Tampilkan postingan dengan label Citra Inderaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Citra Inderaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2019

Menghitung Skala Foto Udara

Foto udara (Aerial Photograph) merupakan suatu rekaman detail permuakaan bumi yang dipengaruhi oleh panjang fokus lensa kamera, ketinggian terbang pesawat, waktu pemotretan, jenis film dan filter yang dipakai saat pemotretan (Djauhari noor, 2012). Foto udara menggabungkan dari beberapa gambar/ citra foto yang dibuat untuk mengenali unsur-unsur alam melalui penafsiran/interpretasi. Foto udara yang dipakai secara geometri berhubungan dengan jenis kamera yang dipakai dalam pemotretan. Penerapan fotografi dalam pengelolaan daerah aliran sungai memiliki peran penting dalam perencanaaan dan evaluasi dalam menyususn strategi rehabilitasi hutan dan lahan serta pengelolaan daerah aliran sungai untuk mendukung pembangunan secara berkelanjutan suatu wilayah. Foto udara mampu mengenali objek lebih detail dengan skala tertentu.

Dalam ilmu geografi, pemahaman skala sangat penting karena merupakan bagian analisa spasial yang akan mempengaruhi analisa lebih lanjut untuk kepentingan tertentu. Aspek pokok skala foto udara dilihat dari kepentingan penggunaan data foto udara, kemampuan alat foto udara dalam cakupan luasan tertentu, dan jenis objek yang akan diambil. Makadariitu skala sangatlah penting. Jika dalam peta biasa penghitungan skaladapat diukur dengancaramembandingkan jarak di peta dengan jarak sebenarnya di lapangan. Terus bagaimana cara menghitung skalapada foto udara?

Skala pada sebuah foto udara merupakan perbandingan antara jarak dua titik pada foto udara dan jarak dua titik secara mendatar di lapangan.  alam sebuah foto udara, untuk mengetahui skala foto maka perlu diamati keterangan yang terdapat pada tepi foto udara. Untuk menghitung skala sebuah foto udara dapat menggunakan rumus berikut:


Keterangan:

S   = Skala Foto Udara

f   = Panjang Fokus

H   = Tinggi Wahana

h    = Tinggi Objek

ketinggian pesawat = (H - h)

Jumat, 05 Oktober 2018

Contoh Pengenalan Unsur Bentang Alam dan Bentang Budaya dari Citra

Bentang alam dan bentang budaya merupakan objek dari penginderaan jauh. Contoh pengenalan unsur bentang alam dan bentang budaya dari citra penginderaan jauh oleh Prof. Dr. Sutanto dalam bukunya penginderaan jauh, tahun 1992.

1. Unsur Bentang Alam
  • Sungai, memiliki tekstur permukaan air yang seragam dengan rona yang gelap jika airnya jernih atau cerah jika keruh. Arah aliran sungai ditandai oleh bentuk sungai yang lebar pada bagian muara, pertemuan sungai memiliki sudut lancip sesuai dengan arah aliran, perpindahan meander ke arah samping dan ke arah bawah (muara).
  • Dataran banjir, memiliki permukaan yang rata dengan posisi lebih rendah dari daerah sekitar. Dataran banjir memiliki rona yang seragam atau kadang-kadang tidak seragam, dan terdapat sungai yang posisinya kadang-kadang agak jauh.
  • Gumuk pasir, berbentuk sempit dan memanjang, lurus atau melengkung, igir rendah dengan permukaan air yang datar, sejajar sama lain dan sejajar pantai. Tak terdapat aliran permukaan dan erosi. Pada kawasan terbukti bentuknya sesuai garis tinggi.
  • Hutan bakau, memiliki rona sangat hitam karena daya pantul terhadap cahaya rendah, ketinggian pohon seragam dan tumbuh pada pantai yang becek, tepi sungai atau peralihan air payau.
  • Hutan rawa, memiliki rona dan tekstur tidak seragam. Hal ini disebabkan karena ketinggian pohonnya berbeda. Terletak antara hutan bakau dengan hutan rimba di kawasan pedalaman.
2. Unsur bentang budaya
  • Jalan raya dan jalan kereta api. Jalan raya dan jalan kereta api memiliki bentuk memanjang, lebarnya seragam dan relative lurus. Tekstur halus serta rona yang kontras dengan daerah sekitar dan pada umumnya cerah.
  • Terowongan dan jembatan
    • Pada terowongan Nampak seperti jalan atau jalan kereta api yang tiba-tiba hilang pada satu titik dan timbul lagi pada titik lain.
    • Pada jembatan Nampak adanya sungai atau saluran irigasi yang menyilang jalan, terdapat bayangan karena perbedaan tinggi antara jembatan dengan sungai.
  • Stasiun kereta api, terminal bus, dan Bandar udara.
    • Pada stasiun kereta api terdapat bangunan rumah yang terpisah dari sekitarnya, Nampak cabang rel kereta api dan gerbong kereta api. Pada stasiun besar Nampak rel yang hilang pada satu sisi rumah dan timbul kembali pada sisi yang lain.
    • Pada terminal bus nampak kawasan yang datar, teratur, dan luas, terdapat bangunan besar dengan deretan bus yang berjajar ke arah samping dan jaraknya rapat.
    • Pada Bandar udara nampak panjang dengan ukuran teratur, dengan rona cerah dan tekstur yang halus.
  • Lapangan sepak bola, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran teratur, dengan rona cerah dan tekstur yang halus.
  • Rumah permukiman
    • Rumah/pemukim berbentuk empat persegi panjang, terdapat bayangan di tengah-tengah bagian atapnya, terletak di dekat jalan dan ukuran rumah relative kecil
    • Gedung sekolah bentuknya seperti I, L atau U dengan halaman yang teratur dan bersih serta luas.
    • Rumah sakit merupakan bangunan seragam, besar dan memanjang, pola teratur dengan deretan bangunan yang terpisah satu sama lain yang dihubungkan oleh bangunan penghubung. Memiliki halaman yang luas untuk parker dan letaknya di tepi jalan.
    • Pabrik/industri memiliki gedung dengan ukuran besar dan pada umumnya memanjang, beberapa gedung sering bergabung dengan jarak yang dekat (rapat). Terletak di pinggir jalan , terdapat tempat bongkar muat barang, kadang-kadang nampak tangki air/bahan bakar, cerobong asap dan sebagainya.
    • Pasar memiliki bentuk dan ukuran gedung yang teratur dan seragam. Pola teratur dengan jarak rapat, terletak di tepi jalan besar dan nampak konsentrasi kendaraan bermotor dan tidak bermotor.
  • Tanah pertanian dan perkebunan
    • Sawah berupa petak-petak persegi panjang pada daerah datar, pada daerah miring bentuk petak mengikuti garis tinggi. Sering nampak saluran irigasi. Jika pada sawah tersebut terdapat tanaman padi, memiliki tekstur yang halus dengan rona gelap pada usia tua. Jika ditanami tebu, tekstur lebih kasar dari padi dan tampak jalur lariknya. Tekstur dan rona nampak seragam pada kawasan yang luas.
    • Perkebunan karet memiliki jalur lurus dengan tinggi pohon seragam, jarak tanaman dalam jalur teratur demikian juga jarak antar jalur. Tekstur mirip beledu dengan rona yang gelap.
    • Perkebunan kopi tampak sebagai deretan lurus titik-titik hitam dan latar belakang cerah. Pohon pelindung lebih tinggi dan lebih jarang.
    • Perkebunan kelapa memiliki pola yang teratur dengan rona yang cerah dan terdapat pada daerah yang mudah meresap air dengan curah hujan yang cukup banyak. Tajuk pohon berbentuk bintang.
    • Perkebunan kelapa sawit memiliki tajuk yang rapat dan berbentuk bintang, teksturnya lebih halus dari tanaman kelapa.

Selasa, 21 Agustus 2018

Perbedaan Peta dan Citra

Berdasarkan penjelasn di depan diketahui bahwa peta dan citra merupakan media yang sama-sama menggambarkan bumi, baik sebagian maupun keseluruhan. Namun perlu kita ketahui bahwa antara keduanya memiliki perbedaan-perbedaan tertentu, yaitu:

No.
Faktor Pembeda
Peta
Citra
1.
Waktu pembuatan
Lama, karena merupakan hasil penggambaran yang berulang-ulang dengan teknik tertentu.
Sebentar, karena merupakan hasil dari pemotretan langsung terhadap permukaan bumi.
2.
Bentuk
Merupakan gambar dua dimensi
Merupakan gambar tiga dimensi (jika dilihat secara stereoscopic)
3.
Objek/gambar
Berupa lambang atau symbol yang dapat mewakili objek di permukaan bumi.
Merupakan gambar objek yang sebenarnya.
4.
Komponen penjelas
Terdapat komponen-komponen tertentu yang dapat menjelaskan isi peta.
Tidak ada komponen-komponen. Oleh karena itu perlu interpretasi citra untuk mengetahui/mengenali objek.
5.
Hasil
Dapat dibaca tanpa alat Bantu bahkan oleh setiap orang.
Tidak dapat dibaca oleh sembarang orang, karena memerlukan alat Bantu dan keahlian tertentu untuk menafsirkan

Minggu, 19 Agustus 2018

Interpretasi Citra dan Unsur-unsurnya

Interpretasi foto dapat didefinisikan sebagai: "tindakan memeriksa gambar foto untuk tujuan mengidentifikasi objek dan menilai signifikansi mereka" (Colwell, 1997). 

Tahapan Dalam Interpretasi Citra
Dalam penginterpretasian citra kita akan menjumpai beberapa tahapan yaitu deteksi, identifikasi, dan analisis. Untuk penjelasan dari setiap tahapan kalian bisa simak baik-baik ulasan di bawah ini.

1. Deteksi
Deteksi merupakan usaha untuk mengetahui data yang tampak maupun yang tidak tampak secara global. Deteksi juga memiliki arti penentuan terhadap keberadaan suatu objek, apakah objek tersebut ada atau tidak ada pada citra dan merupakan tahap awal dalam interpretasi citra. Pada tahap ini keterangan yang diperoleh bersifat global.

2. Identifikasi
Identifikasi merupakan kegiatan untuk mengenali suatu objek yang tergambar pada citra melalui rekaman oleh sensor dengan menggunakan alat stereoskop. Pada tahap ini bersifat setengah terperinci serta kita dapat mengenali objek berdasarkan tiga ciri utama sebagai berikut.
  • Ciri spektral, merupakan ciri yang dihasilkan oleh adanya interaksi antara tenaga elektromagnetik dan objek. Pada ciri ini objek dinyatakan menggunakan rona dan warna.
  • Ciri Spasial, pada ciri ini kita dapat mengenali objek menggunakan unsur-unsur interpretasi yang meliputi rona, bentuk, pola, ukuran, bayangan, asosiasi, dan tekstur karena pada ciri ini mengungkapkan jenis permukaan bumi.
  • Ciri temporal, ciri ini merupakan ciri yang terkait dengan benda pada waktu perekaman, misalnya rekaman sungai pada musim hujan tampak cerah sedangkan pada musim kemarau rekaman sungai tampak gelap.
3. Analisis
Analisis merupakan suatu kegiatan pembelajaran serta penguraian data hasil  tahap identifikasi sehingga dapat dihasilkan dalam bentuk tabel, grafik, atau peta tematik.Urutan kegiatan dalam penginterpretasikan citra secara lebih terperinci yaitu sebagai berikut.

  • Menguraikan atau memisahkan objek yang rona atau warnanya berbeda.
  • Ditarik garis batas atau delineasi bagi objek yang rona warnanya sama.
  • Setiap objek dikenali berdasarkan karakteristik spasial dan unsur temporalnya.
  • Objek yang telah dikenali atau diketahui diklasifikasikan sesuai dengan tujuan interpretasinya.
  • Digambarkan ke dalam peta kerja atau peta sementara.
  • Untuk menjaga ketelitian serta kebenarannya perlu dilakukan pengecekan medan atau pengecekan di lapangan.
  • Interpretasi pada tahap akhir adalah pengkajian atas pola atau susunan keruangan (objek).
  • Digunakan sesuai tujuannya.
Unsur-unsur Interpretasi Citra
Dalam melakukan kegiatan interpretasi citra, ada beberapa unsur yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan deteksi, identifikasi untuk mengenali sebuah obyek. Di bawah ini merupakan unsur-unsur dalam interpretasi citra.

1. Rona dan Warna
Rona ini merupakan unsur dasar dalam interpretasi citra. Rona merupakan tingkat kecerahan suatu objek dengan tingkatan mulai dari hitam hingga putih atau sebaliknya. Contohnya adalah perairan yang dangkal seperti bibir pantai memiliki rona yang cerah. 

Warna adalah ujud yang tampak oleh mata dengan menggunakan spektrum sempit, lebih sempit dari spektrum tampak.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rona antara lain karakteristik obyek itu sendiri, cuaca saat perekaman, posisi obyek serta waktu perekaman dan warna obyek di lapangan.

a. Karakteristik obyek
Karakterisitik obyek yang mempengaruhi rona antara lain :
  • Permukaan kasar cenderung menimbulkan rona gelap pada citra karena sinar yang datang mengalami hamburan hingga mengurangi pantulan sinarnya.
  • Warna obyek yang gelap cenderung menghasilkan rona yang gelap
  • Obyek yang basah/lembab cenderung menghasilkan rona gelap
  • Pantulan obyek, misalnya perairan akan menghasilkan rona yang gelap. Sedangkan perbukitan kapur akan menghasilkan rona yang terang.

b. Bahan yang digunakan
Jenis filem yang digunakan juga mempengaruhi rona pada citra, hal dikarenakan setiap film juga mempunyai dan kepekaan kualitas tersendiri.

c. Pemrosesan Emulsi
Proses emulsi dapat menghasikan cetakan dengan hasil redup (mat), setengah redup (semi mat) dan cetakan gilap (glossy). Cetakan glossy menghasilkan rona yang cenderung terang sebaliknya cetakan redup menghasilkan rona yang cenderung gelap.

d. Cuaca
Kondisi udara di atmosfer dapat menyebabkan citra terlihat memiliki rona yang terang/gelap. Jika kondisi udara di atmosfer sangat lembab dan berkabut akan menyebabkan rona pada citra cenderung gelap

e. Letak Obyek dan waktu pemotretan
Letak obyek berkaitan dengan lintang dan bujur. Letak lintang menentukan besarnya sudut datang sinar matahari.  Waktu pemotretan juga mempengaruhi sudut datang sinar matahari. Waktu pemotretan pada siang hari cenderung akan menghasilkan rona yang lebih terang dibandingkan dengan pemotretan pada sore/pagi hari.

2. Bentuk
Bentuk merupakan ciri objek yang dapat dengan jelas telihat sehingga mudah untuk mengenali objek berdasarkan bentuk objek, misalnya adalah lapangan sepak bola yang terlihat berbentuk elips atau rumah yang rata-rata memiliki bentuk persegi panjang. 

Bentuk merupakan variabel kualitatif yang mencerminkan konfigurasi atau kerangka obyek. Bentuk merupakan atribut yang jelas dan khas sehingga banyak obyek-obyek di permukaan bumi dapat langsung dikenali pada saat interpretasi citra melalui unsur bentuk saja. Berkaitan dengan bentuk, terdapat dua istilah bentuk yaitu bentuk umum atau luar (shape) dan bentuk rinci (form).

Ada dua istilah mengenai bentuk, yaitu :
a. Shape (bentuk umum/luar)
Merupakan bentuk secara umum atau dapat dikatakan “bentuk sekilas” dari suatu obyek. Bentuk umum melihat ciri khas suatu obyek secara umum, misal: Gunung dengan type strato berbentuk kerucut jika foto udara yang digunakan  berskala kecil.

b. Form (bentuk rinci)
Form merupakan bentuk yang bersifat lebih rinci, maksudnya dalam  bentuk umum suatu obyek masih ada bentuknya yang terlihat lebih rinci, misal : Jika gunung berapi dengan tipe strato diamati dengan menggunakan foto udara yang berskala lebih besar maka kelihatan bahwa sebenarnya bentuknya tidak mutlak kerucut, tetapi masih ada bentuk-bentuk lain yang lebih rinci. 
Contoh bentuk rinci :
  • pada lereng gunung tersebut terdapat aliran sungai yang memanjang menuruni lereng.
  • terdapat patahan-patahan sehingga membentuk puncak-puncak kecil, jurang dan lembah.
Baik bentuk luar maupun bentuk rinci keduanya merupakan unsur interpretasi yang penting. Banyak bentuk yang mempunyai ciri khas sehingga mempermudah pengenalan obyeknya pada citra. Contoh-contoh obyek yang dapat dikenali menurut bentuknya misalnya :
  • Gedung sekolah pada umumnya memiliki bentuk seperti huruf I, L, U dan persegi panjang atau kotak.
  • Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon kerucut berbentuk  kerucut dan tajuk pohohn bambu seperti buu-bulu.
  • Bekas Meander sungai yang terpotong dapat dikenali sebagai dataran rendah yang berbentuk tapal kuda dan kadang berisi air yang menjadi danau tapal kuda (danau oxbow).
  • Lapangan sepakbola yang memiliki lintasan lari berbentuk elips, sedangkan yang tidak memiliki lintasan lari akan berbentuk persegi panjang.
bentuk sekolah seperti huruf U dan L

bentuk tajuk kelapa sawit seperti bintang (*)

3. Ukuran
Ukuran ini berkaitan dengan skala citra, bisa berupa luas, panjang, tinggi atau volume. Ukuran juga merupakan faktor pengenal objek yang dapat digunakan untuk membedakan obyek yang sejenis yang ada pada citra. Misalnya ukuran lapangan sepak bola memiliki ukuran yang lebih luas dibandingkan dengan lapangan tenis.


4. Tekstur
Tekstur dalam interpretasi citra dinyatakan berdasarkan tingkatan kasar atau halus atau sedang suatu obyek. Tekstur merupakan pengulangan rona pada suatu kelompok obyek. Misalnya perairan memiliki tekstur yang halus sedangkan pepohonan memiliki tekstur yang kasar.

Contoh lainnya adalah tanaman padi memiliki tektur yang halus dan lahan yang tengah ditanami tebu memiliki tekstur yang sedang

5. Pola
Pola merupakan tingkat kecenderungan bentuk suatu objek dan bisa menjadi pertanda akan adanya objek lain baik itu hasil dari bentukan manusia (buatan) ataupun alami. Contoh, kita kenal dengan beberapa pola aliran sungai, salah satunya adalah pola aliran sungai trellis, ini bisa menunjukkan bahwa di lokasi tersebut terdapat lipatan.

Contoh lainnya adalah pola pemukiman yang berkelompok yang mengindikasikan adanya mata air atau pola pemukiman menyebar yang ada di daerah karst atau pola pemukiman memanjang yang ada di di dekat jalan atau pantai.
 



6. Bayangan
Bayangan memiliki sifat menyembunyikan kedetailan suatu objek yang berada di area yang gelap. Namun begitu, bayangan ini juga merupakan kunci penting dalam pengenalan obyek. Misalnya adalah lereng yang terjal akan terlihat lebih jelas dengan adanya bayangan.

7. Situs
Situs ini merupakan posisi suatu obyek terhadap obyek yang lain yang ada di sekitarnya. Misalnya adalah pemukiman yang memiliki pola linier dengan mengikuti panjang jalan atau pantai dan sekolah yang berada di dekat lapangan sepak bola.

8. Asosiasi
Asosiasi merupakan keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek yang lainnya. Contoh dari asosiasi ini adalah 

  • keberadaan stasiun kereta api yang berasosiasi dengan rel kereta api.
  • bandara diasosiasikan dengan pesawat
  • lapangan sepak bola dengan kenampakan gawang

kenampakan bandara ditandai dengan objek pesawat


9. Konvergensi Bukti
Konvergensi bukti ini adalah menggunakan beberapa unsur interpretasi citra sehingga bisa mempersempit ruang lingkup yang mengarahkan pada kesimpulan obyek tertentu. Misalnya ada obyek yang berbentuk kotak dengan tekstur halus dan bentuknya teratur, bisa mengindikasikan bahwa objek tersebut adalah sawah.




PERLU DIINGAT SEKALI LAGI !!!

Baca: 

Sabtu, 18 Agustus 2018

Citra Penginderaan Jauh

Gambar yang merupakan hasil dari penginderaan jauh disebut dengan citra. Adapun arti dari citra itu sendiri adalah gambaran yang tampak dari suatu objek yang diamati sebagai hasil dari proses perekaman sensor ataupun alat pemantau lainnya. 

Menurut Simonett, 1983 yang dimaksud dengan citra (image) adalah gambaran objek yang dibuahkan oleh pantulan atau pembiasan sinar yang difokuskan dari sebuah lensa atau cermin. Secara umum citra penginderaan jauh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu citra foto dan citra non foto:

1) Citra Foto
Citra foto adalah citra objek yang merupakan hasil dari pemotretan kamera.

Berdasarkan spectrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat dibedakan sbb:
  • Foto ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum ultraviolet dengan panjang gelombang 0,1 – 0,4 mikron.
  • Foto ortokromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum sinar tampak. Mulai dari warna biru sampai warna hijau dengan panjang gelombang 0,4 – 0,56 mikron.
  • Foto pankromatik, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak mulai dari warna merah sampai warna ungu dengan panjang gelombang 0,4 – 0,7 mikron.
  • Foto inframerah, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum inframerah dengan panjang gelombang 0,7 – 30,0 mikron.

Berdasarkan sumbu kamera yang digunakan citra foto dibedakan atas:
  • Foto vertikal, yaitu citra foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap objek di permukaan bumi.
  • Foto miring/condong, yaitu citra foto yang yang dibuat dengan menggunakan sumbu kamera yang condong dan membentuk sudut terhadap objek di permukaan bumi

Berdasarkan jenis kamera yang digunakan, citra foto dapat dibedakan sebagai berikut:
  • Foto tunggal, yaitu citra foto yang dihasilkan dari kamera tunggal
  • Foto jamak yaitu citra foto yang dibuat pada waktu yng sama dan meliput daerah yang sama pula.

Berdasarkan jenis wahana yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas:
  • Foto udara, yaitu citra yang alat perekam/sensornya menggunakan wahana balon udara ataupun pesawat terbang.
  • Foto satelit, perekaman sensor dengan menggunakan wahana satelit.


2) Citra non foto
Citra non foto adalah foto yang dibuat dengan menggunkan sensor non kamera. Gambarnya diperoleh dengan menggunakan penyinaran scanner. Citra non foto dapat dibedakan berdasarkan:

Spektrum gelombang elektromagnetik:
  • Citra inframerah termal, yaitu citra yang terbentuk dari penyerapan spectrum inframerah termal.
  • Citra gelombang mikro, yaitu citra yang terbentuk dari penyerapan gelombang mikro.
  • Citra radar, yaitu citra yang dibuat dari sumber tenaga buatan.
 
 
citra radar 

 
citra infra red

Jenis sensor
  • Citra tunggal, yaitu citra yang dibuat melalui sensor tunggal.
  • Citra jamak, yaitu citra yang dibuat melalui sensor jamak

Jenis wahana
  • Citra dirgantara, citra yang dibuat dari wahana yang berada di atmosfer (bukan ruang angkasa).
  • Citra satelit, citra yang dibuat dari wahana yang berada di luar angkasa (antariksa).

Berdasarkan penggunaanya citra satelit dibedakan atas:
  • Citra satelit untuk penginderaan planet. Contoh: Citra satelit Viking (AS), Citra satelit Vanera (Rusia).
  • Citra satelit untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS), Citra Meteor (Rusia)
  • Citra satelit untuk penginderaan SDA. Contoh: Landsat (AS), Soyuz (Rusia), SPOT (Perancis)
  • Citra satelit untuk Oseanografi (kelautan). Contoh: Citra Seasat (AS), Citra MOS (Jepang)
Baca Lebih Lanjut: Interpretasi Citra

Posisi Strategis Indonesia

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan