
Tumbuhan yang diolah menjadi teh oleh ketiga siswa ini memiliki nama lengkap bajakah tampala. Nama ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yaitu Spatholobus Littoralis Hassk. Spatholobus adalah genus tumbuhan yang merambat di pohon kayu dari suku Phaseoleae. Genus ini ditemukan pada 1842 oleh ahli Botani asal Jerman bernama Justus Karl Hasskarl. Ada 29 spesies dari genus Spatholobus Hassk yang sebagian besar tersebar di hutan tropis Indonesia (The Genus Spatholobus Hassk in Thailand, Jurnal Tropical Natural History, 2014, hlm 87).

Sebelum populer seperti sekarang, bajakah telah dikenal masyarakat Kalimantan sebagai tumbuhan obat-obatan alami. Di pedalaman Kalimantan Tengah, warga memanfaatkan seluruh bagian tanaman herbal ini. Sementara di Pulang Pisau, Kalteng, tanaman ini dijadikan obat disentri dan obat pegal, selain obat luka.
Batang bajakah tampala disebut mampu menghentikan pendarahan pada luka. Dalam uji ilmiah, batang bajakah tampala memang positif mengandung senyawa fenolik, flavonoid, tannin, dan saponin. Saponin dan tannin inilah yang merangsang terjadinya angiogenesis, bagian penting dalam proses penyembuhan luka (Uji Efektivitas Ekstrak Etanolik Batang Bajakah Tampala [Spatholobus littoralis Hassk] terhadap Waktu Penyembuhan Luka, Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 2018, hlm 320).
Penelitian yang dilakukan oleh Akademi Farmasi ISFI Banjarmasin telah membuktikannya. Riset dimulai dengan membagi 24 ekor tikus Wistar dalam enam kelompok acak sebagai hewan uji. Seluruh tikus disayat setelah pembiusan lokal. Luka sayat kelompok pertama tidak diberikan perlakukan apapun. Kelompok kedua diberikan salep. Sedangkan kelompok III, sebagai pembanding, diberikan larutan povidone iodine. Kelompok IV, V, dan VI diberikan salep yang mengandung ekstrak etanolik batang Bajakah Tampala. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak etanol batang bajakah tampala efektif dalam proses penyembuhan luka sayat pada tikus putih jantan. Lama penyembuhan luka sayat relatif lebih baik (hlm 326).

Perlu Penelitian Mendalam

EBM memiliki enam tingkatan. Yang pertama adalah percobaan hewan uji di laboratorium. Dilanjutkan dengan studi kasus dan pendapat ahli. Kedua tingkat ini tidak melibatkan manusia sebagai objek penelitian. Di tingkat inilah, uji cairan kayu bajakah sebagai obat kanker berada.
Tingkat ketiga, empat, dan lima, disebut sebagai studi primer. Di sinilah manusia harus dilibatkan. Tingkat ini memuat studi lapangan atau laporan deskriptif, studi percobaan tanpa penggunaan teknik pengambilan sampel secara acak, studi percobaan yang menggunakan setidaknya satu kelompok pembanding, dan menggunakan sampel secara acak. Sistem ini kemudian ditinjau oleh kelompok cendekiawan. Disambung dengan meta analisa atau pengkajian berbagai penelitian dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Saya sendiri sudah mencoba air rebusan bajakah pada malam hari. Warnanya merah seperti teh. Rasanya agak kelat. Sedikit pahit, namun tak lengket di lidah. Setelah meminumnya, tak ada efek apa pun. Namun, keesokan paginya, badan terasa lebih segar dibanding sebelumnya bahkan rasa kaku di leher, kebas, kesemutan, dan pegal-pegal di pinggang juga hilang.... pokok'e efeknya "wow Amazing" bisa goyang hulahoop lah. Anak pertama saya didiagnosa amandel dan sepertinya setelah mengkonsumsinya juga berdampak positif dan mulai membaik.
Saya sendiri sudah mencoba air rebusan bajakah pada malam hari. Warnanya merah seperti teh. Rasanya agak kelat. Sedikit pahit, namun tak lengket di lidah. Setelah meminumnya, tak ada efek apa pun. Namun, keesokan paginya, badan terasa lebih segar dibanding sebelumnya bahkan rasa kaku di leher, kebas, kesemutan, dan pegal-pegal di pinggang juga hilang.... pokok'e efeknya "wow Amazing" bisa goyang hulahoop lah. Anak pertama saya didiagnosa amandel dan sepertinya setelah mengkonsumsinya juga berdampak positif dan mulai membaik.