Kamis, 17 September 2026

Contoh Soal TKA Geografi Materi Potensi SDA

Konektivitas Ekologis dan Manfaat Multidimensi Sumber Daya Kemaritiman Indonesia

Indonesia menyimpan potensi ekosistem pesisir dan laut yang sangat kaya, salah satunya adalah ekosistem hutan mangrove yang tumbuh di wilayah pantai tropis yang dipengaruhi oleh dinamika pasang surut air laut. Ekosistem ini menyediakan tiga kategori manfaat utama: fisik, ekonomi, dan biologis. Secara fisik, mangrove berfungsi mencegah erosi pesisir, menahan abrasi air laut, serta menyaring limbah beracun. Dari segi ekonomi, mangrove dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, sumber kayu, dan kawasan destinasi wisata. Adapun secara biologis, mangrove berperan vital sebagai tempat pemijahan (spawning ground) dan perkembangbiakan biota laut, habitat burung, serta garda depan penyedia sumber plasma nutfah.

Di samping ekosistem pesisir, Indonesia memiliki potensi perikanan melimpah yang tergolong sebagai sumber daya alam terbarukan. Wilayah perairan Indonesia kaya akan potensi perikanan pelagis, baik skala kecil maupun besar. Ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang melimpah di wilayah perairan Indonesia bagian timur. Di samping perikanan tangkap di laut lepas, masyarakat pesisir Indonesia juga aktif memanfaatkan potensi akuakultur melalui budi daya spesies pesisir seperti ikan bandeng dan udang guna mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi lokal.

Ekosistem penunjang lainnya yang berinteraksi di kawasan dangkal adalah padang lamun, yaitu kelompok tumbuhan yang telah beradaptasi penuh untuk hidup terendam dalam air laut hingga kedalaman empat meter. Lamun tumbuh optimal pada substrat lumpur, pasir, kerikil, pecahan kerang, serta kawasan intertidal (pasang surut). Pertumbuhan lamun yang memadat membentuk hamparan padang luas yang menjalankan fungsi ekologis penting: sebagai tempat habitat dan perlindungan biota laut, pendaur zat hara (nutrien) di perairan, serta penangkap/penstabil sedimen pesisir.

Ekosistem kemaritiman Indonesia ditopang pula oleh keberadaan terumbu karang, yaitu struktur kapur yang dihasilkan organisme alga berkapur dan karang batu. Indonesia memiliki terumbu karang terluas dan terkaya di dunia, seperti yang disajikan pada keindahan bawah laut Taman Nasional Bunaken. Kekayaan hayatinya mencakup 590 jenis karang, 2.500 jenis moluska, 1.500 jenis udang-udangan, dan 2.500 jenis ikan. Ekosistem ini tersebar di kawasan Indonesia bagian tengah dan timur (Papua, Sulawesi, Lombok, Bali), Kepulauan Riau, serta pantai barat dan ujung Sumatra. Secara ekologis, karang berfungsi meredam gelombang dan mencegah abrasi. Secara ekonomi dan sosial-ekonomi, karang menjadi destinasi wisata bahari, bahan obat-obatan, sumber makanan (seperti alga, udang karang, teripang, kerang mutiara), serta sumber penghasilan utama bagi nelayan.

SUMBER REFERENSI BACAAN

Petambak di suatu daerah pesisir berencana membabat habis kawasan hutan mangrove dan padang lamun untuk dijadikan tambak udang skala besar. Berdasarkan stimulus bacaan di atas, tentukan apakah setiap pernyataan berikut BENAR atau SALAH terkait dampak ekologis dan ekonomis dari rencana tersebut!

Contoh soal TKA Geografi Materi SDA

Dilema Integritas Nilai dan Kualitas SDM dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Keberadaan sumber daya alam (SDA) memainkan peran vital sebagai pilar utama penyokong kelangsungan hidup manusia dan penggerak roda perekonomian suatu bangsa. Sumber daya alam mencakup seluruh potensi benda mati maupun makhluk hidup dalam kesatuan ekosistem, baik yang bersifat hayati maupun nonhayati. Namun, ketersediaan SDA yang melimpah tidak serta-merta menjamin kemakmuran jangka panjang suatu negara apabila pemanfaatannya tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan fisik yang rasional dan terukur.

Tingkat pemanfaatan SDA sangat bergantung pada kapasitas dan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelolanya. Manusia dengan kualitas SDM yang tinggi dituntut untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi alam secara cerdas, inovatif, dan bijaksana. Pemanfaatan yang cermat menuntut keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan ekonomi masa kini dan pemeliharaan daya dukung ekologis. Tanpa adanya SDM berwawasan lingkungan, kelimpahan alam justru berisiko mengalami keretakan fungsi ekosistem (ecological breakdown).

Dalam pengelolaannya, SDA memiliki dimensi nilai fundamental yang saling bertautan dan menentukan tingkat keutamaan pemanfaatannya. Nilai hukum hadir sebagai koridor dan tolok ukur regulatif guna memberikan kepastian serta pertimbangan hukum atas perlindungan eksploitasi alam. Sementara itu, nilai etika menekankan tindakan moral melestarikan keberadaan SDA demi menjaga ketersediaan sumber daya bagi kesejahteraan generasi mendatang. Kedua nilai ini menjadi pemerhati utama agar dorongan eksplorasi alam tidak melampaui ambang batas aman.

Di sisi lain, nilai ekonomi memosisikan SDA sebagai komoditas berdaya jual tinggi (seperti produk perkebunan, pertambangan mineral, dan pertanian) yang berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat dan devisa negara. Berdampingan dengan nilai ekonomi, terdapat nilai estetika yang berfokus pada apresiasi terhadap keindahan lanskap alam seperti danau, pantai, dan pegunungan. Keempat nilai ini menuntut penyelarasan yang proporsional; pengutamaan satu nilai secara berlebihan dengan mengabaikan nilai lainnya akan memicu ketimpangan tata kelola SDA.

SUMBER REFERENSI BACAAN

  • Regulasi Nasional: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Prinsip Pembangunan Berkelanjutan & Instrumen Hukum Lingkungan).
  • Modul Resmi: Kemendikbudristek (2022). Geografi SMA/MA Kelas XI: Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan.
  • Jurnal Akademis: Jurnal Sumber Daya Alam dan Lingkungan (JSDAL), "Analisis Keseimbangan Nilai Ekonomi dan Etika Lingkungan dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi".

Pertanyaan:
Sebuah pemerintah daerah mengizinkan konversi kawasan hutan lindung perbukitan menjadi tambang batu kapur dan pabrik semen komersial. Proyek ini mempekerjakan ribuan tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan daerah secara drastis. Namun, aktivitas pengerukan ini menghilangkan pemandangan buatan alam yang indah, memicu ancaman krisis air bersih jangka panjang bagi pemukiman sekitar, serta melanggar zona resapan air yang dilindungi undang-undang daerah.

Berdasarkan stimulus di atas, manakah kesimpulan kritis yang paling tepat menggambarkan dinamika tata kelola sumber daya alam pada kasus tersebut?

Question 1
Answer
a.

Kebijakan tersebut mencerminkan keunggulan kualitas SDM daerah karena berhasil mengoptimalkan nilai ekonomi SDA tanpa menimbulkan dampak negatif pada fungsi ekologis.

b.

Proyek pertambangan tersebut berhasil menyeimbangkan nilai estetika dan nilai ekonomi karena kawasan pabrik semen menciptakan keindahan arsitektur modern di wilayah perbukitan.

c.

Eksploitasi kawasan perbukitan tersebut menunjukkan kegagalan kualitas SDM dalam memanfaatkan alam secara bijaksana, akibat dominasi kepentingan nilai ekonomi yang mengorbankan nilai estetika dan daya dukung lingkungan.

d.

Pemerintah daerah melakukan pengabaian terhadap nilai hukum dan nilai etika, karena melanggar regulasi perlindungan zona resapan air serta mengancam keberlangsungan pasokan air bagi generasi mendatang.

KUNCI JAWABAN
B dan D

PEMBAHASAN SOAL (ANALISIS PENALARAN KRITIS)
Analisis Opsi A (SALAH):

Alasan Literasi: Paragraf 2 menegaskan bahwa SDM berkualitas tinggi harus memanfaatkan SDA "secara cerdas dan bijaksana tanpa mengorbankan fungsi ekologisnya."

Daya Nalar: Pembukaan tambang yang memicu krisis air bersih dan merusak zona resapan air membuktikan bahwa fungsi ekologis telah dikorbankan. Berarti, ini bukan cerminan keunggulan SDM yang bijaksana.

Analisis Opsi B (BENAR):

Alasan Literasi: Paragraf 3 menjelaskan bahwa nilai hukum berkaitan dengan kepatuhan pada regulasi/perundang-undangan perlindungan SDA, sedangkan nilai etika mengacu pada pelestarian lingkungan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Daya Nalar: Pelanggaran terhadap undang-undang zona resapan air jelas mengabaikan nilai hukum. Sementara itu, timbulnya krisis air bersih bagi pemukiman lokal di masa depan merupakan bentuk pengabaian terhadap nilai etika pelestarian lingkungan.

Analisis Opsi C (SALAH):

Alasan Literasi: Paragraf 4 mendefinisikan nilai estetika sebagai "apresiasi terhadap keindahan lanskap alam seperti danau, pantai, dan pegunungan."

Daya Nalar: Pengerukan perbukitan dan pembangunan pabrik semen merusak keindahan lanskap alam perbukitan tersebut. Mengganti lanskap alam dengan bangunan pabrik bukanlah bentuk pemenuhan nilai estetika SDA menurut definisi literasi.

Analisis Opsi D (BENAR):

Alasan Literasi: Paragraf 2 menyatakan bahwa tanpa SDM yang bijaksana, pemanfaatan alam berisiko mengalami kerusakan. Paragraf 4 menyimpulkan bahwa mengutamakan satu nilai secara berlebihan (misal: nilai ekonomi saja) memicu ketimpangan.

Daya Nalar: Keputusan mengejar keuntungan pendapatan daerah (nilai ekonomi) dengan merusak pemandangan buatan alam (nilai estetika) dan mengancam air bersih menunjukkan ketidakseimbangan tata kelola serta kegagalan SDM dalam mengelola alam secara bijaksana.

Contoh Soal TKA Geografi Materi Potensi SDA

Konektivitas Ekologis dan Manfaat Multidimensi Sumber Daya Kemaritiman Indonesia Indonesia menyimpan potensi ekosistem pesisir dan laut yang...

Chiba University, Japan

Chiba University, Japan