Tampilkan postingan dengan label Flora dan Fauna di Indonesia dan Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flora dan Fauna di Indonesia dan Dunia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Januari 2024

Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati merujuk pada variasi kehidupan di Bumi, termasuk variasi genetik, spesies, dan ekosistem. Keanekaragaman hayati mencakup berbagai bentuk kehidupan mulai dari mikroorganisme yang tidak terlihat dengan mata telanjang hingga hewan dan tumbuhan yang lebih kompleks. Konsep ini mencakup seluruh spektrum kehidupan di planet ini dan cara berbagai bentuk kehidupan tersebut saling berinteraksi.

Tingkat keanekaragaman hayati dapat diukur melalui beberapa aspek, seperti keanekaragaman genetik, keanekaragaman spesies, dan keanekaragaman ekosistem. Keanekaragaman genetik merujuk pada variasi dalam materi genetik antar individu dalam suatu spesies. Keanekaragaman spesies mencakup jumlah dan jenis spesies yang ada dalam suatu wilayah atau ekosistem. Keanekaragaman ekosistem mencakup beragamnya ekosistem yang dapat ditemukan di berbagai bagian dunia.

Keanekaragaman hayati memiliki nilai ekologi, ekonomi, dan estetika yang besar. Kehidupan dalam berbagai bentuknya memberikan layanan ekosistem yang penting, seperti polinasi tanaman, penguraian limbah organik, dan penyediaan sumber daya alam seperti pangan dan obat-obatan. Keanekaragaman hayati juga memainkan peran kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menghadapi perubahan lingkungan.

Upaya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati menjadi sangat penting untuk mencegah kepunahan spesies, mempertahankan fungsi ekosistem, dan mendukung kesejahteraan manusia jangka panjang.

Pertanyaan:

  1. Berdasarkan bacaan di atas, sebutkan dan jelaskan secara singkat 3 tingkat pengukuran keanekaragaman hayati !
  2. Jelaskan mengapa terganggunya keanekaragaman hayati dapat berdampak langsung terhadap ketahanan pangan manusia! Manfaatkan informasi dari paragraf ketiga untuk mendukung alasan Anda.
  3. Mengapa variasi pada tingkat mikroorganisme (makhluk hidup yang tidak terlihat mata telanjang) tetap dikategorikan sebagai bagian penting dari keanekaragaman hayati ?

Kamis, 06 September 2018

Kriteria Penetapan Kawasan Suaka Alam, Fungsi, dan Pemanfaatannya

Kriteria penetapan fungsi Kawasan Suaka Alam (KSA) dimuat oleh PP nomor 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelstarian Alam (KPA). 

Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Kawasan Suaka Alam terbagi menjadi 2, yaitu kawasan Cagar Alam (CA) dan kawasan Suaka Margasatwa (SM). Kedua kategori kawasan tersebut dilindungi secara ketat, sehingga tidak boleh ada sedikitpun campur tangan manusia dalam proses-proses alami yang terjadi di dalam kawasan tersebut. Kawasan ini hanya diperuntukkan bagi keperluan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Kriteria, fungsi dan pemanfaatan masing-masing jenis KSA adalah sebagai berikut : 
A. Cagar Alam
Cagar Alam adalah KSA yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan/keunikan jenis tumbuhan dan/atau keanekaragaman tumbuhan beserta gejala alam dan ekosistemnya yang memerlukan upaya perlindungan dan pelestarian agar keberadaan dan perkembangannya dapat berlangsung secara alami. Berdasarkan Buku Statistik Kemenhut 2011, saat ini terdapat 239 unit Cagar Alam Darat  dengan total luas 4.330.619,96  hektar, dan 6 unit Cagar Alam perairan dengan luas sekitar 154.610,10 hektar. Untuk dapat diusulkan sebagai kawasan Cagar Alam, suatu kawasan harus memiliki beberapa kriteria sebagai berikut :
  1. Memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan/atau satwa liar yang tergabung dalam suatu tipe ekosistem;
  2. Mempunyai kondisi alam, baik tumbuhan dan/atau satwa liar yang secara fisik masih asli dan belum terganggu;
  3. Terdapat komunitas tumbuhan dan/atau satwa beserta ekosistemnya yang langka dan/atau keberadaaannya terancam punah;
  4. Memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunnya;
  5. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu yang dapat menunjang pengelolaan secara efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami; dan/atau
  6. Mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi.
Terkait apa saja hal-hal yang dapat dilakukan di dalam kawasan, maka Cagar alam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang berupa :
  1. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
  2. Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam;
  3. Penyerapan dan/atau penyimpanan karbon; dan
  4. Pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya.

B. Suaka Margasatwa
Suaka Margasatwa adalah KSA yang mempunyai kekhasan/keunikan jenis satwa liar dan/atau keanekaragaman satwa liar yang untuk kelangsungan hidupnya memerlukan upaya perlindungan dan pembinaan terhadap populasi dan habitatnya. 

Data Statistik Kemenhut 2011 menunjukkan bahwa saat ini terdapat Suaka Margasatwa darat sebanyak 71 unit dengan luas 5.024.138,29 hektar serta 4 unit Suaka Margasatwa perairan dengan luas sekitar 5.588,00 hektar. Untuk dapat diusulkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa, suatu kawasan harus memiliki beberapa kriteria sebagai berikut :
  1. Merupakan tempat hidup dan berkembang biak satu atau beberapa jenis satwa langka dan/atau hampir punah;
  2. Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
  3. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migrasi tertentu; dan/atau
  4. Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa.
Suaka margasatwa dapat dimanfaatkan untuk kegiatan:
  1. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
  2. Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam;
  3. Penyimpanan dan/atau penyerapan karbon, pemanfaatan air serta energi air, panas, dan angin serta wisata alam terbatas; dan
  4. Pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya.
C. Pengelolaan Blok dan Perlindungannya 
Penataan KSA dilakukan membentuk blok-blok pengelolaan. Blok pengelolaan KSA meliputi:
  1. Blok perlindungan;
  2. Blok pemanfaatan; dan
  3. Blok lainnya.
Khusus terkait upaya perlindungan, perlindungan KSA mencakup 4 tujuan:
  1. Terjaminnya proses ekologis yang menunjang kelangsungan hidup dari flora, fauna, dan ekosistemnya;
  2. Menjaga, mencegah, dan membatasi kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan potensi dan kawasan serta perubahan fungsi kawasan, baik yang disebabkan oleh manusia, ternak, kebakaran, alam, spesies invasif, hama, dan penyakit;
  3. Menjaga hak negara, masyarakat, dan perorangan atas potensi, kawasan, ekosistem, investasi, dan perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan KSA dan KPA;
  4. Menjamin keutuhan potensi, kawasan, dan fungsi kawasan.
Upaya perlindungan yang dilakukan tersebut melalui:
  1. Pencegahan, penanggulangan, dan pembatasan kerusakan yang disebabkan oleh manusia, ternak, alam, spesies invasif, hama, dan penyakit;
  2. Melakukan pengamanan kawasan secara efektif
Spesies invasif adalah definisi yang menjelaskan tentang spesies yang bukan spesies asli tempat tersebut (hewan ataupun tumbuhan), yang secara luas memengaruhi habitat yang mereka invasi. Makna lain dari spesies invasif adalah spesies, baik spesies asli maupun bukan, yang mengkolonisasi suatu habitat secara masif. Namun spesies yang diperkenalkan secara sengaja oleh manusia bukan untuk memengaruhi suatu habitat melainkan untuk keuntungan hidup manusia dan sekelompok manusia dinamakan spesies introduksi.

Umumnya, invasi terjadi karena suatu kompetisi. Spesies selalu berkompetisi dengan spesies lain untuk mendapatkan sumber daya sebanyak-banyaknya sehingga salah satu caranya adalah dengan tumbuh dan berkembang biak secepat mungkin. Hal ini cukup mengeliminasi spesies asli dari kompetisi memperebutkan sumber daya. Selain dengan tumbuh dan berkembang dengan cepat, mereka juga melakukan interaksi yang kompleks dengan spesies asli.
Di bawah ini beberapa contoh spesies invasif yang ditemukan di Indonesia.





















Sumber: PP nomor 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan
Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelstarian Alam (KPA).

Baca juga mengenai: Cagar  Biosfer

Jenis-jenis Hutan di Indonesia, Fungsi dan Pemanfaatannya

Oleh karena Indonesia beriklim tropis dan banyak mendapat hujan, wilayah ini mempunyai hutan-hutan lebat yang disebut hutan hujan tropis. Di Indonesia terdapat beberapa macam hutan, seperti berikut ini. 
  1. Hutan hujan tropis, terdapat di daerah yang banyak mendapat hujan. Pohon-pohon dalam hutan ini berdaun rindang dan lantai hutan gelap karena sinar matahari tidak dapat menembus daun-daun rindangnya. Tanah dan udara dalam hutan lembap karena uap airnya sukar naik terevaporasi ke atas. Pohon-pohon dalam hutan tersebut sering dibelit oleh tumbuhan sulur, seperti rotan.
  2. Hutan musim, terdapat di daerah yang dipengaruhi iklim musim. Selama musim kemarau, daun pohon-pohon di hutan musim ini banyak yang gugur sehingga meranggas. Sebaliknya, setelah musim penghujan daun pohon-pohon hutan musim lebat kembali. Hutan musim sering juga disebut hutan homogen karena terdiri atas satu jenis tumbuhan saja.
  3. Hutan bakau, terdapat di dataran rendah pantai yang banyak lumpurnya. Pohon bakau mempunyai akar menjulang di atas permukaan air pada waktu air laut surut dan terendam pada waktu air laut pasang. Akar pohon bakau dapat menahan abrasi (kikisan ombak) air laut.
  4. Hutan sabana dan stepa, terdapat di daerah kurang hujan. Hutan sabana merupakan padang rumput (stepa) yang di sebagian tempat terdapat hutan dengan pohon-pohon yang rendah. Hutan ini banyak terdapat di daerah Nusa Tenggara dan dimanfaatkan sebagai lahan usaha peternakan sapi dan kuda.
Berdasarkan cara terjadinya, hutan dibedakan menjadi hutan alam dan hutan budidaya.
  • Hutan alam – hutan yang terjadi secara alami. Hutan ini terbagi menjadi hutan primer dan hutan sekunder.
    • Hutan primer, adalah hutan yang masih utuh belum ditebang.
    • Hutan sekunder, adalah hutan primer yang sudah ditebang dan dalam waktu tertentu.
  • Hutan budidaya – merupakan hutan yang ditanami oleh manusia dengan tujuan memberi hasil.

Manfaat Hutan Bagi Kehidupan
Berbagai jenis hutan yang ada di Indonesia tersebut memiliki manfaat bagi kehidupan manusia antara lain sebagai berikut:
  • Mencegah erosi dan tanah longsor, karena akar-akar pohon memiliki daya ikat terhadap butiran-butiran tanah.
  • Menjaga keseimbangan air tanah, karena curah hujan yang jatuh di daerah hutan akan lebih banyak menjadi pengisi air tanah. 
  • Menyimpan dan mengatur persediaan air, sebab akar-akar pohon di hutan mampu menghambat dan menahan jalannya air yang masuk ke dalam tanah.
  • Menyuburkan tanah, karena daun-daun yang berguguran dapat membentuk tanah humus.
  • Menghasilkan bahan mentah untuk industri dan bahan bangunan, antara lain rotan, dapat digunakan untuk industri dan bahan bangunan seperti kamper (barus), dapat dipakai untuk wangi-wangian dan obatobatan; damar, dapat diolah menjadi cat, pernis, lak; kopal (arpus), dapat dibuat cat yang baik; getah perca, dapat dipakai sebagian bahan alat-alat laboratorium, bola golf, pembalut kabel; dan jelutung, merupakan bahan mentah industri kimia.
  • Mengurangi polusi udara, karena daun-daun pohon mampu menyerap gas-gas polutan sehingga udara di sekitar hutan segar dan bersih.
  • Menyediakan oksigen O2 – Dengan jumlah pepohonan yang banyak, tentunya hutan akan memberikan suplay kebutuhan oksigen yang cukup besar bagi kehidupan di muka bumi ini. 
  • Menyerap karbon dioksida (CO2) – Keberadaan hutan yang luas di muka bumi akan memberikan peluang penyerapan karbon dioksida yang lebih besar. Carbon dioksida adalah gas yang berbahaya apabila dihirup secara berlebih oleh manusia.
  • Untuk mencegah erosi – Keberadaan kawasan hutan yang luas juga dapat membantu mencegah erosi atau pengikisan tanah. Pengikisan tanah dapat disebabkan oleh air.
  • Pelestarian Plasma Nutfah – Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri. Penguasaannya merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan.
  • Mengatasi Penggenangan – Daerah rendah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi yang tinggi.
  • Pelestarian Air Tanah – Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan.
  • Iklim – Hutan adalah pertahanan alami terhadap perubahan iklim, menghilangkan gas karbon dioksida rumah kaca dan menghasilkan oksigen. Hal ini membantu dalam memurnikan atmosfer dan mengendalikan kenaikan suhu.
  • Keanekaragaman Hayati – Hutan mengandung berbagai keanekaragaman hayati yang lebih besar daripada ekosistem lainnya di bumi.  Berbagai macam pohon dan tanaman yang ditemukan di hutan tropis terdiri dari keanekaragaman hayati sangat intensif. Keanekaragaman hayati ini menjadi penting, apalagi tiap spesies saling bergantung telah berevolusi selama jutaan tahun untuk berinteraksi dan berkembang.

Fungsi Hutan
Keberadaan hutan sangat penting bagi kehidupan, karena hutan memiliki beberapa fungsi, yaitu:
  • Fungsi orologis/mencegah erosi – fungsi hutan untuk menahan hanyutnya bunga tanah dan mencegah erosi serta melindungi tanah lapisan atas (top soil).
  • Fungsi hidrologis (mengatur tata air) – fungsi hutan sebagai penyimpan air dan mengatur beredarnya air tanah atau mata air.
  • Fungsi klimatologis (mengatur iklim) – hutan berfungsi menjaga kelembapan udara, menjaga suhu udara, agar tidak terlalu tinggi dan mengurangi penguapan air tanah.
  • Fungsi estetika atau keindahan – fungsi hutan untuk dinikmati pemandangannya, karena keindahan untuk rekreasi.
  • Fungsi strategis atau pertahanan – yaitu untuk keperluan pertahanan bila terjadi perang. Hutan pertahanan negara telah ditentukan oleh Departemen Pertahanan secara rahasia, demi kepentingan bangsa dan negara.
  • Fungsi Ekonomis – Keberadaan hutan menyebabkan adanya pembukaan lahan pekerjaan bagi semua Rakyat Indonesia dalam mengelola Hutan. Misalkan: Jadi pengerajin kayu ukiran atau menjadi barang serba guna yang memiliki harga yang sangat mahal. Hasil kayu di Indonesia sangat Banyak dan karena hal ini Indonesia mengekspor Sebagian Kayu kepada negara tetangga. seperti : Malaysia dan Singapura. Hal ini mengakibatkan bertambahnya devisa negara.

Kesimpulan
  • Hutan menjaga keseimbangan ekosistem dunia, mencegah rantai makanan agar siklusnya tidak terganggu dan mengusik kelangsungan hidup manusia.
  • Hutan juga sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan.
  • Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global.
  • Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.


Hutan Mangrove




Hutan Hujan Tropis


Penggolongan Hutan

Hutan dapat digolongkan atau dibedakan atas beberapa bagian seperti berikut ini. 

a. Berdasarkan Keadaan Iklim 
  1. Hutan hujan tropis, yaitu hutan yang berdaun lebat, berpohon besar dan tinggi, misalnya hutan di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, dan Pulau Irian, dataran rendah Amazon (Brasil), serta selatan Florida (Amerika Tengah). 
  2. Hutan musim, yaitu hutan yang daunnya meranggas pada musim panas dan bertunas/berdaun pada musim hujan. 
  3. Hutan gugur daerah sedang, yaitu hutan yang terdapat di wilayah 25º - 40º Lintang Utara dan Lintang Selatan. 

b. Berdasarkan Jenis Tumbuhan
  1. Hutan homogen, yaitu hutan yang terdiri atas satu jenis tumbuhan utama saja, misalnya hutan jati, hutan pinus, dan lain-lain.
  2. Hutan heterogen, yaitu hutan yang terdiri atas berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, biasanya merupakan hutan rimba.

c. Berdasarkan Ketinggian Tempat
  1. Hutan payau (hutan pantai), yaitu hutan yang terdapat di sepanjang pantai, misalnya di pantai timur Pulau Sumatera dan pantai utara Pulau Jawa.
  2. Hutan rawa, yaitu hutan yang terdapat di daerah rawa, misalnya hutan di Pulau Kalimantan.
  3. Hutan dataran rendah, yaitu hutan yang terdapat di daerah dataran rendah.
  4. Hutan pegunungan, yaitu hutan yang terdapat di daerah pegunungan. 

d. Berdasarkan Tujuan dan Kegunaan
  1. Hutan produksi, yaitu hutan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan baku produksi, seperti kayu bangunan, kertas, perabot rumah tangga, dan lain-lain.
  2. Hutan lindung, yaitu hutan yang dimaksudkan untuk keperluan perlindungan alam dan kelestarian lingkungan, misalnya untuk mencegah erosi dan banjir, serta mengatur kelembapan tanah.
  3. Hutan rekreasi, yaitu hutan yang sengaja diperuntukkan bagi kepentingan rekreasi supaya daerah rekreasi selalu sejuk dengan pemandangan alam yang indah.
  4. Hutan suaka alam, yaitu hutan yang berfungsi melindungi tumbuhtumbuhan yang sudah langka dan dikhawatirkan punah.
  5. Hutan produksi, hutan rekreasi, dan hutan suaka alam adalah hutan budi daya, yaitu hutan yang sengaja dibuat dan dipelihara untuk kepentingan manusia.
Baca juga mengenai: 

Rabu, 05 September 2018

Persebaran Fauna di Dunia

Wilayah persebaran fauna pertama kali diperkenalkan oleh Sclater (1858) dan kemudian dikembangkan oleh Huxley (1868) dan Wallace (1876). Ada beberapa faktor alam yang mempengaruhi persebaran fauna di dunia yang bersifat menghambat, yaitu faktor-faktor fisik yang berhubungan dengan keadaan di bumi, misalnya :
  1. perairan (sungai, danau, laut)
  2. daratan (gunung, lembah, jurang, padang pasir dll)
  3. iklim (suhu, tekanan udara, kelembaban dll)
Alfred Russel Wallace mengelompokkan persebaran fauna di dunia menjadi 6 wilayah persebaran fauna, yaitu :

1. Paleartic
Wilayah persebaran fauna Paleartik meliputi hampir seluruh daratan Eurasia dan beberapa daerah lain seperti kawasan pegunungan Himalaya, Afganistan, Afrika, Inggris dan Jepang. Keadaan lingkungan di wilayah ini cukup bervariasi, antara lain memiliki perbedaan suhu yang tinggi dan curah hujan yang berbeda-beda.

Peta Wilayah Sebaran Paleartic

Beberapa jenis fauna yang hidup jenis fauna yang hidup di wilayah Paleartik antara lain :
  • Fauna khas seperti tikus, bison, landak dan menjangan kutub.
  • Fauna yang terbatas penyebarannya seperti unta, rusa kutub dan beruang kutub.
  • Beberapa jenis reptil yang berhubungan dengan fauna Ethiopian dan Oriental
  • Fauna endemik yang hanya terdapat di daerah Cina, yaitu beruang Panda.

Panda

2. Nearctic
Wilayah fauna Neartik terdapat dibelahan bumi utara tepatnya di wilayah benua Amerika bagian utara dan seluruh wilayah Greenland. Pada wilayah persebaran ini terdapat beberapa bioma yang mendominasi kawasannya, antara lain :
  • Amerika Utara bagian timur banyak ditumbuhi oleh vegetasi hutan gugur.
  • Amerika Utara bagian tengah terdiri atas bioma padang rumput
  • Amerika Utara bagian utara didominasi oleh bioma taiga yang memiliki hutan konifer yang sangat luas.
Peta Wilayah Sebaran Nearctic

Lingkungan fisik wilayah Greenland tertutup oleh salju dengan ketebalan yang sulit ditentukan. Beberapa jenis fauna khas di wilayah Neartik antara lain:  Antelop bertanduk cabang tiga, prairie dog sejenis tupai dari Amerika Utara, kolkum, burung biru, salamander, bison, karibou, mockingbird, dan musk ox.


Karibou


Salamander


Prairie dog


Mockingbird


Musk Ox


Bison


Ayam Kalkun

3. Ethiopian
Wilayah fauna Ethiopian meliputi seluruh daratan benua Afrika, Madagaskar dan daratan Arab bagian selatan. Keadaan lingkungan wilayah Ethiopian relatif seragam. Di bagian utara wilayah Ethiopian terdapat Gurun Sahara yang merupakan padang pasir terluas di dunia. Gurun ini menjadi barier atau pembatas antara wilayah Ethipian dengan wilayah Paleartik.

Peta Wilayah Sebaran Ethiohian

Wilayah Ethiopian memiliki kurang lebih 160 vertebrata darat, dan memiliki beberapa fauna khas.
  • Fauna khas di wilayah daratan Afrika misalnya gajah, singa, cheetah, hyena, jerapah, zebra, unta dan badak afrika.
  • Fauna yang mirip dengan daerah Oriental adalah jenis kucing dan anjing, lemur, baboon, gorila dan simpanse.
  • Fauna khas pulau Madagaskar misalnya kudanil kecil (Pygmyhippopotamus) dan beberapa burung endemik seperti burung gajah besar.
Gajah Afrika

Singa Afrika

Cheetah


Hyena














Lemur



Baboon


Kudanil


Jerapah 

4. Oriental
Wilayah fauna Oriental meliputi Benua Asia beserta pulau-pulau disekitarnya meliputi Srilangka, Filipina  dan wilayah fauna Indonesia bagian barat dan tengah yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi.
Peta Wilayah Sebaran Oriental

Kondisi lingkungan fisik wilayah Oriental cukup bervariasi, sebagian besar beriklim tropis sehingga banyak terdapat hutan tropis yang kaya akan flora dan fauna. Beberapa fauna khas yang hidup di wilayah Oriental antara lain :
  • Harimau, gajah, gibbon, orang utan, bekantan, monyet, badak bercula satu, menjangan, antelop, tapir, babi rusa.
  • Terdapat beberapa fauna endemik yang hanya hidup di daerah tertentu, misalnya anoa di Sulawesi dan komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Harimau

Gajah Sumatera


Orang utan Kalimantan


Badak bercula satu





Bekantan














Tapir










Menjangan












Babi rusa





5. Australis
Wilayah persebaran fauna Australis sebagian besar kondisi lingkungannya tropis dan sebagian lagi beriklim sedang. Kondisi lingkungan di wilayah Australia yang cukup mencolok disebabkan oleh letaknya yang terpisah jauh dari benua lainnya.

Wilayah persebaran fauan Australis meliputi :
  • Benua Australia
  • Selandia Baru
  • Papua
  • Maluku dan pulau-pulau kecil di sekitarnya
  • Kepulauan-kepulauan di samudera pasifik di sebeleh  selatan garis katulistiwa

                                                     Peta Wilayah Sebaran Australian

Beberapa hewan khas wilayah fauna Australia antara lain :
  • Kiwi - Koala - Oposum Layang (pemanjat berkantung) - Kangguru Pohon - Platypus
  • Burung Penghisap Madu - Burung Emu - Kakaktua - Kasuari
  • Nokdiak (landak Irian) - Wallaby - Cendrawasih - Kangguru
Selain beberapa fauna di atas juga terdapat beberapa fauna endemik yang hanya terdapat di satu wilayah, yaitu (sphenodon punctatus) sejenis amphibi purba yang hanya terdapat di Selandia Baru dan Tazmanian Devil yang terdapat di pulau Tasmania.
  • Tazmanian Devil
  • Tuatara (Sphenodon Punctatus)





6. Neotropik
Wilayah fauna Neotropik tersebar dari Meksiko bagian selatan sampai Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Kondisi wilayah Neotropik sebagian besar beriklim tropis dan di Amerika Sealatan lebih banyak yang beriklim sedang.
Peta Wilayah Sebaran Neotropik

Beberapa jenis fauna khas yang  hidup di wilayah fauna ini antara lain : Ilama Kukang, armadillo, alpaka, kelelawar penghisap darah, siamang, trenggiling, menjangan, sejenis babi, kuda, kera dan tapir (berbeda dengan tapir Asia terutama pada punggungnya.

Ilama


Kukang


Armadillo



Ikan Piranha











Trenggiling




Tapir Brazil
Alpaka


Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar peta persebaran fauna di dunia secara utuh di bawah ini.

Ilusi Kesejahteraan dan Marjinalisasi Kaum Tani dalam Ketimpangan Struktur Agraria

Sektor pertanian di Indonesia terus berhadapan dengan kontradiksi mendasar antara agenda modernisasi ekonomi dan keadilan sosial-agraria. Di...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan