Sabtu, 19 September 2026

Menavigasi Megadrought: Solusi Empatis dan Terintegrasi Atas Krisis Air Akibat Interaksi Super El Niño dan IOD Positif di Indonesia


Pendahuluan

Air merupakan Sumber Daya Alam (SDA) terbarukan yang mendasari keberlangsungan ekosistem, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi. Namun, sifat kelestariannya sangat bergantung pada keseimbangan siklus hidrologi. Di Indonesia, krisis air kini bukan lagi sekadar masalah tata kelola lokal, melainkan ancaman sistemik yang dipicu oleh variabilitas iklim global yang ekstrem.

Ancaman kekeringan parah diperparah oleh fenomena Super El Niño (peningkatan suhu permukaan laut Pasifik Tengah-Timur) yang terjadi secara bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif. Sinergi dua fenomena iklim ini menyedot massa uap air menjauhi kepulauan Indonesia, memicu penurunan curah hujan yang drastis serta memanjangkan durasi kemarau kering.

Untuk mengatasi ancaman ini, artikel ini menerapkan pendekatan Design Thinking (Empathize, Define, Ideate, Prototype, Test) dalam merumuskan solusi pemanfaatan dan tata kelola SDA air yang adaptif, berbasis bukti, dan berpusat pada manusia (human-centered).

1. Empathize (Memahami Dampak dan Realitas Krisis)

Tahap awal Design Thinking mengutamakan pemahaman mendalam atas pengalaman nyata masyarakat terdampak krisis air:

  • Masyarakat Rentan: Masyarakat pedesaan dan daerah pesisir mengalami penurunan debit mata air serta sumur dangkal secara signifikan. Keterbatasan akses terhadap air bersih berdampak langsung pada penurunan kualitas sanitasi dan peningkatan risiko penyakit berbasis air (water-borne diseases).

  • Petani dan Sektor Pertanian: Kekeringan pada saluran irigasi dan penyusutan volume air waduk memicu kegagalan panen (puso) skala luas. Kondisi ini mengganggu stabilitas pasokan pangan nasional serta memperlambat siklus tanam.

  • Ekosistem dan Lingkungan: Pengeringan lahan basah dan gambut meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), yang menghasilkan kabut asap dan kerusakan keanekaragaman hayati secara intensif.

2. Define (Merumuskan Akar Permasalahan)

Berdasarkan dampak sosial dan ekologis yang diidentifikasi, permasalahan inti terbagi menjadi dua aspek utama:

  1. Anomali Iklim Ganda: Interaksi Super El Niño dan IOD Positif menekan aktivitas konveksi lokal secara ekstrem sehingga pasokan hujan alami untuk pengisian kembali (recharge) akuifer dan waduk menurun signifikan.

  2. Kerentanan Infrastruktur dan Tata Kelola: Ketergantungan berlebih pada ekstraksi air tanah, tingginya tingkat kebocoran jaringan air (Non-Revenue Water), serta minimnya infrastruktur pemanenan air hujan (rainwater harvesting) memperparah tingkat kerentanan masyarakat.

Problem Statement: "Bagaimana kita bisa merancang sistem tata kelola air yang tangguh dan terdesentralisasi agar masyarakat rentan dan sektor pertanian tetap memiliki akses air yang stabil di tengah ancaman fenomena ganda Big El Niño dan IOD Positif?"

3. Ideate (Mengembangkan Solusi Inovatif)

Untuk mengatasi problem statement tersebut, dikembangkan beberapa gagasan solusi terintergrasi:

  • Pemanenan Air Hujan Komunal (Rainwater Harvesting): Mengoptimalkan penampungan air pada akhir musim hujan untuk dijadikan cadangan darurat.

  • Desalinasi Skala Mikro Berbasis Energi Terbarukan: Memanfaatkan tingginya intensitas radiasi matahari selama kemarau untuk mengoperasikan unit desalinasi air garam/payau bagi warga pesisir.

  • Pertanian Presisi dan Irigasi Tetes (Drip Irrigation): Mengganti sistem irigasi genang (flood irrigation) dengan irigasi hemat air yang dipandu sensor kelembapan tanah.

  • Restorasi Ekosistem Resapan (Spons Alam): Membangun embung komunal, rorak, serta merehabilitasi vegetasi pelindung untuk meningkatkan kapasitas retensi air tanah.

4. Prototype (Merancang Model Terapan)

Sebagai bentuk konkret dari tahap Ideate, dirancang skema sistem "Smart Eco-Water Hub (SEWH)", yaitu unit pengelolaan air terdesentralisasi berbasis komunitas:

desain SEWH
  1. Infrastruktur Pemanenan: Pemasangan talang air berfilter dan penampungan berbasis bahan ramah lingkungan pada area publik.

  2. Filtrasi Berkelanjutan: Kombinasi filter pasir lambat, karbon aktif, dan sterilisasi ultraviolet (UV) bertenaga surya.

  3. Monitoring Berbasis Digital (IoT): Integrasi sensor biaya terjangkau (low-cost sensor) untuk memantau kualitas air (pH dan TDS) serta ketersediaan stok cadangan secara real-time.

5. Test (Uji Coba dan Iterasi)

Langkah pengujian dilakukan secara bertahap untuk memastikan keandalan dan penerimaan masyarakat:

  • Uji Skala Pilot: Penerapan prototipe Smart Eco-Water Hub di desa sampel yang dikategorikan rawan kekeringan tinggi oleh BMKG.

  • Metrik Evaluasi:

    • Tingkat pemenuhan kebutuhan air bersih harian skala rumah tangga.

    • Efisiensi penggunaan air irigasi pada lahan pertanian pilot.

    • Kemudahan partisipasi warga dalam pengoperasian dan pemeliharaan alat.

  • Iterasi: Mengumpulkan umpan balik (feedback) dari pengguna untuk memperbaiki desain filter, menyesuaikan kapasitas tangki sesuai durasi Hari Tanpa Hujan (HTH), serta menyempurnakan antarmuka aplikasi pemantauan.

Kesimpulan

Krisis air yang dipicu oleh kolaborasi Big El Niño dan IOD Positif menggarisbawahi urgensi transformasi tata kelola SDA air di Indonesia. Aplikasi metodologi Design Thinking menawarkan pendekatan yang holistik—menghubungkan pemahaman realitas sosial-ekologis dengan inovasi teknologi terdesentralisasi. Melalui perancangan solusi seperti Smart Eco-Water Hub, ketahanan air masyarakat dapat ditingkatkan sehingga risiko bencana kemanusiaan dan krisis pangan akibat perubahan iklim dapat diminimalkan.


Daftar Pustaka

Aldrian, E., & Susanto, R. D. (2003). Identification of three dominant rainfall regions within Indonesia and their relationship to sea surface temperature. International Journal of Climatology, 23(12), 1435–1452. https://doi.org/10.1002/joc.950

Cai, W., Santoso, A., Wang, G., Weller, E., Wu, L., Ashok, K., Masumoto, S., & Yamagata, T. (2014). Increased frequency of extreme Indian Ocean Dipole events due to greenhouse warming. Nature, 510(7504), 254–258. https://doi.org/10.1038/nature13327

Saji, N. H., Goswami, B. N., Vinayachandran, P. N., & Yamagata, T. (1999). A dipole mode in the tropical Indian Ocean. Nature, 401(6751), 360–363. https://doi.org/10.1038/43854

Trenberth, K. E. (1997). The definition of El Niño. Bulletin of the American Meteorological Society, 78(12), 2771–2777. 

Kamis, 17 September 2026

Contoh Soal TKA Geografi Materi Potensi SDA

Konektivitas Ekologis dan Manfaat Multidimensi Sumber Daya Kemaritiman Indonesia

Indonesia menyimpan potensi ekosistem pesisir dan laut yang sangat kaya, salah satunya adalah ekosistem hutan mangrove yang tumbuh di wilayah pantai tropis yang dipengaruhi oleh dinamika pasang surut air laut. Ekosistem ini menyediakan tiga kategori manfaat utama: fisik, ekonomi, dan biologis. Secara fisik, mangrove berfungsi mencegah erosi pesisir, menahan abrasi air laut, serta menyaring limbah beracun. Dari segi ekonomi, mangrove dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, sumber kayu, dan kawasan destinasi wisata. Adapun secara biologis, mangrove berperan vital sebagai tempat pemijahan (spawning ground) dan perkembangbiakan biota laut, habitat burung, serta garda depan penyedia sumber plasma nutfah.

Di samping ekosistem pesisir, Indonesia memiliki potensi perikanan melimpah yang tergolong sebagai sumber daya alam terbarukan. Wilayah perairan Indonesia kaya akan potensi perikanan pelagis, baik skala kecil maupun besar. Ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang melimpah di wilayah perairan Indonesia bagian timur. Di samping perikanan tangkap di laut lepas, masyarakat pesisir Indonesia juga aktif memanfaatkan potensi akuakultur melalui budi daya spesies pesisir seperti ikan bandeng dan udang guna mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi lokal.

Ekosistem penunjang lainnya yang berinteraksi di kawasan dangkal adalah padang lamun, yaitu kelompok tumbuhan yang telah beradaptasi penuh untuk hidup terendam dalam air laut hingga kedalaman empat meter. Lamun tumbuh optimal pada substrat lumpur, pasir, kerikil, pecahan kerang, serta kawasan intertidal (pasang surut). Pertumbuhan lamun yang memadat membentuk hamparan padang luas yang menjalankan fungsi ekologis penting: sebagai tempat habitat dan perlindungan biota laut, pendaur zat hara (nutrien) di perairan, serta penangkap/penstabil sedimen pesisir.

Ekosistem kemaritiman Indonesia ditopang pula oleh keberadaan terumbu karang, yaitu struktur kapur yang dihasilkan organisme alga berkapur dan karang batu. Indonesia memiliki terumbu karang terluas dan terkaya di dunia, seperti yang disajikan pada keindahan bawah laut Taman Nasional Bunaken. Kekayaan hayatinya mencakup 590 jenis karang, 2.500 jenis moluska, 1.500 jenis udang-udangan, dan 2.500 jenis ikan. Ekosistem ini tersebar di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur (Papua, Sulawesi, Lombok, Bali), Kepulauan Riau, serta pantai barat dan ujung Sumatra. Secara ekologis, karang berfungsi meredam gelombang dan mencegah abrasi. Secara ekonomi dan sosial-ekonomi, karang menjadi destinasi wisata bahari, bahan obat-obatan, sumber makanan (seperti alga, udang karang, teripang, kerang mutiara), serta sumber penghasilan utama bagi nelayan.

SUMBER REFERENSI BACAAN

Petambak di suatu daerah pesisir berencana membabat habis kawasan hutan mangrove dan padang lamun untuk dijadikan tambak udang skala besar. Berdasarkan stimulus bacaan di atas, tentukan apakah setiap pernyataan berikut BENAR atau SALAH terkait dampak ekologis dan ekonomis dari rencana tersebut!

Contoh soal TKA Geografi Materi SDA

Dilema Integritas Nilai dan Kualitas SDM dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Keberadaan sumber daya alam (SDA) memainkan peran vital sebagai pilar utama penyokong kelangsungan hidup manusia dan penggerak roda perekonomian suatu bangsa. Sumber daya alam mencakup seluruh potensi benda mati maupun makhluk hidup dalam kesatuan ekosistem, baik yang bersifat hayati maupun nonhayati. Namun, ketersediaan SDA yang melimpah tidak serta-merta menjamin kemakmuran jangka panjang suatu negara apabila pemanfaatannya tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan fisik yang rasional dan terukur.

Tingkat pemanfaatan SDA sangat bergantung pada kapasitas dan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelolanya. Manusia dengan kualitas SDM yang tinggi dituntut untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi alam secara cerdas, inovatif, dan bijaksana. Pemanfaatan yang cermat menuntut keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan ekonomi masa kini dan pemeliharaan daya dukung ekologis. Tanpa adanya SDM berwawasan lingkungan, kelimpahan alam justru berisiko mengalami keretakan fungsi ekosistem (ecological breakdown).

Dalam pengelolaannya, SDA memiliki dimensi nilai fundamental yang saling bertautan dan menentukan tingkat keutamaan pemanfaatannya. Nilai hukum hadir sebagai koridor dan tolok ukur regulatif guna memberikan kepastian serta pertimbangan hukum atas perlindungan eksploitasi alam. Sementara itu, nilai etika menekankan tindakan moral melestarikan keberadaan SDA demi menjaga ketersediaan sumber daya bagi kesejahteraan generasi mendatang. Kedua nilai ini menjadi pemerhati utama agar dorongan eksplorasi alam tidak melampaui ambang batas aman.

Di sisi lain, nilai ekonomi memosisikan SDA sebagai komoditas berdaya jual tinggi (seperti produk perkebunan, pertambangan mineral, dan pertanian) yang berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat dan devisa negara. Berdampingan dengan nilai ekonomi, terdapat nilai estetika yang berfokus pada apresiasi terhadap keindahan lanskap alam seperti danau, pantai, dan pegunungan. Keempat nilai ini menuntut penyelarasan yang proporsional; pengutamaan satu nilai secara berlebihan dengan mengabaikan nilai lainnya akan memicu ketimpangan tata kelola SDA.

SUMBER REFERENSI BACAAN

  • Regulasi Nasional: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Prinsip Pembangunan Berkelanjutan & Instrumen Hukum Lingkungan).
  • Modul Resmi: Kemendikbudristek (2022). Geografi SMA/MA Kelas XI: Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  • Jurnal Akademis: Jurnal Sumber Daya Alam dan Lingkungan (JSDAL), "Analisis Keseimbangan Nilai Ekonomi dan Etika Lingkungan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi".

Pertanyaan:
Sebuah pemerintah daerah mengizinkan konversi kawasan hutan lindung perbukitan menjadi tambang batu kapur dan pabrik semen komersial. Proyek ini mempekerjakan ribuan tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan daerah secara drastis. Namun, aktivitas pengerukan ini menghilangkan pemandangan buatan alam yang indah, memicu ancaman krisis air bersih jangka panjang bagi pemukiman sekitar, serta melanggar zona resapan air yang dilindungi undang-undang daerah.

Berdasarkan stimulus di atas, manakah kesimpulan kritis yang paling tepat menggambarkan dinamika tata kelola sumber daya alam pada kasus tersebut?

Question 1
Answer
a.

Kebijakan tersebut mencerminkan keunggulan kualitas SDM daerah karena berhasil mengoptimalkan nilai ekonomi SDA tanpa menimbulkan dampak negatif pada fungsi ekologis.

b.

Proyek pertambangan tersebut berhasil menyeimbangkan nilai estetika dan nilai ekonomi karena kawasan pabrik semen menciptakan keindahan arsitektur modern di wilayah perbukitan.

c.

Eksploitasi kawasan perbukitan tersebut menunjukkan kegagalan kualitas SDM dalam memanfaatkan alam secara bijaksana, akibat dominasi kepentingan nilai ekonomi yang mengorbankan nilai estetika dan daya dukung lingkungan.

d.

Pemerintah daerah melakukan pengabaian terhadap nilai hukum dan nilai etika, karena melanggar regulasi perlindungan zona resapan air serta mengancam keberlangsungan pasokan air bagi generasi mendatang.

KUNCI JAWABAN
B dan D

PEMBAHASAN SOAL (ANALISIS PENALARAN KRITIS)
Analisis Opsi A (SALAH):

Alasan Literasi: Paragraf 2 menegaskan bahwa SDM berkualitas tinggi harus memanfaatkan SDA "secara cerdas dan bijaksana tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya."

Daya Nalar: Pembukaan tambang yang memicu krisis air bersih dan merusak zona resapan air membuktikan bahwa fungsi ekologis telah dikorbankan. Berarti, ini bukan cerminan keunggulan SDM yang bijaksana.

Analisis Opsi B (BENAR):

Alasan Literasi: Paragraf 3 menjelaskan bahwa nilai hukum berkaitan dengan kepatuhan pada regulasi/perundang-undangan perlindungan SDA, sedangkan nilai etika mengacu pada pelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Daya Nalar: Pelanggaran terhadap undang-undang zona resapan air jelas mengabaikan nilai hukum. Sementara itu, timbulnya krisis air bersih bagi pemukiman lokal di masa depan merupakan bentuk pengabaian terhadap nilai etika pelestarian lingkungan.

Analisis Opsi C (SALAH):

Alasan Literasi: Paragraf 4 mendefinisikan nilai estetika sebagai "apresiasi terhadap keindahan lanskap alam seperti danau, pantai, dan pegunungan."

Daya Nalar: Pengerukan perbukitan dan pembangunan pabrik semen merusak keindahan lanskap alam perbukitan tersebut. Mengganti lanskap alam dengan bangunan pabrik bukanlah bentuk pemenuhan nilai estetika SDA menurut definisi literasi.

Analisis Opsi D (BENAR):

Alasan Literasi: Paragraf 2 menyatakan bahwa tanpa SDM yang bijaksana, pemanfaatan alam berisiko mengalami kerusakan. Paragraf 4 menyimpulkan bahwa mengutamakan satu nilai secara berlebihan (misal: nilai ekonomi saja) memicu ketimpangan.

Daya Nalar: Keputusan mengejar keuntungan pendapatan daerah (nilai ekonomi) dengan merusak pemandangan buatan alam (nilai estetika) dan mengancam air bersih menunjukkan ketidakseimbangan tata kelola serta kegagalan SDM dalam mengelola alam secara bijaksana.

Senin, 17 Agustus 2026

Indian Ocean Dipole

Mengenal Indian Ocean Dipole: "El Niño" Versi Samudra Hindia yang Mengatur Cuaca Kita

Alex Citra

Bagi masyarakat Indonesia, istilah El Niño dan La Niña tentu sudah tidak asing lagi. Kedua fenomena di Samudra Pasifik tersebut kerap dituduh sebagai biang keladi kemarau panjang atau banjir bandang. 

Baca: Fenomena Iklim Global dan Imbasnya bagi Indonesia Bagian Timur

Namun, tahukah Anda bahwa Samudra Hindia—yang berbatasan langsung dengan wilayah barat Indonesia—juga memiliki sistem "sengatan" cuacanya sendiri? Fenomena ini dikenal dengan nama Indian Ocean Dipole (IOD).

Meskipun letaknya sangat dekat dengan Indonesia, IOD sering kali luput dari perhatian publik, padahal dampaknya terhadap iklim, pertanian, dan kebencanaan di tanah air tidak kalah hebat dari El Niño.
Apa Itu Indian Ocean Dipole?
Secara sederhana, Indian Ocean Dipole (IOD) adalah fenomena interaksi antara atmosfer dan laut di Samudra Hindia yang ditandai dengan perubahan perbedaan suhu permukaan laut antara dua wilayah: Samudra Hindia bagian barat (dekat pesisir timur Afrika) dan Samudra Hindia bagian timur (dekat Sumatra dan Jawa).
Fenomena ini pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan pada tahun 1999. IOD memiliki siklus yang tidak teratur, biasanya terjadi setiap beberapa tahun sekali, dan berkembang selama musim kemarau hingga mencapai puncaknya di sekitar bulan September hingga November.
Tiga Fase IOD: Netral, Positif, dan Negatif
Seperti jungkat-jungkit, IOD bekerja dalam tiga fase utama yang menentukan pergeseran awan hujan di kawasan Samudra Hindia:
FASE POSITIF:
[Afrika Timur] <-- Air Hangat & Hujan --- (Angin Timuran) --- Air Dingin & Kering --> [Indonesia]


FASE NEGATIF:
[Afrika Timur] <-- Air Dingin & Kering --- (Angin Baratan) --- Air Hangat & Hujan --> [Indonesia]


1. Fase Netral
Pada kondisi normal, air laut hangat berkumpul di sekitar Indonesia. Angin berembun membawa kelembapan yang cukup, sehingga curah hujan di Indonesia bagian barat berjalan normal sesuai musimnya.
2. Fase IOD Positif (+IOD)
Fase ini terjadi ketika suhu permukaan laut di barat Afrika jauh lebih hangat daripada biasanya, sedangkan suhu laut di barat Sumatra mendingin (terjadi upwelling atau pengangkatan massa air dingin ke permukaan).
  • Dampak: Awan-awan konveksi pembentuk hujan bergeser ke arah Afrika. Akibatnya, Afrika Timur mengalami banjir bandang, sementara Indonesia mengalami kekeringan ekstrem, penurunan curah hujan drastis, dan peningkatan risiko kebakaran hutan.
3. Fase IOD Negatif (-IOD)
Kebalikan dari fase positif, fase negatif terjadi saat suhu laut di barat Sumatra menjadi sangat hangat, sementara di dekat Afrika mendingin. Angin barat bertiup kencang membawa massa udara basah menuju Indonesia.
  • Dampak: Indonesia akan mengalami "kemarau basah" dengan curah hujan yang jauh di atas normal. Hal ini memicu risiko tinggi terjadinya banjir, tanah longsor, dan badai, sementara wilayah Afrika mengalami kekeringan.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Dampak IOD sangat nyata bagi kehidupan sehari-hari, terutama di sektor ekonomi dan keselamatan hayati:
  • Ketahanan Pangan: IOD Positif dapat memundurkan musim tanam padi akibat kekeringan, memicu gagal panen, dan mengancam pasokan pangan nasional. Sebaliknya, IOD Negatif bisa merusak tanaman holtikultura karena kelebihan air.
  • Sektor Perikanan: Bagi para nelayan, IOD Positif justru membawa berkah tersendiri. Fenomena upwelling di selatan Jawa dan barat Sumatra membawa banyak nutrisi ke permukaan laut, sehingga populasi ikan (seperti tuna dan pelagis) melonjak drastis.
  • Bencana Multibahaya: Jika IOD Positif terjadi bersamaan dengan El Niño (seperti yang terjadi pada tahun 1997, 2019, dan 2026), Indonesia akan menghadapi salah satu bencana kekeringan dan kabut asap kebakaran hutan terparah dalam sejarah.
Indian Ocean Dipole adalah bukti nyata betapa dinamis dan saling terhubungnya sistem iklim bumi kita. Memahami perilaku IOD bukan lagi sekadar urusan para akademisi di laboratorium, melainkan kebutuhan mendesak bagi mitigasi bencana, perencanaan pertanian, dan adaptasi perubahan iklim di Indonesia. Dengan teknologi pemantauan satelit dan pemodelan prediktif yang makin maju, kita diharapkan dapat membaca "sinyal" dari Samudra Hindia ini lebih awal demi melindungi kehidupan dan penghidupan jutaan jiwa.
Daftar Referensi
  1. Saji, N. H., Goswami, B. N., Vinayachandran, P. N., & Yamagata, T. (1999). A dipole mode in the tropical Indian Ocean. Nature, 391, 360–363. (Artikel ilmiah pionir yang pertama kali mendefinisikan fenomena IOD).
  2. Ashok, K., Guan, Z., & Yamagata, T. (2003). Influence of the Indian Ocean Dipole on the Australian winter rainfall. Geophysical Research Letters, 30(15). (Membahas penyebaran dampak IOD ke wilayah sekitar Samudra Hindia).
  3. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Klimatologi: Mengenal Fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole. Diakses melalui situs resmi BMKG (bmkg.go.id). (Pemberitaan resmi dan panduan edukasi publik mengenai dampak IOD di Indonesia).
  4. Abram, N. J., Gagan, M. K., McCulloch, M. T., Chappell, J., & Hantoro, W. S. (2003). Coral reef record of increased El Niño-Southern Oscillation and Indian Ocean Dipole activity in the late twentieth century. Nature, 424(6946), 292-295. (Penelitian berbasis data karang di Indonesia untuk melacak sejarah aktivitas IOD).

Menavigasi Megadrought: Solusi Empatis dan Terintegrasi Atas Krisis Air Akibat Interaksi Super El Niño dan IOD Positif di Indonesia

Pendahuluan Air merupakan Sumber Daya Alam (SDA) terbarukan yang mendasari keberlangsungan ekosistem, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonom...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan