Tampilkan postingan dengan label Negara Maju dan Negara Berkembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Negara Maju dan Negara Berkembang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Oktober 2018

Negara-Negara ASEAN Dipandang Melalui Teori Modernisasi Pembangunan


1. Filipina
Harrod-Domar berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Sedangkan Filipina dapaat dikatakatan sebagai Negara yang memiliki tingkat pertumbuhan tabungan dan investasi yang rendah, karena Negara ini tidak memiliki modal yang cukup. Filipina hanya memiliki pertanian bukit yang luas. Tetapi sejak tahun 2000 filipina masih dalam masa perombakan terutama dalam bidang pajak dan perdagangan untuk mendapatkan modal.

Jika dilihat dari teori Max Weber, Filipina memiliki masyarakat yang dapat dikatakan sebagai pekerja keras, mungkin karena pernah dijajah dan mengalami masa sulit. Ditambah sampai sekarang Filipina masih memperbaiki diri terutama dalam bidang ekonomi. Tetapi Filipina masih bergantung kepada dua partner dagang utama, yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Sehingga Filipina masih mengalami kesulitan jika harus mengatur ekonomi negaranya terlepas dari dua Negara tersebut.

Dan jika menurut teori David McClelland, pemerintahan Filipina selalu memberikan dorongan kepada rakyatnya untuk membuat Filipina setara dengan Negara-negara asean lainnya.

Jadi kesimpulannya, Filipina baru mencapai tahap pembangunan bagian prakondisi untuk lepas landas. Semua itu karena dilihat dari masih berjalannya perombakan ekonomi yang ada. Selain itu kemajuan perdagangan juga masih dipengaruhi oleh pihak luar dan yang sangat mendasar adalah besarnya kebutuhan akan modal untuk meningkatkan tabungan dan investasi di Filipina. 

2. Singapura
Singapura adalah negara berkembang yang sudah bisa dikatakan sebagai negara mapan. Ekonomi yang stabil dan terus maju menjadi modal Singapura dalam bersaing di ranah internasional. Jika memandang dari segi investasi, Singapura tentunya sangat baik. Begitupun dengan tabungan yang dimiliki mereka. Setiap tahun selalu terjadi perkembangan penigkatan investasi dan tentunya juga menambah tabungan di Singapura. Pembangunan sangatlah nampak di negara ini karena ekonomi mereka yang sangat menunjang.

Menurut Etika Protestan yang dikemukakan Max Weber, Singapura sudah sangat maju karena kerja keras yang dilakukan oleh setiap individu yang ada di negara ini sudah hampir mencapai pada titik puncak. Masyarakat maupun pemerintahnya menganggap bahwa dengan kerja keras selama mereka mampu akan membuat negaranya semakin dikenal dan mampu bersaing di tingkat global.

Begitu juga bila dilihat dari segi n-Ach yang tentunya menjadi sangat menjunjung tinggi prestasi tanpa memikirkan kepentingan salah satu pihak atau golongan yang ada disana. Tatanan kehidupan sosial juga menjadi contoh yang sangat mencerminkan kemajuan pembangunan di dalam internal negara Singapura.

Maka dari itu dapat diambil kesimpulan bahwasanya Singapura saat ini berada di tahapan bergerak menuju ke kedewasaan yang mana disebabkan oleh tingkat tabungan dan investasi yang meningkat efektif antara 15% hingga 30%. Begitupun dengan kemampuan Singapura bersaing di tingkat global dengan bekal teknologi yang telah diadopsi secara meluas oleh Singapura tentunya. Singapura memang negara kecil dari segi geografisnya namun memiliki pengaruh yang besar dalam ekonomi global apalagi tingkat ekonomi regional di kawasan Asia Tenggara.

3. Brunei Darussalam
Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yang terletak di bagian utara Pulau Kalimantan dan berbatasan dengan Malaysia. Jika dipandang melalui teori Harrod-Domar, Brunei merupakan Negara yang memiliki tingkat tabungan dan investasi yang cukup tinggi. Brunei sudah dikenal sebagai Negara yang memiliki tingkat kemakmuran yang cukup baik. Faktornya mungkin adalah karena luas negaranya yang kecil dan memiliki kepadatan yang sesuai dengan luas negaranya. Selain itu mungkin karena sumber daya minyak dan gas yang dimiliki sehingga dapat dikatakan bruney merupakan Negara yang kaya.

Dilihat dari teori Mc Clelland, Brunei Darussalam memiliki satu masalah yang meng hambat diversifikasi di sector perdagangannya. Yaitu pemborosan yang dilakukan oleh Pangeran Jeffry. Masalah ini bukan hanya sebagai batu sandungan saja tapi bias menjadi permasalahan panjang bagi perekonomian Brunei Darussalam.

Dilihat dari teori Max Weber, Brunei Darussalam merupakan Negara yang kaya dan berpegang teguh pada agama dan aturan islam. Hal tersebut membuat masyarakatnya selalu bekerja keras dan tidak terbuai oleh layanan masyarakatnya baik kesehatan ataupun pangan.

Dari ketiga teori tersebut disimpulkan bahwa Brunei Darussalam berada ditahapan bergerak menuju ke kedewasaan. Kesejahteraan yang terjadi merupakan bukti bahwa Brunei Darussalam sudah tinggal meningkatkat dirinya agar menjadi lebih baik lagi. Akan tetapi pengaruh tradisional juga masih melekat. Contohnya adalah tradisi kampong yang masih digunakan dalam urusan perekonomian. 

4. Indonesia
Jika memandang tingkat ekonomi negara ini dengan teori modernisasi Harrod-Domar, yang mana menganggap tabungan dan investasi menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik. Berdasarkan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Indonesia mengalami peningkatan investasi sebesar 21% di tahun 2011 akhir. Sebuah pencapaian yang luar biasa, karena dengan begitu Indonesia memiliki kemajuan pula dalam pertumbuhan ekonominya.

Namun yang menjadi masalah utama adalah lebih tingginya investasi asing dibandingkan investasi domestik. Karena hal ini, hasil dari pertumbuhan perekonomian bukan masuk ke dalam kas negara melainkan kepada para penanam modal asing yang berhasil melipat gandakan berkali-kali lipat modalnya tanpa memberikan keuntungan yang berarti bagi Indonesia.

Contoh yang sangat jelas adalah freeport yang merupakan milik Indonesia dan jelas berada di dalam wilayah Indonesia dengan sumber daya yang berlimpah namun malah dimiliki oleh Amerika karena Indonesia tidak mampu mengolah hasil bumi tersebut menjadi hasil produksi dalam negeri sehingga orang Indonesia hanya menjadi pekerja yang mendapatkan upah tak seberapa. Begitupun negara yang hanya mendapat 20% dari hasil yang melimpah disana.

Selain daripada itu, bila memandang Indonesia menurut teori Mc Clelland yang kita sebut Need for Achievement / N-Ach maka akan muncul pandangan bahwa tingkat perekonomian Indonesia sulit untuk mendapatkan peningkatan yang berarti. Kita semua pasti tahu bahwa Indonesia lekat dengan budaya korupsi yang merajalela dan menjadi boomerang bagi pertumbuhan ekonomi kita. Jadi tidaklah mungkin Indonesia akan maju bilamana korupsi terus terjadi karena yang kita butuhkan adalah kerja keras kita sebagai perangkat negara ini yang memandang pada satu tujuan, yaitu kemajuan negara ini untuk mencapai kesuksesan tanpa harus ada kepentingan-kepentingan sebagian pihak yang menjadi musuh dalam selimut.

Selanjutnya bila kita berkaca pada teori Etika Protestan yang dicetuskan oleh Max Weber, maka kita akan mengatakan bahwa Indonesia memiliki sedikit kesulitan karena memiliki agama yang beragam. Namun ternyata pada kenyataannya, di Indonesia agama menjadi suatu pandangan yang positif sehingga tidak terlalu sulit untuk menyatukan masyarakat negara ini, walaupun terkadang muncul para provokator yang mencoba mengadu domba, karena itulah salah satu konsekuensi negara yang memiliki agama yang beragam. Begitupun dalam hal pembangunan, tidaklah terlalu sulit untuk menjalankannya, sehingga mencerminkan akan terciptanya pertumbuhan tingkat ekonomi yang cukup berarti.

Dari ketiga pandangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Indonesia saat ini baru mencapai tahap pembangunan bagian prakondisi untuk lepas landas karena masih banyaknya hambatan bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Masyarakat Indonesia masih labil dan begitupun pemerintahannya, sehingga masih dibutuhkan banyak faktor pendukung untuk menyokong kemajuan di Indonesia agar dapat mencapai tahap lepas landas apalagi untuk mencapai tahap zaman konsumsi masal yang tinggi. 

5. Malaysia
Dari tingkat investasi dan tabungan, Malaysia memiliki tingkat pembangunan yang sangat baik, apalagi dengan adanya investasi dari Jepang yang meningkatkan industri-industri besar di negara ini. Walaupun akhirnya Malaysia terkena krisis, namun saat ini Malaysia telah mampu bangkit dan tetap memiliki tingkat investasi yang tinggi dan mengalami kemajuan yang stabil dalam pembangunan nasionalnya.

Menurut pandangan teori etika protestan yang menilai tingkat kerja keras, Malayia memiliki masyarakat yang mau bekerja keras dan mampu menjadi bagian yang penting dalam negara. Begitupun dengan pemerintahan disana yang selalu berusaha untuk terus maju dan menjadi berkembang sehingga mampu menuju ke arah perkembangan pembangunan internal yang mapan.

Begitu juga pandangan teori N-Ach yang dikemukakan oleh Mc Clelland yang bisa memandang Malaysia sebagai negara maju yang mampu bersaing dengan keinginan agar membuat negaranya bangga dan masyarakat yang selalu mau memberikan yang terbaik untuk negaranya tanpa mengharapkan keuntungan bagi individu. Menjadi sangatlah jelas bahwa tingkat ekonomi Malaysia sangatlah baik karena memiliki prosedur yang menekan tingkat pengangguran agar stabil menetap pada angka dibawah 3%.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa saat ini Malaysia sudah memasuki tahapan lepas landas menuju ke arah kedewasaan. Hal ini terjadi karena di negara Malaysia sudah terdapat banyak industri baru yang sudah berkembang pesat dan juga kendala-kendala permbangunan sudah semakin kecil bahkan hampir tidak terlihat lagi sehingga mempermudah negara ini untuk semakin maju dan mennuju tahap bergerak menuju kedewasaan. Dengan demikian Malaysia merupakan negara berkembang yang mampu terus maju dalam bidang ekonomi yang membuat negara ini mampu melewati krisis bilamana terjadi pada waktu-waktu dekat seperti apa yang telah dilakukan pada masa krisis terdahulu yang malah membuat Malaysia semakin berkembang. 

6. Myanmar
Dari teori Harrod-Domar investasi Myanmar nampak jelas bahwa kurang mendapatkan perhatian investasi asing, sehingga hal ini juga yang menyebabkan rendahnya tabungan yang dimiliki oleh Myanmar.

Sedangkan bila memandang teori Max Weber, di Myanmar mungkin lebih menjelaskan kepada kerja keras yang dilakukan pemerintah yang disokong oleh masyarakatnya. Terkadang memang muncul banyak kecemasan dari individu di Myanmar akan masa depan pembangunan karena sulitnya melihat perkembangan yang signifikan dari sektor ekonomi di Myanmar.

Begitupun saat melihat dari sudut pandang teori Mc Clelland. Kebutuhan yang sangat banyak tidak membuat masyarakat Myanmar terus bekerja keras, namun ternyata malah menimbulkan ketidakyakinan. Kerja keras yang dilakukan dianggap sia-sia saja. Namun pemerintahan terus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membuat masyarakat berpikir untuk maju sehingga tidak membuat negara ini terpuruk sangat jauh.

Dari ketiga pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa negara ini telah mencapai tahapan pra kondisi lepas landas karena masih adanya hambatan-hambatan bagi pembangunan perkembangan ekonomi. Juga baru muncul industri-industri baru yang dianggap dapat menopang perekonomian di Myanmar. Dukungan masyarakat dalam hal ini juga sangat penting, karena negara ini adalah negara dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, sehingga dapat meminimalisir pengangguran yang mungkin dapat menjadi hambatan saat negara ini akan bergerak menuju tahapan lepas landas.

7. Thailand
Thailand adalah salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki tingkat ekonomi cukup baik. Dilihat dari teori Harrod-Domar, Thailand memiliki tingkat investasi dan tabungan yang cukup baik pasca krisis tahun 1998. Hal ini menunjukkan kemajuan dalam bidang ekonomi di Thailand yang tentunya membuat pembangunan internalnya berjalan cukup lancar. Thailand mengutamakan hasil dari tingkat ekspor yang kuat dan saat Baht melemah, pariwisata menjadi sektor yang menopang devisa negara Thailand sehingga Thailand dapat tetap bertahan dengan ekonomi yang masih baik dan stabil.

Dari teori Max Weber, kerja keras menjadi faktor utama yang membantu terlaksananya pembangunan yang baik, dan hal inilah yang terjadi di Thailand pasca krisis yang menjadikan Thailand tetap memiliki tingkat ekonomi yang mapan dan kuat. Hal ini menjadi kekuatan utama bagi Thailand yang juga mendapatkan dukungan dari masyarakatnya agar dapat bersaing di ekonomi dunia tingkat global.

Menurut teori Mc Clelland. Masyarakat Thailand terus bekerja keras membantu pemerintah untuk membangun kembali ekonomi yang berantakan pasca krisis yang menjadikan Thailand terus maju dan berkembang.

Dari ketiga teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa saat ini Thailand berada pada tahapan lepas landas karena hambatan – hambatan proses pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Thailand terus berkurang dan juga tingkat pengangguran disana terus menurun setiap tahunnya. Selain itu, Thailand juga mulai membangun industri-industri baru yang berkembang pesat yang mana keuntungannya digunakan kembali untuk membangun pabrik-pabrik baru sehingga terus menambah pemasukkan bagi tabungan negara Thailand.

Kemajuan Thailand mungkin saja dapat membuat Thailand mampu bersaing dengan Brunei Darussalam dalam lingkup kawasan Asia Tenggara. 

8. Kamboja
Ekonomi Kamboja menunjukkan laju pertumbuhan yang sangat pesat dalam satu dekade terakhir, meskipun pendapatan per kapita menunjukkan peningkatan namun angka ini masih jauh berada dibawah negara – negara tetangga dalam satu kawasan ASEAN. Agrikultur menjadi bidang utama ekonomi di Kamboja disamping pariwisata dan tekstil. Dilihat dari teori Harrod - Domar, investasi di negara ini sangatlah kurang diperhatikan, sehingga sangatlah kecil pula tabungan yang dapat dikumpulkan oleh negara Kamboja ini.

Dilihat dari teori Max Weber masyarakat dan juga pemerintahan Kamboja, namun pada kenyataannya tetap saja negara ini masih tertinggal jauh dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Masih dibutuhkan kerja keras yang berkali-kali lipat untuk dapat membangun negara ini ke arah yang lebih baik lagi.

Bedasarkan teori Mc Clelland Belum banyak prestasi berarti yang dihasilkan negara ini baik di tingkat global maupun regional. Semua individu yang menjadi bagian dari negara ini harus terus mendedikasikan dirinya bagi negara Myanmar karena hal ini dapat memberikan kekuatan agar negara ini tidak kembali pada masa keterpurukan. Kemerdekaan negara ini seharusnya mampu menjadi dorongan untuk masyarakatnya untuk menjadi lebih baik lagi.

Kesimpulannya Myanmar adalah negara di kawasan Asia Tenggara yang berada pada tingkatan ekonomi terendah, namun bukan berarti juga negara tertinggal. Saat ini tahap prakondisi lepas landas baru dimasuki oleh Myanmar karena belum banyak perubahan berarti di negara ini. Dengan adanya campur tangan negara asing di negara ini cukup memberikan pencerahan bagi kurangnya tingkat pertumbuhan di Myanmar. 

9. Vietnam
Negara yang memiliki ekonomi yang sempat terpuruk pasca perang Vietnam dan setelah Vietnam mendapat embargo dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Hal ini memberikan tekanan yang sangat besar bagi Vietnam karena harus meningkatkan secara tajam tingkat ekonomi untuk memperlancar kemajuan pembangunan internalnya. Bukan hal yang mudah mengendalikan ekonomi yang sudah terpuruk sangat jauh, namun pada kenyataannya saat ini ekonomi Vietnam semakin maju dengan memiliki tingkat investasi asing mencapai tiga kali lipat dari persentase investasi pada tahun sebelumnya dan juga tumbuhnya simpanan domestik yang mencapai empat kali lipat sehingga membuat negara ini menduduki posisi kedua negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Dilihat dari segi teori teori Max Weber, sangatlah nampak kekuatan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah dalam membangun kemajuan di Vietnam. Banyaknya industri maju di Vietnam memberikan dampak positif bagi pembangunan internalnya.

Menurut teori Mc Clelland sangat disayangkan karena banyaknya pengangguran di Vietnam. Hal ini menjadi hambatan utama bagi perkembangan pembangunan negara Vietnam.

Kesimpulannya adalah bahwa saat ini Vietnam berada pada tahapan lepas landas karena industri yang berkembang pesat namun masih terdapat hambatan utama yaitu pengangguran yang menyebabkan negara ini sulit untuk maju ke tahap bergerak menuju kedewasaan. Bila hal ini sudah dapat diatasi, maka negara ini akan memiliki ekonomi terkuat di Asia Tenggara.

10. Laos
Bedasarkan teori Harrod - Domar investasi di laos dapat dikatakan buruk. Ekonomi Laos menerima masih melalui bantuan dari IMF dan sumber internasional lain serta dari investasi asing baru dalam bidang pemrosesan makanan dan pertambangan, khususnya tembaga dan emas. Pertumbuhan ekonomi umumnya terhambat oleh banyaknya penduduk berpendidikan yang pindah ke luar negeri akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai karena 37% dari penduduk Laos yang berpendidikan tinggal di luar negeri. Akan tetapi laos mempunyai kemajuan dalam bidang pariwisata.

Jika dipandang dari teori Mc Clelland, sebenarnya masalah nya adalah terlambatnya pemerintahan laos yang komunis untuk membuka masuknya perusahaan swasta dimana hal tersebut bias memajukan perekonomiannya. Alhasil, pertumbuhan ekonomi melesat dari sangat rendah menjadi rata-rata 6% per tahun periode 1988-2004.

Dari teori Max Weber, Laos sekarang ini masih bekerja keras baik masyarakat atau pemerintahannya untuk mencapai kesejahteraan karena masih banyak yang perlu diperbaiki. Pemeataan baik dari listrik, transportasi dan telekomunikasi merupakan beberapa hal yang masih harus diperbaiki.

Kesimpulannya saat ini Laos baru mencapai tahap masyarakat tradisional yang baru mau bergerak ke arah pra kondisi lepas landas karena sebagian besar masyarakat berpendidikan meninggalkan negara ini, yang menyebabkan negara ini hanya mendapat masyarakat yang kurang berpendidikan sehingga sulit untuk berkembang dan meninggalkan sifat ketradisionalannya.

Baca Juga:
Tahapan-tahapan Perkembangan Negara Menurut W.W ROSTOW

Minggu, 26 Agustus 2018

Tahapan-tahapan Perkembangan Negara Menurut W.W ROSTOW

Apabila kamu melihat berbagai karakterisitik dari pengelompokan negara maju dan berkembang, maka dapat dicirikan bahwa letak perbedaan yang paling besar mempengaruhi perkembangan negara-negara tersebut ialah kegiatan ekonominya yang berlatar belakang pada sektor industri. Tingkat perkembangan perindustrian berbeda-beda pada tiap kelompok negara, sesuai dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologinya. 

WW. Rostow (1960) dalam bukunya The Stages of Economic Growth, mengklasifikasikan tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara atas 5 tingkatan, yaitu: the traditional society, the preconditions for take off, take off, the drive to maturity, and the age of high mass cosumption

Tahapan perkembangan negara menurut WW. Rostow seperti pada skema di atas mimiliki penjelasan sebagai berikut.

  1. The Traditional Society atau tahap masyarakat tradisional adalah suatu negara yang struktur masyarakatnya dibangun di dalam fungsi-fungsi produksi yang terbatas. Tingkat pendapatan per kapitanya masih rendah karena tidak adanya penerapan pengetahuan dan teknologi modern. Karena terbatasnya produktivitas, maka sebagian  terbesar sumber-sumbernya ditujukan untuk menghasilkan bahan mentah.
  2. The Preconditions For Take Off atau tahap prakondisi menuju take off yaitu meliputi masyarakat yang sedang dalam proses peralihan atau merupakan suatu periode yang menunjukkan adanya syarat-syarat menuju take off. Nilai-nilai dan cara-cara tradisional sudah mulai dirasakan menjadi tantangan, sedangkan nilai-nilai dan cara-cara baru yang lebih efisien mulai masuk. Perubahan-perubahan mulai terjadi ke arah masyarakat yang lebih modern dengan sistem ekonomi yang lebih maju.
  3. Take Off atau tahap tinggal landas adalah tahapan perkembangan ekonomi memasuki masa antara, ketika hambatan-hambatan dan rintangan-rintangan terhadap pertumbuhan sudah mulai dapat diatasi. Nilai-nilai, cara-cara baru, dan kekuatan-kekuatan yang menimbulkan kemajuan ekonomi meluas dan mulai menguasai masyarakat. Tingkat investasi naik dari 5% sampai 10% atau melebihi pendapatan nasional. Selama masa tinggal landas, industri-industri baru berkembang dengan pesat dan menghasilkan keuntungan yang sebagian besar diinvestasikan lagi pada pabrik-pabrik yang baru atau industri-industri baru. Sehingga daripadanya dapat mendorong perluasan lebih lanjut bagi daerah-daerah kota dan industri-industri modern lainnya.
  4. The Drive to Maturity atau tahap gerak menuju kematangan adalah tahap ketika kegiatan ekonomi tumbuh secara terus-menerus dengan teratur dan penggunaan teknologi modern meluas ke seluruh aspek kegiatan perekonomian. Kira-kira 10% sampai 20% pendapatan nasionalnya, secara terus-menerus diinvestasikan yang memungkinkan output meningkat dengan cepat melebihi pertambahan penduduk. Kegiatan ekonomi bergerak dengan mantap memasuki perekonomian internasional. Pada umumnya, tahap kematangan (maturity) ini dicapai kira-kira setelah 60 tahun dimulainya take off atau 40 tahun setelah berakhirnya take off.
  5. The Age of High Mass Consumption atau tahap konsumsi massa tinggi adalah tahap ketika perkembangan industri lebih ditujukan untuk menghasilkan barang-barang konsumsi yang tahan lama dan dalam bidang jasa. Fase ini sudah mulai dilampaui oleh masyarakat di Negara Amerika Serikat yang ditandai dengan tingkat kenikmatan hidup yang tinggi. Pendapatan per kapita naik sampai sebagian besar orang mampu membeli barangbarang yang dikonsumsi melebihi kebutuhan-kebutuhan pokok, seperti membeli mobil, alat rumah tangga yang modern, jasa-jasa dan pelayanan rekreasi, dan lain-lain.

Dalam pandangan ekonom AS W. W. Rostow (1916-2003), setiap negara yang mencapai tahap ke-5 akan mengarah pada Pilihan Tiga-Arah (The Three-Way Choice) yakni:
1) Pencapaian nasional atas kekuasaan dan pengaruh eksternal (the national pursuit of external power and influence); 

2) Penggunaan kekuasaan negara termasuk dengan pajak untuk mencapai tujuan (termasuk waktu untuk bersantai) bersamaan dengan proses pasar bebas (the use of the powers of the state, including the power to redistribute income through progressive taxation, to achieve human, and social objectives including increased leisure which the free-market process), dan 

3) Perluasan tingkat konsumsi melampaui kebutuhan dasar pangan, papan, dan sandang, tidak hanya sekedar pangan, papan, dan sandang yang lebih baik tetapi menuju ruang lingkup konsumsi massa dari konsumsi barang-barang dan jasa yang bertahan lebih lama (the achievement of maturity was the expansion of consumption levels beyond basic food, shelter, and clothing, not only to better food, shelter, and clothing but into the range of mass consumption of durable consumers’ goods and services

(Baca W. W. Rostow. 1990. The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto Third Edition. New York: Cambridge University Press, hal. 73-74). Dijelaskan bahwa dalam teori Rostow, setiap negara yang mencapai tahap ke-5 ini harus mempertahankan taraf kemajuan ekonominya sebagai negara makmur (Welfare State) dengan memperkuat geografi, budaya, sumber-sumber daya, nilai-nilai, dan kepemimpinan politik. Menurut Rostow, negara pertama di dunia yang berhasil mencapai Era Konsumsi Massal Tinggi adalah Amerika Serikat (AS) (lihat W. W. Rostow. 1990. The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto Third Edition. New York: Cambridge University Press, hal. 74). Itulah sebabnya AS yang telah mencapai tahap ke-5 terus untuk mencari dan mempertahankan sumber-sumber ekonomi baru di seluruh dunia. Amerika Serikat yang kontemporer tidak memilih salah satu dari ketiga pilihan yang diargumentasikan Rostow, negara AS justru menerapkan ketiga-tiganya. Sementara, ekonomi yang mengalami titik balik (atau bisa dikatakan dinamis dimana suatu negara makmur dapat mengalami kemunduran) pada era post-industrial dikemukakan oleh ekonom AS lainnya yakni Simon Kuznets (1901-1985).

Baca Juga:

Negara Berkembang dan Negara Maju

Adanya istilah negara maju dan negara berkembang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tidak semua negara memiliki tingkat kemajuan yang sama. Sebagian negara mengalami perkembangan yang pesat dalam pembangunannya, sementara sebagian lainnya relatif terlambat. Menentukan suatu negara tergolong ke dalam negara maju atau negara berkembang, sesungguhnya cukup sulit. Mengapa demikian? Karena hal tersebut akan sangat bergantung pada ukuran yang kita gunakan. Dalam kenyataannya, tidak ada satu negara pun yang mutlak dapat dikatakan maju atau pun mutlak dapat dikatakan berkembang.

Dasar ukuran yang digunakan dalam pengelompokan negara-negara, biasanya ialah tingkat ekonomi atau ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan ukuran tersebut, maka yang disebut negara maju adalah negara yang memiliki tingkat perekonomian dan IPTEK yang tinggi, sedangkan negara yang sedang berkembang memiliki tingkat ekonomi dan IPTEK yang rendah. 

Lalu bagaimana pada suatu negara yang faktanya kaya tetapi teknologinya belum canggih, apakah dapat dikelompokkan sebagai negara maju? 

Bagaimana pula suatu negara yang teknologinya canggih tetapi masih miskin? Apakah negara seperti ini layak disebut berkembang? 

Misalnya negara Brunei Darussalam, karena minyaknya ia kaya tetapi teknologi yang dimiliki masih belum canggih. Sebaliknya apabila suatu negara yang teknologinya canggih tetapi tingkat ekonominya masih relatif rendah, misalnya India, apakah negara layak disebut berkembang? Coba bandingkan dengan negara Amerika, Inggris, Jerman, atau lainnya. Berarti terdapat kriteria lain untuk menentukannya selain kriteria di atas, misalnya keadaan jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) penduduk. Untuk memudahkan, kita tentukan beberapa kriteria yang dapat jadikan dasar sebagai berikut. 

De Blij, R. telah memberikan beberapa kriteria tentang pengelompokan negara-negara maju dan berkembang dengan melihat beberapa indikator sebagai berikut. 

  1. Pendapatan nasional per kapita atau Gross National Product (GNP), yaitu dengan cara membagi antara jumlah keseluruhan pendapatan negara per tahun dengan jumlah seluruh penduduk negara tersebut. Bila hasil baginya mencapai lebih dari 10.000 dolar Amerika Serikat (U.S $ 10.000), maka negara tersebut dapat dikelompokkan sebagai negara maju. Sedangkan bila hasil baginya kurang dari 80 dolar Amerika Serikat (U.S $ 80) maka dikelompokkan negara sedang berkembang.
  2. Struktur mata pencaharian dari angkatan kerja. Jika persentase tenaga kerja sangat tinggi di sektor yang memproduksi bahan makanan pokok, maka negara tersebut dikelompokkan sebagai negara sedang berkembang.
  3. Produktivitas per tenaga kerja. Hal ini ditentukan dengan cara menghitung keseluruhan produksi selama satu tahun dibagi dengan jumlah seluruh angkatan kerja.
  4. Pengunaan energi per orang. Jika tingkat penggunaan tenaga listrik dan bentuk energi lainnya sangat tinggi, maka tingkat perkembangan nasionalnya makin tinggi.
  5. Fasilitas transportasi dan komunikasi per orang. Hal ini dtentukan dengan cara mengetahui indeks per kapita dari pengukuran jalan kereta api, jalan raya, hubungan udara, telepon, radio, televisi, dan sebagainya. Jika indeksnya makin tinggi, maka makin tinggi pula tingkat perkembangan nasional negara tersebut.
  6. Penggunaan metal yang telah diolah. Hal ini ditentukan oleh jumlah bahan-bahan metal seperti: besi, baja, tembaga, alumunium dan logam lainnya yang digunakan penduduk selama setahun tertentu. Semakin banyak jumlah yang digunakan, maka semakin tinggi tingkat perkembangan nasional negara tersebut.
  7. Ukuran-ukuran lainnya dapat pula ditentukan oleh tingkat melek hurup penduduk, tingkat penggunaan kalori per orang, persentase pendapatan keluarga yang digunakan untuk membeli bahan makanan, ataupun jumlah tabungan per kapita. 

Ukuran lain digunakan pula dari aspek kependudukan. Suatu negara dikelompokkan ke dalam kelompok negara maju memiliki ciri kependudukan sebagai berikut:

  1. tingkat pertumbuhan penduduknya rendah; 
  2. persebaran penduduk terkonsentrasi di daerah perkotaan; 
  3. tingkat kelahiran dan kematian penduduknya rendah; 
  4. tingkat buta huruf rendah; 
  5. tingkat harapan hidupnya tinggi; 
  6. pendapatan per kapitanya tinggi;
  7. penduduk wanita berstatus kawin di atas usia 19 tahun dan banyak menggunakan alat kontrasepsi. 

Adapun ciri-ciri kependudukan untuk kelompok negara berkembang, yaitu sebagai berikut: 
  1. tingkat pertumbuhan penduduk tinggi;
  2. harapan hidup rendah
  3. tingkat pendapatan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan rendah, ketimpangan ekonomi sangat mencolok, sehingga standar hidupnya rendah;
  4. angka ketergantungan penduduk tinggi;
  5. angka pengangguran, baik nyata maupun terselubung, tinggi;
  6. tingkat produktivitas rendah;
  7. ketergantungan pendapatan sangat bertumpu pada sektor pertanian dan ekspor bahan-bahan mentah;
  8. pengelolaan informasi sangat terbatas dan pasar tidak sempurna;
  9. aspek hubungan internasionalnya sangat rapuh. 

Pengelompokan lain juga dilakukan oleh Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1997 dengan membagi negara-negara di dunia berdasarkan tingkat pendapatan (income) per kapitanya menjadi empat kelompok sebagai berikut:
  1. Negara-negara berpendapatan rendah (low income) dengan GNP per kapitanya < U.S $785;
  2. Negara berpendapatan menengah (middle income) dengan GNP per kapitanya antara U.S $ 785 – 3.125;
  3. Negara berpendapatan menengah tinggi (upper middle income) dengan GNP per kapitanya antara U.S $ 3.125 – 9.655;
  4. Negara berpendapatan tinggi (high income) GNP per kapitanya > U.S $ 9.656.
Berdasarkan pengelompokan tersebut di atas, maka negara-negara di dunia yang dapat dimasukkan ke dalam kelompok berpendapatan tinggi (high income) sebanyak 26 negara yang terdiri atas 24 negara berasal dari negara maju dan 2 negara lainnya berasal dari negara berkembang di Asia Barat Daya yaitu Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA). 

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan pengelompokan khusus terhadap negara-negara berkembang yang dilihat dari tingkat pendapatannya, sebagai berikut: 
  1. Negara paling miskin/terbelakang (least developed) berjumlah 44 negara;
  2. Negara sedang berkembang (developing nation) berjumlah 88 negara;
  3. Negara kaya (pengekspor minyak) berjumlah 13 negara. 

Dari beberapa ukuran pengelompokan tersebut, kita dapat menyimpulkan bagaimana penggolongan negara maju dan negara berkembang dapat dilakukan. Ukuran yang pasti, jika kita menggolongkannya dengan menggabungkan tiga ukuran di atas sekaligus, yaitu kita lihat tingkat perekonomian, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mutu kependudukan.

Baca lebih lanjut:

Posisi Strategis Indonesia

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan