-besaran yang melintasi Samudra Hindia dan Pasifik Tropis. Gelombang ini bergerak dengan kecepatan 4–8 meter per detik dan biasanya menyelesaikan satu siklus dalam waktu 30 hingga 60 hari.

Bagaimana Cara Kerjanya?

MJO terdiri dari dua fase utama:

  1. Fase Basah (Enhanced Convection)
    Ditandai dengan meningkatnya awan konvektif dan curah hujan. Di fase ini, wilayah yang dilalui akan mengalami peningkatan hujan, badai, atau cuaca basah ekstrem.

  2. Fase Kering (Suppressed Convection)
    Awan dan curah hujan menurun drastis. Wilayah yang dilalui fase ini cenderung mengalami cuaca kering dan panas.

Kedua fase ini bergeser dari barat ke timur, memengaruhi berbagai negara tropis termasuk Indonesia, India, Afrika Timur, dan negara-negara Pasifik.

Mengapa MJO Penting bagi Indonesia?

Indonesia berada tepat di jalur lintasan MJO. Artinya, aktivitas MJO dapat menentukan apakah Indonesia mengalami hujan deras atau malah kekeringan dalam satu bulan tertentu. MJO juga dapat memperkuat atau memperlemah fenomena cuaca lainnya seperti La Niña dan El Niño.

Contoh pengaruh MJO di Indonesia:

  • Saat fase basah aktif di wilayah Indonesia, curah hujan meningkat signifikan, memperbesar potensi banjir, tanah longsor, dan badai tropis.

  • Saat fase kering aktif, petani bisa mengalami kekeringan, kekurangan air, dan bahkan gagal panen.

Hubungan MJO dengan Iklim Global

MJO tidak hanya memengaruhi Asia Tenggara, tapi juga berdampak global. Misalnya:

  • Musim hujan di Australia dan India

  • Pembentukan badai tropis di Pasifik dan Atlantik

  • Pemicu gangguan pola jetstream di Amerika Serikat dan Eropa

Selain itu, MJO berperan penting dalam pembentukan dan prediksi siklon tropis, serta memengaruhi keberhasilan prakiraan cuaca jangka menengah (10–30 hari).

Bagaimana MJO Dipantau?

Lembaga seperti BMKG, NOAA, dan Badan Meteorologi Jepang (JMA) terus memantau aktivitas MJO menggunakan satelit cuaca, model atmosfer, dan pengukuran suhu serta tekanan udara laut.

Informasi ini sangat penting terutama bagi:

  • Petani dalam menentukan masa tanam dan panen

  • Nelayan dalam memperkirakan potensi cuaca buruk di laut

  • Pemerintah daerah dalam mitigasi bencana

  • Masyarakat umum untuk kesiapsiagaan cuaca

Kesimpulan: MJO adalah Sinyal Awal Cuaca

MJO bukan badai, bukan topan, tetapi ia adalah sinyal raksasa dari Samudra Hindia yang bisa memberi petunjuk tentang cuaca kita minggu-minggu ke depan. Di era perubahan iklim dan cuaca ekstrem, memahami MJO bisa menjadi kunci untuk adaptasi dan mitigasi yang lebih cerdas.

Maka, jangan sepelekan gerakan awan di atas laut sana—karena bisa jadi itu adalah MJO yang sedang membawa kabar cuaca untuk kita semua.

Kamis, 19 Juli 2018

Angin Siklon dan Anti Siklon

A. Angin Siklon 
Angin Siklon merupakan angin yang masuk ke daerah pusat tekanan rendah (daerah depresi) yang dikelilingi oleh wilayah-wilayah pusat tekanan tinggi kemudian berputar mengelilingi garis-garis isobar.

Sesuai Hukum Buys Ballot bahwa di belahan bumi selatan angin berbias ke kiri dan sebaliknya. Gerakan angin siklon mengikuti hukum ini sehingga arah putaran siklon di Belahan Bumi Utara berbeda dengan di Belahan Bumi Selatan. Gerakan siklon di Belahan Bumi Utara berlawanan dengan arah putaran jarum jam, sedangkan di Belahan Bumi Selatan searah dengan jarum jam.

Angin siklon dibagi sebagai beberapa bentuk sesuai gerakannya, diantaranya:
1. Angin Siklon tropik
Siklon tropik terjadi di daerah tropis, yaitu antara 10° - 20° LU dan 10° - 20° LS. Sering terjadi di wilayah lautan daripada di daratan, misalnya di Indonesia pernah terjadi di sekitar Pulau Timor (11° LS). Mengenai wilayah pergerakan siklon tropis. Diameter angin siklon tropik ± 100.500 km, kecepatannya antara 100 – 500 km/jam. Gradien barometernya antara 50 - 100 mb. Siklon tropis merupakan bentuk gangguan cuaca ekstrem, yang terjadi diawali adanya depresi tropis atau pusat tekanan rendah yang intensif di atas lautan sehingga memicu proses konveksi dan pembentukan awan secara intensif pula. Akibat pengaruh gaya Coriolis maka terjadilah pusaran awan yang bergerak ke arah barat atau barat laut. Oleh karena gaya Coriolis ditentukan oleh posisi lintang tempat, maka gerak siklonik tidak dapat atau sulit terjadi di daerah yang berada di dekat ekuator. Umumnya pembentukan siklon tropis ini efektif pada daerah lintang di atas 10o lintang utara maupun lintang selatan. Oleh sebab itu wilayah Indonesia bukan merupakan daerah pembentukan badai/siklon tropis tetapi posisi geografisnya berbatasan dengan daerah pembentukan dan lintasan siklon tropis.
Badai/siklon tropis tidak hanya berdampak terhadap daerah lintasannya secara langsung tetapi berpengaruh pula terhadap kondisi cuaca di sekitarnya. Oleh karena badai/siklon tropis berpengaruh terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia dan dapat terjadi di luar periode yang semestinya, maka pemantauan badai/siklon tropis di sekitar Indonesia penting untuk dilakukan agar informasi mengantisipasi kemungkinan dampaknya baik berupa cuaca buruk maupun bencana banjir dan longsor. Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudra memiliki permasalahan cuaca/iklim yang sangat kompleks. Pergerakan semu matahari yang bergerak utara-selatan sangat besar pengaruhnya terhadap cuaca di Indonesia. Pada saat matahari berada di utara, Benua Asia mengalami pemanasan sehingga tekanan udara rendah dan di bagian selatan tekanan udara tinggi, maka angin akan bergerak dari selatan ke utara. Demikian juga terjadi dengan kondisi sebaliknya.
Pengaruh samudra juga tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pengaruh benua. Samudra yang luas merupakan sumber pembentukan siklon tropis. Pengaruh perbedaan suhu pemukaan laut akan menyebabkan perbedaan tekanan udara dan berakibat pergerakan massa udara. Perbedaan suhu permukaan laut dan tekanan udara di wilayah Samudra Pasifik menjadi pertanda adanya kondisi Iklim El Nino. Siklon tropis maupun El Nino dapat menyebabkan kondisi cuaca atau iklim ekstrem di daerah tropis. Secara umum proses dan pembentukan kondisi dua fenomena tersebut berbeda, namun diyakini bahwa kedua fenomena ini membawa pengaruh kondisi iklim ekstrem basah maupun kering.
Kondisi iklim ekstrem, banjir maupun kekeringan merupakan suatu bencana yang silih berganti datang dan tingkat bahaya yang sama. Banjir biasanya terjadi sesaat dalam waktu singkat tidak sampai berbulanbulan, namun bahayanya sama dengan kekeringan yang terjadi dalam waktu berbulan-bulan. Dalam meteorologi, siklon tropis (hurikan, angin puyuh, badai tropis, taifun atau angin ribut tergantung pada daerah dan kekuatannya) adalah sebuah jenis sistem tekanan udara rendah yang terbentuk secara umum di daerah tropis. Sementara angin sejenisnya dapat bersifat destruktif tinggi, siklon tropis adalah bagian penting dari sistem sirkulasi atmosfer yang memindahkan panas dari daerah khatulistiwa menuju garis lintang yang lebih tinggi. Daerah pertumbuhan siklon tropis paling subur di dunia adalah Samudra Hindia dan perairan barat Australia. Sebagaimana dijelaskan Biro Meteorologi Australia, pertumbuhan siklon di kawasan tersebut Mencapai rata-rata 10 kali per tahun. Siklon tropis selain menghancurkan daerah yang dilewati, juga menyebabkan banjir. Australia telah mengembangkan peringatan dini untuk mengurangi tingkat risiko ancaman siklon tropis. Tanda-tanda kejadian suatu badai/siklon tropis bisa diperkirakan. Keberadaan dan pergerakannya pun bisa diamati dengan teknologi. Hanya kadang-kadang, tanda-tanda badai/siklon dapat diamati dan dirasakan.
Menurut Tjasyono.et.al. (1983), pembentukan siklon tropis harus memenuhi 3 persyaratan sebagai berikut :
  • adanya konvergensi pada permukaan yang cukup kuat, sehingga dapat menaikan lapisan udara lembab.
  • adanya divergensi pada ketinggian tertentu untuk memindahkan udara yang tertimbun dan menyebabkan permukaan udara turun.
  • adanya energi yang cukup supaya dapat mempertahankan sirkulasi. Pola pergerakan vertikal masa udara dalam hubungannya dengan divergensi dan konvergensi di dalam lapisan troposfer (Barry and Chorley,1976).

2. Angin Siklon Ekstra Tropik
Siklon ekstra tropik terjadi di daerah sedang pada lintang 35° - 65° LU dan 35° - 65° LS, yaitu di sekitar wilayah front. Tempat bertemunya massa angin barat yang panas dan angin timur yang dingin. Misalnya, Amerika Serikat dan Eropa. Tekanan udara ± 15 mb dan kecepatannya ± 30 km/jam.
Berdasarkan sifatnya dibedakan atas:
  • Gelombang udara panas
  • Gelombang udara dingin
  • Gelombang udara panas dingin
  • Gelombang udara seimbang
  • Gelombang udara lebih panas
  • Gelombang udara lebih dingin
3. Angin Siklon Tornado
Angin siklon tornado merupakan jenis angin yang paling cepat dan paling merusak. Tornado terjadi akibat kolom udara yang berputar kencang yang membentuk hubungan antara awan cumulonimbus atau dasar awan cumulus denganpermukaan tanah. Tornado memiliki kecepatan angin mencapai 177 km/jam. Tornado sering terjadi di Amerika Serikat. Diameter angin siklon tornado antara 100–500 km, panjang lintasannya mencapai 100 km. Kecepatannya mencapai 700 km/jam. 

B. Antisiklon 
Angin antisklon berlawanan dari siklon. Antisiklon adalah fenomena cuaca yang didefinisikan oleh glosarium National Weather Service Amerika Serikat sebagai "sirkulasi angin berskala besar di sekitar wilayah dengan tekanan atmosferik tinggi, [yang bergerak] searah jarum jam di Belahan Utara dan melawan arah jarum jam di Belahan Selatan".[1] Dampak antisiklon di permukaan meliputi penjernihan langit dan udara yang lebih dingin dan kering. Kabut juga dapat terbentuk di wilayah dengan tekanan yang lebih tinggi.


Citra radar menangkap fenomena angin siklon

Jumat, 22 Juni 2018

Sistem angin

1) Angin pasat (Trade wind) 
Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke daerah ekuator (khatulistiwa). Angin ini berasal dari daerah maksimum subtropik menuju ke daerah minimum ekuator. Sesuai dengan hukum Buys Ballot yaitu karena pengaruh gaya corriolis (rotasi bumi), dibelah bumi utara berbelok ke arah kanan dan di belahan bumi selatan bergerak ke arah kiri. Angin passat yang datangnya dari arah timur laut (di daerah iklim tropika di belahan bumi utara) disebut angin passat timur, sedangkan angin passat yang bertiup dari arah tenggara disebut angin passat tenggara.


Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Karena temperatur di daerah tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi). Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antartropik (DKAT).
DKAT ditandai dengan temperatur selalu tinggi. Akibat kenaikan massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan. Akibatnya daerah ini dinamakan daerah doldrum (wilayah tenang).


2) Angin anti pasat
Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah maksimum subtropik merupakan angin anti pasat. Di belahan bumi Utara disebut angin anti pasat barat daya dan di belahan bumi selatan disebut angin anti passat barat laut. Pada daerah sekitar lintang 20° - 30° LU dan LS, angin anti pasat kembali turun secara vertikal sebagai angin kering. Angin kering menyerap uap air di udara dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuklah gurun, misal gurun di Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia. Di daerah subtropik (30° –40° LU/LS) terdapat daerah teduh subtropik yang udaranya tenang, turun dari atas, dan tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10° LU-10° LS terdapat juga daerah tenang yang disebut daerah teduh ekuator atau daerah doldrum.

3) Angin barat (Westerlies
Angin barat adalah angin yang selalu berhembus dari arah barat sepanjang tahun pada daerah garis lintang 35° LU-60° LU dan 35° LS - 60° LS. Angin barat yang lebih stabil dan teratur adalah di daerah 40° LS - 60° LS, sebab daerah ini letaknya lebih luas sehingga udaranya relatif merata. Pengaruh angin barat di belahan bumi utara tidak begitu terasa karena hambatan dari benua. Di belahan bumi selatan, pengaruh angin barat sangat besar, terutama pada daerah lintang 60° LS. Di sini bertiup angin barat yang sangat kencang yang oleh pelaut-pelaut disebut roaring forties. 

4) Angin timur kutub (Polar Easterlies
Di daerah kutub utara dan kutub selatan bumi, terdapat daerah dengan tekanan udara maksimum. Dari daerah ini mengalirlah angin ke daerah minimum subpolar (60° LU/LS). Angin ini disebut angin timur. Angin timur ini bersifat dingin karena berasal dari daerah kutub. 

5) Angin muson (Monsun
Angin muson ialah angin yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. 

Pada bulan Oktober–April, matahari berada pada belahan langit selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi), sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia.

Di Indonesia, angin musim barat di belahan bumi selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudera Pasifik dan Samudera Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim hujan. Musim penghujan meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. Makin ke Timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit. 

Pada bulan April–Oktober, matahari berada di belahan langit utara, sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di Australia terdapat pusatpusat tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari Australia menuju Asia. 

Di Indonesia, terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh karena tidak melewati lautan yang luas maka angin tidak banyak mengandung uap air. Oleh karena itu, pada umumnya di Indonesia terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat Sumatera, Sulawesi Tenggara, dan pantai Selatan Irian Jaya. Antara kedua musim tersebut, ada musim yang disebut musim pancaroba, yaitu musim kemareng dan musim labuh. Musim kemareng merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, sedangkan musim labuh merupakan peralihan musim kemarau ke musim penghujan. 

Adapun ciri-ciri musim pancaroba, yaitu udara terasa panas, arah angin tidak teratur, dan terjadi hujan secara tiba-tiba dalam waktu singkat dan lebat.


6) Angin lokal 
Di samping angin musim, di Indonesia juga terdapat angin lokal (setempat), yaitu sebagai berikut:

a) Angin darat dan angin laut 
Angin darat dan angin laut terjadi di sekitar daerah pesisir dan waktunya hanya sesaat saja yaitu ketika adanya perbedaan temperatur antara perairan laut dan daratan akibat pemanasan. Kita ketahui bahwa air tidak begitu cepat menjadi panas ketika terkena sinar matahari, sebaliknya daratan lebih cepat panas. Pada saat perbedaan kondisi temperatur ini maka mengalirlah udara yang relatif dingin (dari lautan) menuju daratan, sehingga terjadilah angin laut pada siang hari. 

Menjelang malam, suhu udara di daratan lebih cepat mendingin, sedangkan suhu udara di atas lautan lebih lama menyimpan panas. Akibatnya terjadi perbedaan tekanan udara, di daratan akan lebih padat sedangkan udara di atas lautan lebih panas dan dengan tekanan yang lebih rendah. Akibat perbedaan ini maka mengalirlah udara dari darat menuju lautan, yang disebut angin darat pada malam hari. Nelayan tradisional (belum memanfaatkan mesin motor) yang masih menggunakan perahu layar memanfaatkan angin darat untuk berangkat melaut mencari ikan, sedangkan pada saat keesokan harinya akan memanfaatkan angin laut untuk pulang ke daratan.

b) Angin gunung dan angin lembah 
Pada siang hari, lereng gunung yang menghadap ke arah sinar matahari menerima radiasi panas lebih banyak daripada di bagian lembahnya. Tekanan udara di lereng tersebut lebih rendah akibat pemanaan tersebut, sedangkan di bagian lembah yang lebih dingin akan lebih tinggi tekanan udaranya. Akibat perbedaan suhu dan tekanan ini maka mengalirlah udara dari lembah menuju lereng pegunungan di bagian atasnya yang kemudian disebut angin lembah.

Pada malam hari, suhu udara di atas lereng akan lebih cepat melepas panas, sedangkan di bagian lembahnya akan lebih lama menyimpan hawa panas. Akibatnya mengalirlah dari atas lereng angin pegunungan menuju lembah yang disebut angin gunung. Walaupun angin lembah dan angin gunung belum banyak dimanfaatkan oleh manusia, tetapi angin gunung dan angin lembah telah banyak membantu penyerbukan tanaman berbungan sehingga tanaman tersebut berbuah dan atau berkembang biak. 

Di wilayah lembah, suhu udaranya masih relatif tinggi dibandingkan gunung atau pegunungan. Hal ini menyebabkan tekanan udara di lembah lebih rendah (minimum). Akibatnya, berhembuslah angin arah gunung menuju lembah. Itulah yang dinamakan angin gunung. Suasana kedua angin ini akan sangat terasa, jika kamu berada di wilayah kaki gunung atau pegunungan.

c) Angin jatuh 
Angin jatuh disebut juga angin fohn, yaitu angin kering yang bergerak menuruni lereng pegunungan. Dilihat dari proses terjadinya, angin jatuh sebenarnya hampir sama dengan angin gunung. 

Faktor-faktor yang membedakan antara angin jatuh dan angin gunung terletak pada sifat-sifatnya. Sebagian besar angin jatuh bersifat kering dan panas. Hal ini terjadi jika angin jatuh bertiup dari daerah yang memiliki temperatur lebih tinggi dibandingkan daerah yang didatangi. 

Contoh angin jatuh yang terdapat di Indonesia: 
Angin Wambraw (Biak), Bahorok (Sumatera Utara), Kumbang (Cirebon), Gending (Pasuruan), dan Brubu (Makassar). Angin ini juga dapat bersifat kering dan dingin jika angin bergerak dari puncak pegunungan yang tinggi. Misalnya, angin di pantai selatan Prancis, angin Bora di pantai Samudra Atlantik, dan angin Sirocco di pantai Laut Adriatik.




Puting beliung
Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus, di daerah Sumatera disebut Angin Bohorok dan masih ada sebutan lainnya. Angin jenis lain dengan ukuran lebih besar yang ada di Amerika yaitu Tornado mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter. Angin puting beliung sering terjadi pada siang hari atau sore hari pada musim pancaroba. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar.

GEOGRAFI POPULER

Memahami Bumi, Membaca Dunia "Geografi bukan sekadar tentang peta atau nama-nama tempat. Geografi adalah cara memahami bagaimana Bumi b...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan